10. Terhalang Restu Orang Tua

923 Words
Sepuluh meter dari meja Nayna dan Donatan, ada lelaki yang sedang menggeram menahan emosi dalam hatinya. Dia adalah Chiko, lelaki yang telah menaruh perasaan kepada wanita itu sejak mereka masih kecil. Perasaan yang sampai sekarang masih terus berkembang dan membuat Chiko ingin kembali mendapatkan wanita yang sudah membuatnya jatuh hati. Machiko menatap nanar sosok Nayna yang tengah tersenyum lebar dengan seorang lelaki berparas bule. Chiko mengepalkan tangannya hingga jari-jarinya memutih, lelaki itu memicingkan matanya. 'Jadi dia punya lelaki lain, baiklah aku akan merebutmu darinya babe, ' batin Chiko tersenyum sinis, lelaki itu tidak akan rela wanita yang dia cintai jatuh ke dalam pelukan lelaki lain. "Hai bro lo udah lama nungguin gue?" ucap Varo yang baru datang Chiko mencebikkan bibirnya kesal, karena menunggu Varo yang terlalu lama datang dia harus menjadi penonton adegan romance pasangan di seberang sana.  "Lo lama banget kayak ibu-ibu mau arisan dandannya lama banget," cibir Chiko membuat Varo terkekeh. "Lo tau gue hampir gila deket sama tuh sepupu lo Zola, heran gue gelarnya dokter minta jadi sekretaris gue," keluh Varo sambil menggelengkan kepalanya heran. Chiko menaikkan bahunya, tanda ia juga tidak mengerti jalan pikiran dari sepupunya itu. Zola sepertinya sudah mulai menyukai Varo sejak lama. Makanya wanita itu sangat bersemangat untuk mendapatkan lelaki yang dia incar sejak dulu. Kalau Zola sebagai wanita saja bisa seyakin itu mendaptkan lelaki pujaannya, maka Chiko harus lebih bersemangat untuk mendapatkan wanita pujaannya juga. "Mungkin dia suka lo, lo harusnya lebih peka jadi lelaki," dengus Chiko memberikan masukan kepada Varo. Varo hanya melongo mendengar penuturan dari sahabat sekaligus patner bisnisnya itu, dia menimpuk kepala Chiko. "Lo tidak usah mikir yang aneh-aneh deh, mana mungkin Zola menyukaiku," ucapnya menatap sinis kearah Chiko. Varo mengedarkan pandangannya, matanya terhenti pada sebuah meja di pinggir kolam buatan. Di tatapnya wanita yang baginya sudah tidak asing lagi, dia menaikkan satu alisnya. "Bukankah itu Nayna?" Tanya Varo memicingkan matanya. Chiko mengangguk membenarkan, niat hatinya ingin membicarakan urusan bisnis mereka berdua jadi berantakan. Mood Chiko sudah tidak baik lagi untuk membahas tentang bisnis.  "Hahaha lo kalah telak broo , adik gue udah punya pacar," kekeh Varo mengejek Chiko. "Kan baru pacar, sebelum janur kuning melengkung aku masih punya harapan," ucapnya penuh semangat, semangat yang tidak akan padam sebelum mendapatkan hati wanita itu. Varo terkekeh, padahal tadi dirinya berniat mengajak Nayna makan malam bersama sebagai karyawannya. Tapi Chiko melarang Varo, mengira Nayna pasti sudah lelah bekerja pertama kali bersama Varo. Chiko meminta Varo untuk mengirimkan pesan kepada Nayna bahwa wanita itu boleh pulang lebih cepat. Kalau saja Chiko tahu karena meminta Nayna pulang lebih awal membuat wanita itu makan malam dengan kekasihnya, mungkin Chiko akan meminta Varo menahan Nayna sampai tengah malam hingga wanita itu tidak memiliki waktu berduaan dengan kekasihnya. “Lain kali jangan biarkan Nayna pulang lebih awal, berikan aja dia tugas sebanyak mungkin,” ucap Chiko menahan kekesalnya melihat Nayna tertawa dengan lelaki lain, bukannya dengan dirinya. Varo menatap Chiko heran, “Cemburu memang membutakan,” ejek Varo menggelengkan kepalanya. * Nayna bernyanyi kecil memasuki rumahnya, hatinya berbunga-bunga seperti remaja yang baru saja ditembak lelaki yang dia cintai. Senyum tak lepas dari bibir ranumnya yang menggoda iman kaum adam itu. Nayna memejamkan matanya, membayangkan betapa beraninya Donatan mengutarakan niatnya untuk ke jenjang yang lebih serius dengan Nayna. Nayna hanya meminta kepada lelaki itu untuk menemui orang tuanya lagi, meminta restu kepada Sisil dan Nata. Karena sebuah hubungan tidak akan berjalan baik tanpa restu dari keluarga. "Dari mana saja ?" Tanya Nata yang masih menonton televisi. Tubuh Nayna menegang, wanita itu menoleh kearah daddynya. "Em..makan malam dengan Donatan dad," jawab Nayna gugup memainkan jari-jarinya. Nata menatap tajam Nayna, ayah dua anak itu melihat ponselnya yang kini menunjukkan pukul  11 malam. "Makan malam sampai jam sebelas? Memangnya Donatan tidak punya sopan santun? Seharusnya dia pamit dengan orang tua kamu. Daddy dan mommy dari tadi cemas mencarimu, ponselmu mati tidak bisa dihubungi, " ucapnya dengan nada tinggi membuat Nayna mengkerut ketakutan. Nata berdiri dari tempat duduknya, lelaki itu menatap Nayna dengan marah. Setidaknya, Nayna bisa berpamitan dengan orang tuanya lewat telepon kan? "Tapi tadi daddy dan mommy tidak ada di rumah, Nayna juga sudah berpesan kepada Valeria untuk memberitahu kalian," jelas Nayna meskipun kegugupan merundungnya. "Apakah itu alasanmu Nay ? Kamu bisa menelpon salah satu diantara kami," bentak Nata membuat Nayna menunduk merutuki kesalahannya. "Maafkan Nayna, daddy," ucap Nayna menyadari kesalahan apa yang sudah dia perbuat. Sisil dan Nata pasti sangat khawatir dengannya, dan Nayna tidak sempat mencharger ponselnya karena terburu-buru pergi makan malam bersama Donatan. “Daddy, biarkan Nayna istirahat,” ucap Sisil menengahi ketegangan antara suami dan putrinya. Sisil menatap tajam kearah Nayna, bukankah dia sudah bilang kalau Sisil tidak menyukai lelaki itu? Kenapa Nayna masih nekat berhubungan dengan si donat yang dari wajahnya saja terlihat bukan lelaki baik-baik. "Masuklah ke kamarmu," ucap Sisil terdengar begitu marah. Nayna mengangguk dan berlari menuju kamarnya, wanita itu menutup pintu kamarnya dengan kencang hingga dindingnya berdentum . Nayna mendengus, dia melempar high heelsnya ke sembarang tempat. "Salah lagi salah lagi," keluh Nayna membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Nayna sendiri tidak tahu, kenapa orang tuanya sangat tidak suka dengan Donatan. Mungkinkah orang tuanya berniat menjodohkan Nayna dengan anak salah satu kolega bisnis mereka demi memperkuat jaringan bisnis mereka? Tapi perusahaan keluarganya sudah sangat besar, banyak pengusaha pemula yang mati-matian ingin bekerja sama dengan mereka. Rasanya tidak mungkin Sisil dan Nata merencanakan perjodohan putrinya. Apalagi ini sudah era modern, perjodohan hanya kisal drama klise yang menurut Nayna tidak masuk akal. Bagaimana bisa manusia dipaksa menikah dan hidup satu atap dengan seseorang yang tidak mereka cintai?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD