"Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini."
Luna menatap ke sekelingnya, sembari mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Akibat cengkraman tangan Dirga, adik tiri dari mendiang sang ibu yang baru saja meninggal akibat kecelakaan.
Mata sipit Luna mengarah kepada pria di sampingnya. "Aku gak mau!"
Dirga menyeringai, lantas melangkah maju mendekati Luna.
"Ini bukan sebuah pilihan, Luna. Tetapi keharusan."
"Aku bisa tinggal sendirian di rumahku!" sahut Luna masih keukeh menolak.
"Rumahmu? Rumah mana yang kau maksud, huh?"
Gadis itu tertegun. Apa maksud dari perkataan Dirga barusan?
Dengan wajah yang masih bingung, Luna kembali memberikan jawaban. "Tentu saja rumah keluarga Sucipto."
Seketika pria di hadapan gadis itu pun terkekeh kecil. Tangannya menyentuh kening, seolah tengah mengejek seseorang yang berdiri di hadapan keponakannya tersebut.
"Apa tidak ada yang memberitahumu sebelumnya?" tanya Dirga.
"Apa?" tanya gadis itu tidak mengerti.
Sejenak, Dirga menghela napas panjang.
"Rumah itu sudah dijual, untuk melunasi hutang-hutang keluarga Sucipto yang ditinggalkan oleh ayahmu, Luna."
"Apa?! Enggak! Itu gak mungkin!" elak Luna dengan bersikeras.
Selama ini, hidup keluarga Sucipto selalu baik-baik saja. Ayah maupun ibunya tidak pernah terlihat seperti sedang kesulitan keuangan. Bahkan ayahnya merupakan pebisnis andal. Jadi, rasanya sangatlah mustahil sang ayah pergi dengan meninggalkan hutang.
Dirga menyentuh kedua pundak Luna. Mungkin, gadis itu akan sangat kebingungan dan sulit untuk memahami semuanya. Terlebih, kejadian ini memang begitu mendadak.
"Aku tau tidak akan mudah bagimu untuk percaya. Tapi itulah kenyataannya Luna. Semua ini memang sudah lama terjadi dalam keluargamu. Dan ada satu hal lagi yang harus kau ketahui," tutur Dirga menjelaskan, serta menggantungkan cerita di akhir kalimat.
Luna seolah tersadar kembali, lantas menatap bola mata coklat milik sang paman. Terasa teduh, tetapi sedikit berbahaya.
"Apa? Apa lagi yang belum aku tau selain itu, Om?"
"Masih banyak musuh-musuh ayahmu di luar sana yang sedang mengintai kita. Terutama kau, Luna."
"Aku?"
"Ya. Karena mereka berpikir bahwa kau akan menjadi ancaman bagi mereka, setelah kematian orang tuamu. Hanya kau yang tersisa dari keluarga Sucipto. Jadi ku pastikan mereka akan mengincar nyawamu, Luna."
Semua ini semakin terasa tidak masuk akal menurut gadis itu. Mengapa harus dirinya? Ia hanyalah gadis delapan belas tahun yang tidak mengerti apa-apa soal bisnis.
Dirga kembali menegakkan badannya. Sedikit menjauh dari Luna. "Masuklah ke kamarmu. Kau akan aman di sini."
"Enggak, Om. Aku harus kembali ke rumah itu. Semua ini gak mungkin."
Setelah mengatakannya, Luna hendak melangkah pergi. Namun, segera dicegah oleh Dirga.
"Di luar sangat berbahaya, Luna."
"Lepasin tangan aku, Om! Aku gak takut sama mereka. Aku akan cari tau sendiri, siapa yang udah berusaha buat celakain keluarga aku!"
"Jangan bodoh, Luna. Mereka pasti akan membunuhmu," ucap Dirga sedikit meninggikan volume suaranya.
Terdengar rintik hujan mulai turun di luar sana. bersamaan dengan guntur yang terdengar saling bersahutan. Hingga memperlihatkan beberapa kilatan petir yang mungkin baru saja menyambar ke bumi.
Perdebatan di antara keduanya semakin memanas. Luna menghempas kasar genggaman tangan Dirga yang masih terus berusaha untuk menahannya.
"Lepasin tanganku!" bentak Luna yang akhirnya berhasil terlepas.
Tanpa menunda waktu lagi, Luna segera bergegas pergi.
"Luna!" panggil Dirga, "ck! Anak itu benar-benar keras kepala!"
Terpaksa Dirga harus menggunakan cara kasar. Pria itu melangkah cepat menyusul Luna yang sudah hampir sampai ke depan pintu.
Dirga segera menarik tubuh mungil Luna. Lantas menggendongnya bak tengah membopong sekarung beras di pundaknya.
Di sisi lain, Luna yang bahkan tak sempat menghindar pun seketika menjerit. Terkejut, karena tiba-tiba saja tubuhnya sudah melayang dengan posisi kepala yang menjurus ke bawah.
"Hey! Apa yang Om lakukan? Cepat lepaskan aku!" teriak Luna, memukul punggung Dirga agar pria itu mau melepaskannya.
"Diam, atau aku akan bertindak kasar padamu, Luna."
"Apa kau gila? Cepat turunkan aku!"
Dirga tak lagi menanggapi ocehan gadis itu dan segera membawa Luna ke kamarnya.
Bruk!
"Aww!" erang Luna, setelah tubuhnya dijatuhkan begitu saja ke atas kasur oleh Dirga.
"Diam di sini dan beristirahatlah!" tegas Dirga, supaya Luna tidak lagi berusaha untuk kabur.
Setelah sang paman keluar, Luna kembali berdiri. Ia hendak membuka pintu untuk keluar dari kamar. Namun, tanpa ia duga ternyata Dirga sengaja mengunci pintu tersebut.
Pria itu benar-benar berniat untuk mengurung Luna di sini.
"Sial!" Umpat gadis itu dengan kesal.
Sepatu yang masih melekat di kakinya, melangkah ke sana-kemari. Memikirkan cara supaya dirinya bisa kelaur dari sini.
Tujuan Luna ingin kembali ke kediaman Sucipto hanya untuk mencari tahu kebenaran, tentang kematian seluruh anggota keluarganya.
Siapa musuh sang ayah? Hingga mereka tega merenggut nyawa keluarga Sucipto.
Dia juga harus mencari tahu, mengenai semua yang terjadi belakangan ini kepada mendiang sang ayah.
Jika Luna berhasil kembali ke kediaman Sucipto, maka mungkin saja ia bisa menemukan sebuah petunjuk. Walaupun sekadar petunjuk kecil, tetapi ia yakin semua itu pasti akan sangat bermanfaat untuknya.
"Sekarang aku malah terjebak di sini. Om Dirga beneran gak akan biarin aku pergi dari rumah ini dengan mudah. Sekarang aku harus apa?" gumam gadis itu.
Seketika ia teringat dengan salah satu teman sekolahnya. Luna segera mengambil ponsel dan menghubungi temannya tersebut.
"Ya, Luna. Ada apa?"
"Bisa tolongin aku enggak, Del? Aku butuh bantuan kamu sekarang," pinta Luna kepada Adel, orang yang sedang dirinya hubungi saat ini.
"Eum ... emang kamu mau minta tolong apaan?"
"Gini, aku sekarang lagi ada di rumah Om-ku. Nah, dia ngurung aku di sini dan gak kasih izin buat keluar rumah. Aku butuh bantuan kamu, biar kamu bisa jemput aku ke sini. Bisa, 'kan?"
"Hah? Maksudnya, kamu lagi diculik apa gimana?"
"Panjang ceritanya, Del. Aku gak bisa ceritain sekarang. Tapi aku bener-bener harus pergi dari sini. Karena ada hal yang harus aku selesaiin di rumahku sendiri."
"Iya tapi aku bingung. Gimana caranya aku bisa bawa kamu pergi dari sananya coba? Apa lagi, Om kamu bukannya serem, ya?"
"Udah, soal itu gampang. Yang penting kamu sekarang ke sini. Tunggu aku di depan pagar."
"Oh, oke deh kalo gitu. Jangan lupa share loc tempatnya, ya."
"Oke. Aku share lokasinya sekarang. Makasih, ya, Del."
"Yoi."
Sambungan telepon berakhir. Luna buru-buru membagikan lokasinya saat ini kepada Adel melalui w******p. Setelah itu, tugasnya kini berganti menjadi memikirkan cara agar dirinya bisa keluar dari sini, tanpa ketahuan oleh Dirga.
Sekian lama berpikir, akhirnya ide terbaik menurut Luna jatuh kepada jendela kamarnya.
Namun, ia sempat ragu saat melihat betapa tingginya bangunan tersebut. Jika dirinya nanti sampai terjatuh, maka bisa dipastikan nyawanya akan ikut melayang.
"Oke, Luna. Kamu harus bisa. Semua ini demi bisa mengungkap kebenaran. Kamu gak boleh nyerah!" tutur gadis itu menyemangati dirinya sendiri.
Ia menyambungkan beberapa selimut untuk dijadikan tali. Lantas mengikatnya ke pinggir balkon. Kemudian perlahan bergelantungan agar bisa turun.
Namun sialnya, tubuh Luna justru ambruk dan membentur tanah dengan cukup keras. Hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Aww! Sakit."
Tidak ada waktu untuk meratapi diri sendiri. Jadi Luna segera bangkit berdiri, lantas berjalan perlahan menuju pintu gerbang.
"Nona Luna, Anda mau pergi ke mana?"
Deg!
Jantung Luna seketika terasa ingin melompat keluar. Ia merutuki dirinya yang lupa jika pengamanan di rumah ini dijaga dengan ketat.
Perlahan ia berbalik badan, melihat seseorang yang baru saja menghentikan langkahnya.
Damn!
Sosok Niko—tangan kanan Dirga, sedang berdiri tidak jauh dari gadis itu.
"A-aku mau pergi sebentar," jawab Luna asal.
"Maaf, Nona. Tuan Dirga tidak mengizinkan Nona untuk keluar dari rumah ini."
"Cuma sebentar. Aku cuma mau ke dokter bentar, kok." Alibi gadis itu.
"Sebaiknya Nona menunggu Tuan Dirga untuk mengantarkan Nona."
"Enggak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
"Tapi, Nona—"
"Biar ku antarkan!"
Tubuh gadis itu semakin terasa membeku di tempat, setelah mendengar suara familiar dari arah belakangnya.
Ya. Suara berat itu milik Dirga. Entah sejak kapan pria tersebut berdiri di sana. Tiba-tiba saja sosoknya muncul di belakang Luna.
"Jadi, bagian mana yang sakit, huh?"
Deg!