Unexpected

2178 Words
Aku menatap iris biru itu mencari kebenaran dari semua kata katanya. Tapi, aku tidak menemukan apa pun. Entah kenapa badanku seolah terhipnotis hingga tidak bisa berbuat apa apa. mulutku pun terasa terkunci. "Aku butuh jawaban di sini Eve", Theo meremas lembut jari kiriku.   Aku mendengar semua orang berteriak kata : terima, terima, terima, terima   Entah setan mana yang menggerakkan kepalaku hingga aku mengangguk. Theo tersenyum lebar, dia menyematkan cincin itu di jari manisku. Dia langsung berdiri dan memelukku erat. Mataku bertemu dengan sosok Jessica. Oh astaga apa yang kulakukan? Dia menatapku tidak percaya, tatapannya begitu terluka seolah aku sudah mengkhianatinya. Sialan, aku memang sudah mengkhianatinya. Dia menangis dan berlari keluar. Aku ingin berlari menghentikannya. Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan Theo, tapi Theo seolah tidak mengijinkanku. Dia melepaskan pelukannya dan mengunci mataku dengan iris birunya itu. Dia mendekatkan bibir nya dan melumat lembut bibirku. Bibirnya terasa manis bercampur tembakau dan mint . Serasa candu buatku, otakku terasa kosong. semua hal yang bergelanyut di kepalaku seolah terbang, hanya ada Theo. Aku sudah jatuh terlalu dalam ke dalam pesona laki laki di depanku ini.   Dia melepaskan lumatannya dari bibirku. Semua orang bertepuk tangan atas kelakuan kami. Dia menyematkan tangan kanannya ke pinggangku. Kami berjalan keluar dari spotlite. Suara DJ menggantikan suara orkestra yang hampir membuatku tertidur. Lagu yang membangkitkan gairah untuk menari mulai mengalun.   Jemy mendatangi kami dengan muka merah padam seperti menahan amarah. Apa yang terjadi dengannya?  "Kita harus bicara",Jemy berkata dengan datar dan dingin. Tatapannya begitu menusuk dan tidak bersahabat. Apa yang terjadi? Bukankah mereka berteman?  Kulihat Theo tidak menampilkan wajah gentar sedikitpun. Dia masih memakai wajah datarnya,"Lebih baik kau pulang duluan Eve, supirku akan mengantarkanmu"  Aku mengernyit menatap Theo,"Tapi.."  Theo melirik ke arahku dan menyeringai,"Sudahlan Eve turuti kata calon suamimu ini".  Mukaku terasa memanas. Theo memanggil dirinya calon suamiku, tidak bisa dipungkiri aku merasa tersanjung, tapi entah kenapa nada suaranya terasa seolah memancing? Theo merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, dia lalu membuat sebuah panggilan,"Kent, antarkan nona Eve pulang. Jemput dia di depan hotel". Theo mematikan telponnya. Dia tersenyum kepadaku.   "Pergilah ke pintu utama Hotel, supirku Kent akan menjemputmu. Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu Eve." Theo mengambil lengan kananku dan mengecupnya. Aku merasa wajahku kembali memanas. Tapi. aku mengangguk dan menatap James.  "Aku pulang dulu James", Aku mengatakannya dengan sangat pelan. Aku lalu meninggalkan mereka berdua.  **************************************************  Bug  Satu pukulan dari tangan kanan James bersarang tepat di pipi mulus Theo. Theo hampir tersungkur karenanya. Dia menyeka darah di pinggir bibirnya, Theo menyeringai,"Pukul terus aku tidak peduli."  James kembali berjalan mendekat dan menghantamkan satu pukulannya kembali. Theo tersungkur. James menduduki Theo dan menarik kerah tuksedo yang dipakai Theo,"Bangun b******k! Lawan aku! Kau pengecut!"  Theo tersenyum pada James," aku tidak perlu membalas, aku tahu aku salah. Tapi aku tidak menyesal"   "b******k!" James menggeram pada sahabatnya itu satu pukulan mendarat lagi di d**a Theo. Wajah Theo yang masih tersenyum dan menyeringai memecik amarah pada diri James. Pukulan beruntun ditujukan pada Theo. tapi Theo tidak membalas, hingga ketika Theo memuntahkan darah dari mulutnya. James mengangkat badannya dan terduduk di rumput halaman hotel itu,"Kenapa? Kenapa harus wanita itu? Kenapa kau melakukannya? Aku mencintainya Ar."   "Karena memang dialah wanita itu"   James tersentak mendengar penuturan Theo. James mengumpat dan bangkita dari duduknya, dia lalu mengambil jasnya yang tadi dia lempar.   "Kau harusnya berterimakasih padaku! Karena aku mau menikahinya. Dia akan menikah dengan orang yang dicintainya. Terimalah James, akulah pria yang dicintainya."  James membalikkan badannya dan berlalu, tapi tiba tiba dia berhenti dan membalikkan badannya,"Tapi kau tidak mencintainya. Jika kamu menyakitinya walau seujung kuku saja aku akan merebutnya aku tidak peduli walaupun kamu adalah sahabatku. Lupakan obsesi gila mu itu, kamu harusnya mendekam di rumah sakit jiwa." James melangkahkan kaki meninggalkan Theo.   Theo terduduk di tanah. Dia merasakan nyeri di tubuhnya, hantaman James di dadanya masih terasa. dia beruntung bukan Joseph yang menghajarnya. Theo mengeluarkan rokok dari sakunya dan menyalakannya. Dia menghirup dalam dan dikeluarkannya,"Sebentar lagi"  **************************************************  "Aku tidak percaya"  Aku menatap Kania yang tidak percaya dengan apa yang kusampaikan,"Aku mengatakan yang sebenarnya Kania, dia melamarku. Lihat cincin ini"   Aku memamerkan cincin yang kuterima dari Theo. Kania menatap cincin itu penuh selidik,"Kathy, bukannya aku melarangmu menikah dengan Theo, tapi apa ini tidak terlalu cepat? Kalian kenal sebulan saja belum? Dan entahlah, aku merasa firasat buruk tentang ini." Kania terduduk di sofa ruang tamu menatap ku dengan sendu. aku lalu duduk di sebelahnya.   "Kania? Tapi, aku mencintainya. Entahlah tapi aku tahu kalau dia adalah jodohku. Aku ingin kau merestuiku Kania"  Kania mengelus pundakku,"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Kathy. Semoga pilihanmu tepat"  "Terimakasih", Aku lalu memeluk Kania.   Aku jadi teringat dengan Jessica, aku melepaskan pelukanku,"Tapi? Bagaimana dengan Jessica?"  "Kau harus berbicara dengannya Kathy. Walau aku tidak menyukainya, tapi dia tetap sahabatmu."   "Aku takut"  Kania tersenyum menenangkan dia menyentuh lenganku dan meremasnya, memberikan kekuatan padaku,"Percayalah semua akan baik baik saja."  **************************************************  Aku berdiri di depan pintu sebuah rumah besar bercat abu. Rumah begitu megah dan terlihat natural dengan nuansa alam. Aku menengokkan sekali lagi kepalaku ke arah mobil honda civic berwarna hitam yang diparkir di halaman untuk meyakinkanku Jessica ada di rumah. Setelah menghembuskan nafas berat, aku memencet bel.   Satu menit  Dua menit  Aku memencet bel lagi  Pintu dibuka menampakan sosok seorang wanita paruh baya memakai seragam pelayan,"Nona Kathy? Ada yang bisa saya bantu?"  "Jessica ada?"  "Ada nona di kamarnya."  Aku mengangguk,"Ya sudah aku langsung ke kamarnya ya". Aku memang sudah terbiasa masuk ke kamarnya bila berkunjung ke rumah besarnya ini.  Aku memasuki rumah ini. Rumahnya tetap sama seperti saat terakhir kali aku berkunjung, mewah tapi dingin.Aku mengetuk sebuah pintu di sebelah kolam renang halaman belakang. Tembok yang terbuat dari kaca terlihat ditutupi tirai bermotif hello kitty.   "Masuk"   Suara Jessica terdengar serak. Aku merasa hatiku dicubit. Aku membuka pintu dan masuk ke kamarnya yang bisa dikatakan sangat kitty. Apa dia tidak sakit mata dengan semua yang serba pink putih itu?   "Kau! Apa yang kau lakukan? Keluar?!"  "Jessica" Kulihat keadaan Jessica sangat mengenaskan mata sembab rambut acak acakan dan wajah pucat. Apa ini karenaku? Aku merasa hatiku seperti dicubit, mataku terasa memanas. Maafkan aku Jessica.   "Kamu mau apa? Mau menertawaiku keadaanku?"  "Tidak Jess, aku aku ingin minta maaf" Aku masih berdiri di dekat pintu masuk, menatap Jessica takut takut. Aku tidak berani mendekat, selain karena rasa bersalah yang mencengkram, bukan tidak mungkin jessica bisa melemparkan lampu atau apapun itu padaku mengingat sifatnya. "Buat apa? Kau tidak perlu minta maaf kalau kau tidak menyesal"   Jessica memalingkan mukanya. Aku memberanikan diri mendengar nada suara Jessica yang sedikit turun. Aku lalu berjalan mendekat dan duduk bersebelahan dengan Jessica di kasurnya yang berbentuk kepala hello kitty? Berapa umur Jessica sebenarnya?  "Jessica, aku aku minta maaf. Aku tau aku salah dengan menerima lamaran Theo"  Kudengar Jessica mendengus.    "Aku mencintainya Jess, aku menerimanya karena aku mencintainya. Maafkan aku karena mencintainya." Aku tertunduk sendu. Ya aku tahu aku salah. Tapi apakah aku salah juga jika ingin mengejar kebahagiaanku?   "Sialan!!"   Aku menatap Jessica yang terlihat gusar.  "Baiklah kau tidak salah. Aku sebenarnya tau kalau dia mencintaimu. Tapi aku selalu menampiknya. Ya, memang aku juga menyukainya. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Kalian saling mencintai."  Aku melihat Jessica mencoba tersenyum padaku.   "Maafkan aku Jess" Yang kulakukan setelahnya adalah aku sudah memeluk Jessica erat dengan air mata membanjiri mataku. Jessica membalas pelukanku erat. Aku bisa mendengar isak kecilnya. Jessica yang kukenal tidak pernah menangis. Membuat hatiku semakin terasa sakit. Setelah waktu yang terasa ajaib itu berlalu, entah kenapa aku merasa bahwa perasaan kami bisa lebih tenang. Kami lalu melepaskan pelukan kami.   "Lagian dia sepertinya adalah pangeranmu. Kau tahu? Kuda putih itu"  Aku tertawa kecil menanggapi candaan Jessica.  "Well, aku masih saja sakit hati padamu Kathy. Tapi aku yakin rasa sakit hati ini akan menghilang seiring berjalannya waktu"   Aku menatap Jessica yang tersneyum padaku. Aku lalu ikut tersenyum,"Terimakasih Jessica"  "Cincin yang indah",Jessica menarik tangan kiriku dan memperhatikan cincin yang membelit di jari manisku.   "Kathy, bukannya aku sirik atau bagaimana, tapi aku jadi memiliki firasat jelek melihat cincin ini. Jumlah berlian yang ganjil dianggap buruk di dalam keluargaku." Jessica lalu menggelengkan kepalanya dan kembali menatapku," Jangan dipikirkan itu hanya mitos bodoh. Semoga kau bahagia. Dan semoga aku cepat mendapat pengganti", Jessica tersenyum padaku.   Jessica memang sahabatku. Kami berbincang cukup lama. Hingga saatnya aku pulang, aku pamit dan berjalan ke arah pintunya, baru aku hendak membuka pintu, ketika Jessica kembali memanggilku "Kathy? Maaf aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Aku membutuhkan waktu"  **************************************************  Aku termenung di dalam kamarku. Aku jadi berfikir bagaimana bila firasat Kania dan Jessica benar? Ah pikiran bodoh Theo tidak mungkin menyakitiku. Kami saling mencintai. Benarkan?   "Kathyyyyy.... Ada seorang laki laki super tampan menunggumu di depan rumah"  Aku menutup telingaku mendengar Kania berteriak nyaring. Tidak biasanya Kania berteriak teriak seperti Jessica.   "Siapa?"   Kataku menghampirinya yang sudah berdiri dengan senyumnya yang lebar.   "Aku lupa bertanya," Kania tersenyum salah tingkah. Aku mengerutkan dahi. Ah, jangan jangan Theo. Aku langsung tersenyum sumringah dan mengecup sekilas pipi kanan Kania dan segera berlari keluar.   "The..James?"  Aku mengerutkan dahi melihat James yang berada di koridor depan pintuku. Dia terlihat tampan seperti biasa, tapi matanya menyiratkan kelelahan.   "Hai Eve? Bisa bicara sebentar"  **************************************************  Kami berada di sebuah taman dekat flatku. Kami sudah duduk di sini sekitar 5 menit tapi belum ada di antara kami yang buka suara.   "Eve?"  "Ya?"  "Soal pertunanganmu dengan Theo"  Aku menatap James,"Kenapa?"  "Entahlah, aku hanya berfikir kau harus pertimbangkan lagi"  Aku mengernyitkan dahiku sudah 3 orang sekarang yang meragukan hubunganku dengan Theo. Ada apa sebenarnya ini? "Kenapa harus begitu?"  "Aku hanya merasa dia tidak serius denganmu Eve"  Aku menatap James tidak percaya. Apa maksudnya Theo mempermainkanku karena aku adalah orang miskin? "Dengar James. Theo tentu saja serius denganku. Kalau dia tidak serius denganku, dia tidak akan melamarku di depan semua orang!"  Seperti bisa membaca pikiranku, James menggeleng,"Bukan itu maksudku Eve. Aku hanya memintamu untuk memikirkannya lagi. Kau tahukan kalau dari dulu aku menyukaimu"  Aku terkejut mendengar pengakuan itu langsung dari mulut James. Ternyata dia juga menyukaiku. Seperti aku menyukainya dulu. Tapi, sekarang hatiku hanya untuk Theo. Aku menatap James merasa bersalah.   Dia tertawa kecil  "Ya mungkin kau tidak akan percaya dengan pernyataanku barusan mengingat track recordku sebagai playboy. Tapi, percayalah, cintaku untukmu tulus Eve. Aku bahkan rela mengorbankan segala yang kumiliki hanya untukmu. Aku tahu ini terdengar menggelikan tapi aku mengatakan ini jujur dari dalam hatiku. Hanya kamu Eve. Bahkan sejak pertama kali aku pindah ke sebelah rumahmu, aku sudah menyukaimu. Aku ingat dulu kau sering berlarian di halaman rumahmu hanya menggunakan pampers dan gigi ompongmu itu selalu membuatku ingin tertawa. "  Aku mendengus mendengar penuturan James. Matanya terlihat merawang ke masa lalu. Aku juga ingat sebenarnya dia adalah cowo tertampan di komplekku.  "Lalu bocah pampers itu tumbuh menjadi anak kecil yang senang menggunakan rok mengembang seperti balon. Dia sering bermain ayunan ditemani nanynya di halaman rumah. Bahkan aku sampai merengek pada orang tuaku untuk pindah kamar di lantai bawah agar pemandangan kaca kamarku langsung ke halamanmu"  Aku ikut menerawang masa laluku. Saat yang indah. Andai waktu bisa diulang.   "Anak kecil rok balon itu tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik dan modis. Dia terlihat sering pulang malam bersama teman temannya. Aku merasa sedih melihat kelakuannya aku tahu gadis itu sudah banyak berubah. Tapi satu yang kutahu dia tetap bocah ompongku. Saat ulang tahunnya yang ke enam belas aku melihatnya melukai seorang laki laki. Tapi aku tahu itu bukan kehendaknya, aku tahu dia menyesal karena kulihat dia menangis di halaman belakang. Saat kucoba mendekatinya, dia pergi berlari masuk ke rumah. Itu saat terakhir aku melihat wajahnya"  Aku hampir meneteskan air mata mendengar dia mengungkapkan persaannya. Perasaannya sangat murni. Aku merasa bersalah padanya. Seandainya aku bisa mengatur hatiku, aku ingin sekali memindahkan cintaku pada laki laki di depanku ini. Tapi kau tahu? Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Hatiku telah memilih Theo.   "Kau sudah tahu isi hatiku. Semoga kau bisa berfikir ulang. Aku mencintaimu Eve. Tulus. Tapi aku tetap berdoa untuk kebahagiaanmu"  James sialan karena ucapannya itu air mata lolos dari mataku.  "James"  James memelukku. Aku menangis di pelukannya. Sampai tiba tiba sebuah tangan besar menarik badan James menjauh dariku.   Theo  Satu pukulan Theo mendarat di wajah James. Aku kaget dengan apa yang kulihat. James membalas memukul Theo. Mereka bertengkar hanya karena aku? Ini gila. Aku berlari menengahi mereka. Tapi tangan Theo menarikku ke belakang dan kembali memukul James.  "HENTIKAN KALIAN BERDUA"  Brengsek mereka tidak mendengarkan aku. Persetan! Aku lalu berlari ke tengah mereka dan segera berdiri di depan Theo.   Bug  Satu tonjokan James bersarang di pipi kiriku membuat ku limbung dan terjatuh. Sial rasanya sakit sekali. Tangannya terbuat dari besi apa?!   "EVE!"   Mereka berdua berteriak bersamaan. Mereka kompak juga. Theo mendahului James memeriksa keadaanku. Tangannya menyentuh pipiku.  Jrrrrttt jrrrrttt  Elektrik itu kembali terasa  "Kau tidak apa apa?"  Aku menganggukan kepalaku.  "Sialan kau James! Akan kubunuh kau!"  "THEO!"  Aku mencegah Theo dengan menarik tangannya. kKlihat James memandangku antar menyesal, marah, terluka,"Maafkan aku Eve. Aku tidak sengaja. Maaf"  "Diam kau James!"  "Theo!" Aku membentak Theo lalu beralih menatap James sendu,"Aku tidak apa apa James. Kau pulanglah"  James terlihat ragu. Tapi akhirnya dia pergi berlalu. Setelah James berlalu, Theo mengangkatku dan menggendongku. Aku mengalungkan tanganku pada lehernya. Dadanya sangat dekat denganku. Dia membawaku ke mobil putihnya   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD