delapan jam berlalu, tim medis tak ada yang menampakkan diri. Aku kelimpungan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Pintu mulai terbuka, seorang dokter keluar dari dalam ruangan.
" bagaimana dok ? lancar kan dok ?" tanyaku.
" dokter Faruk, Mbak. Saya minta maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pendarahan di kepala Bu Fatimah tidak bisa berhenti dan Bu Fatimah kehilangan banyak darah. tepat pukul 8.03 tadi, Bu Fatimah menghembuskan nafas terakhirnya." ucap dokter itu, seketika aku menangis histeris. Begitu juga dokter Faruk yang lemas berderai air mata.
Aku tak menyangka Bu Fatimah akan meninggalkanku secepat ini. Ini semua salahku, andai Bu Fatimah tidak bersamaku saat itu, ia sekarang pasti masih bisa tersenyum di sisiku.
Dokter Faruk mengurusi administrasi rumah sakit sambil menunggu jenazah siap di antar ke rumah. Aku mengikuti mobil jenazah dengan dokter Faruk menggunakan mobil dokter Faruk.
Aku tak bisa membendung air mataku, sepanjang jalan aku menitihkan air mata. Begitu juga dengan dokter Faruk yang terus berdiam sambil menyetir mobilnya.
Terlihat di rumah sudah siap menerima jenazah Bu Fatimah. Mbak Anah telah menyiapkan segalanya. Kini hari semakin larut, jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pemakaman akan di laksanakan esok hari.
Aku termenung di pojok kamar, aku merasa bersalah. Semua karena aku, aku yang telah membuat Bu Fatimah pergi. Aku menangis sejadi-jadinya.
Dadaku sesak, semua kebaikan Bu Fatimah belum sempat aku balas. Kini ia telah bepulang pada-Nya.
Mbak Anah masuk ke kamarku, ia mencoba menenangkanku.
" kita tidak pernah tau kapan kita akan di panggil. umur, jodoh dan rezeki sudah di atur oleh Allah. Ini cobaan untuk kita, jangan bebani kepergian Bunda dengan tangismu. Ikhlaskan, Bunda akan tersenyum melihat kita ikhlas. Doakan semoga Bunda mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. " ucap mbak Anah.
Mendengar ucapan mbak Anah, aku mulai lega. Dadaku tak begitu sesak, mungkin dengan jalan ini Bu Fatimah tak akan merasakan sakit berkepanjangan. Ku peluk sosok mbak Anah yang berwibawa ini.
Seusai sholat subuh, aku segera bersiap untuk mengantar Bu Fatimah ke peristirahatannya yang terakhir.
Setelah jenazah siap di berangkatkan, kami mengiringi kereta yang berodakan manusia itu. Jujur saja, isak tangis tak bisa ku bendung lagi. Aku sudah menganggap Bu Fatimah layaknya ibu kandungku.
Kini aku tak kan mampu melihat senyum Bu Fatimah lagi. Tubuhnya sudah terkubur di bawah sana. Aku hanya bisa mengirim doa, semoga surga menantimu Bu Fatimah.
Ku taburkan bunga disana, isak tangisku masih belum reda. Hingga para pelayat pergi satu persatu. Mbak Anah dan Dokter Faruk mengajakku untuk pulang.
Ketika di depan rumah, ku ingat bagaimana dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Dengan kebaikan Bu Fatimah yang mau menerima keadaanku, merawatku tanpa pamrih dan menuntunku ke jalan yang benar.
Semua bayangan tentang Bu Fatimah masih melekat jelas di mataku. Aku mulai memasuki rumah itu, dadaku semakin sesak rasanya.
" Delin, selama 7 hari ini kami akan menemanimu tinggal disini. Kami akan adakan acara tahlilan disini." Ucap dokter Faruk.
Aku mengangguk pada dokter Faruk. Benar saja, mbak Anah dan Riko( anak dokter Faruk) mulai bermalam disini.
Selepas Isya', para tetangga datang untuk ikut serta mengirim doa agar Bu Fatimah mendapat kemudahan di Alam Kubur serta di beri tempat terbaik di sisi-Nya.
Tahlilan telah usai dilaksanakan, para tetangga mulai meninggalkan rumah ini. Aku dan mbak Anah membereskan wadah bekas hidangan untuk para tamu Tahlilan.
Saat kucuci piring-piring itu, sekelebat aku melihat bayangan di luar Jendela. Seorang wanita yang sudah jelas pekat di mataku, ia adalah Bu Fatimah.
Ku ikuti arah Bu Fatimah berjalan, ia berhenti di bawah pohon belakang rumah. Dengan mengenakan baju syar'i berwarna putih bersinar.
Bu Fatimah tersenyum padaku, seketika ia berkata.
" Ibu tidak akan meninggalkanmu, Nak. Tetaplah belajar, kuatkan imanmu. Ibu harap kamu bisa membantu Ibu agar terjauh dari siksa neraka. Ketahuilah Delin, amal jariyah akan terus mengalir. Jika kamu sayang sama Ibu, jaga Sholatmu, ibadahmu, dan hati serta pikiranmu."
Lantas Bu Fatimah menjauhiku, ia terus berjalan. Aku yang ingin mengejarnya tak mampu berbuat apa-apa. Kaki tak mampu ku gerakkan, hanya lisan yang mampu memanggil namanya.
Seketika aku di kejutkan oleh sentuhan yang kurasakan mendarat di pundakku.
" Mbak Anah!" ucapku dengan nafas yang tersengal-sengal.
" Kamu kenapa Delin ?" tanya Mbak Anah sambil melihat keluar Jendela, karena pandanganku masih tertuju pada sebuah pohon di belakang rumah itu.
" Sepertinya aku tadi melihat Bu Fatimah."
" Yang benar kamu Delin ? Aku jadi merinding gini. " ucap Mbak Anah seraya menutup gorden Jendela dapur.
Mungkinkah aku tadi mengigau? tapi aku yakin tadi ada Bu Fatimah. Apa dia datang untuk memberiku pesan itu ya ? Rasanya aku tidak melamun, aku juga tidak sedang tidur. Bagaimana mungkin tubuhku berada disini saat Mbak Anah datang ? Aku yakin tadi aku keluar untuk mengejar Bu Fatimah.
Aku mulai merebahkan badanku di ranjang. Aku mulai berdoa untuk tidur, tapi mataku terasa terang sekali. Ku coba mencari posisi yang enak agar aku segera terlelap. Tapi nyatanya nihil, aku putuskan untuk ke dapur membuat s**u.
Kulihat Mbak Anah sedang mengambil air minum disana.
" Belum tidur mbak?" tanyaku.
" Belum, Del. Mas Faruk tadi mimpi, dia mengigau memanggil Bundanya. Ini sedang ku ambilkan minum untuknya." Ucap Mbak Anah yang sedang menuangkan air.
" Aku ke kamar dulu ya, kamu mau apa Del ?"
" Iya Mbak, aku belum bisa tidur. Mau buat s**u dulu."
Sepertinya bayang-bayang Bu Fatimah masih mengelilingi kami. Ataukah memang kami yang belum ikhlas melepasnya ?
Segera ku buat s**u itu dan masuk ke kamar.
Kudengar suara Adzan berkumandang. Aku segera ambil wudlu dan menunaikan kewajibanku lalu belajar Juz Amma.
Kini waktu sudah pukul 5.30, aku segera mandi dan bersiap membantu Mbak Anah masak di dapur.
Ku lihat Mbak Anah sedang mengaduk-aduk panci di dapur.
" Buat bubur mbak ?" tanyaku penasaran.
" Iya, Mas Faruk sakit Del."
" Emm.. iya udah biar aku aja yang masak. Mbak rawat dokter Faruk saja." ucapku.
Aku langsung saja mulai memasak dengan bahan yang tersedia di kulkas.
Kusiapkan makanan tersebut di meja makan. Mbak Anah dan Riko mulai duduk untuk sarapan.
" Hmm kamu pintar masak ya Del. Enak loh masakan kamu." ucap Mbak Anah yang sedang mengunyah makanannya.
Aku tersenyum malu karena pujian itu.
" Dokter Faruk sakit apa Mbak ? sudah baikan ?" tanyaku pada Mbak Anah.
" Dia demam Del. Semalam dia di datangi Bundanya. Katanya Bunda ingin agar Mas Faruk mengajari kamu, dan menyelesaikan misi Bunda untuk menjadikanmu Mualaf." cerita Mbak Anah.
Aku sangat tersentuh, Bu Fatimah sampai membayangi dokter Faruk demi aku.
Tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Mbak Anah yang melihatku menangis, segera menenangkanku.