Diperjalanan pulang, suasana didalam mobil sunyi dan mencekam. Yasmin dan ayden larut dalam pemikiran mereka masing – masing. “Yas...” panggil ayden sambil mengenggam tangan yasmin. Tapi tangan itu langsung saja dihempaskan olehnya. Ayden kembali terdiam. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Ini memang perbuatan mereka berdua, tapi yang tidak pernah yasmin sangka adalah ayden benar – benar meninggalkan benih itu di dalam rahimnya. Hingga akhirnya sekarang ada nyawa yang terus tumbuh dalam rahimnya. Yasmin memeluk perutnya. Sekarang disana sudah berada satu nyawa lagi, anaknya bersama ayden. “Mampir apotik dulu.” Pinta yasmin. Ayden hanya menuruti saja tanpa menanyakan alasan apapun. Setelah sampai di depan apotik, yasmin langsung turun dan membanting pintu. Saat kembali ke da

