"Nona muda! Ayo bangun,anda punya tamu!"
"Engh...."
"Nona,jangan coba untuk tidur lagi!"
"Engh...."
Liza berusaha menarik gadis malas itu untuk bangun. Mereka kedatangan tamu dari pihak Kerajaan Tetangga.
"Tuan, hari ini tidak ada di kediaman dan hanya anda yang anda. Tolong segera bangun dan bersiap,Nona!"
Greta bangun,wajah terlihat tidak ikhlas. "Aku. Masih.Mau.Tidur."Katanya pada Liza.
Liza menolak untuk mengalah, pelayan wanita itu menarik Greta menuju kamar mandi. Dia langsung membuka semua pakaian gadis itu dan mendorongnya masuk bak mandi.
Greta hanya memejamkan matanya dan membiarkan Liza sibuk. Akhir-akhir ini dia sibuk membaca diperpustakaan mengenai berbagai hal di bidang ekonomi dan politik. Arian memintanya untuk belajar mengenai hal-hal itu.
Tidak butuh lama untuk Greta selesai di dandani oleh Liza. Gadis itu membuka matanya dengan ngantuk.
"Nona, segera ke ruang makan dulu." Liza langsung menarik Greta menuju ruang makan.
Di ruang makan, Greta pikir hanya dia yang akan makan. Tetapi ada sosok lain yang sedang duduk juga di sana. Pemuda dengan rambut hitam gelap dan memakai jas hitam. Saat pemuda itu mengangkat kepalanya, barulah Greta melihat sepasang mata merah darah dari pemuda itu.
"Nona Greta,Selamat pagi," sapa Pemuda itu dengan ekspresi datar.
Greta hanya mengangguk dan duduk di kursi depannya. Keduanya saling berhadapan. Greta ingin memotong stik dagingnya, tapi sebuah piring dengan daging yang sudah dipotong muncul didepannya.
"Engh...?"
Pemuda itu langsung mengganti piringnya dengan milik Greta. "Seperti dulu,aku akan memberikan potongan daging untukmu."
'Seperti biasa? Pemuda ini siapanya Greta? Aku tidak ingat tentang sosok ini...'
"Terima kasih."
Pemuda itu mengangguk dan menundukkan kepalanya untuk memotong daging dipiringnya. Saat Greta makan, kepalanya mulai kembali sakit. Sendok di tangannya jatuh dan membuat Liza dan pemuda asing itu melihat ke arahnya seketika.
"Nona!!"
"Greta!!"
Greta menenggang kepalanya sakit. Dia melihat memori lain milik tubuh ini. Dalam kepalanya muncul sebuah taman dan dua sosok anak kecil yang terlihat disana. Gadis kecil itu sedang memeluk bocah laki-laki, keduanya menangis. Greta tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi terlalu lama, tapi dia hanya tahu bahwa bocah laki-laki itu adalah pemuda itu.
"Selalu.bersama."Gadis itu memberikan isyarat pada bocah laki-laki bermata merah didepannya.
"En,kita akan selalu bersama untuk selamanya."
Greta mengedipkan matanya berulang kali dan memandang pemuda itu. Kedua tangannya bergerak didepan mata pemuda itu.
"Kleis."
Kleis melihat gerakan itu hanya terdiam, perlahan dia bangkit dan berbalik pergi dari sana.
"Engh!(Kleis)" Greta memanggilnya,tapi suaranya hanya terdengar jelek. Gadis itu menunduk dengan sedih.
Liza membantu gadis itu bangkit,dan membawanya kembali ke kamarnya. Tetapi sebelum sampai disana, mereka melihat Kleis berdiri seperti menunggu mereka.
"Duke muda Kleis..." Liza merasa sedikit marah pada sikap Kleis yang meninggalkan mereka tadi.
Kleis mengabaikan Liza, dan berjalan ke depan Greta. "Tolong tinggalkan kami berdua,"ujarnya yang ditujukan pada Liza.
"Tapi Nona Greta—" Liza ingin mengatakan bahwa Nona-nya tidak sehat sekarang. Tapi dia menutup mulutnya, Saat ditatap oleh mata merah pemuda itu.
"Sa-Saya pamit kalau begitu."
Greta melihat setiap gerakan Kleis dengan hati-hati. Pemuda itu menarik tangannya dan membawanya pergi ke taman, taman yang persis dalam memorinya.
"Kamu ingat tempat ini?" tanya Kleis dengan suara rendah.
Greta mengangguk.
Kleis menggenggam tangan gadis itu erat. "Apa kamu benar-benar ingat? Atau pura-pura ingat?"
Greta tersenyum pada Kleis.
"Aku.ingat.semuanya.Kleis."
"Apa kamu benar-benar ingat?" Kini nada Kleis terdengar bersemangat. Bahkan matanya bersinar karena hal itu.
Greta sekali lagi mengangguk.
"Kamu.Kembali.Kleis."
Greta mengingat bahwa Kleis adalah Anak seorang Duke dari Negara tetangga yang berada dibenua lain. Kleis datang ke Kediaman ini saat umurnya 10 tahun dan Greta 6 tahun. Keduanya berpisah setelah setahun bersama dan sekarang sudah 10 tahun, umur Kleis sudah 20 tahun dan menjadi Duke termuda di Negaranya, selain Ayahnya,Arian yang juga masih sangat muda.

"Kleis.Bagaimana.kabarmu.disana?"
Greta bertanya.
Keduanya duduk di Gazebo, Kleis sedang nyaman berbaring. Kepalanya ditaruh di atas paha Greta. Gadis itu tidak menolak, karena dia pikir keduanya sama-sama teman masa kecil.
"Aku baik," balas Kleis singkat. Dia memahami bahasa isyarat setelah tinggal disini selama setahun. "Greta...aku mendengar bahwa kamu menyukai seorang pria?" Suara pemuda itu terdengar dingin dan berbahaya.
Greta tidak tahu dan hanya menjawab dengan isyarat tangan.
"Waktu itu. Aku. Sedang. Masa. Puber."
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang.tidak."
"Itu bagus! Kamu hanya bisa memiliki semua hal terbaik di dunia ini. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan,"ucap Kleis dengan mata tertuju pada gadis itu.
Greta menunduk dan tersenyum lebar.
"Kamu.memang.yang.baik.Kleis."
"Tentu saja!"
Greta mengetahui bahwa sifat Kleis itu seperti anak kecil sangat jujur dan baik. Greta menyukai orang yang seperti Kleis itu.
Greta mengelus rambut Kleis yang membuat pemuda itu memejamkan matanya nyaman. Waktu seakan berhenti untuk mereka berdua. Greta juga ikut mengantuk, perlahan matanya menjadi berat dan akhirnya tidur juga.
Kleis tiba-tiba membuka matanya dan bangun. Dia menarik tubuh Greta untuk berbaring dipahanya. Aroma bunga segar keluar dari tubuh gadis itu, aroma yang mampu menenangkan emosi negatif dan buas dalam dirinya.
Sejak mereka berpisah selama beberapa tahun ini,Kleis sudah mengawasi keseharian Greta. Gadis kecil yang berjanji akan selalu bersamanya tiba-tiba tertarik pada lawan jenis, Kleis hampir berangkat dari tempatnya ke sini hanya untuk memisahkan gadis itu dari b******n yang tidak selevel dengannya.
"Sekarang kamu sudah berada dalam genggamank,Greta El Rodriguez."
Kleis mendekatkan wajahnya dan bibirnya dengan lembut menempel dibibir Greta. Gadis itu tidak terganggu dan malah tidur sangat nyenyak.
Kleis mengangkat kepalanya dan sebuah senyuman penuh cinta, tertuju hanya untuk satu orang. Kleis Bloodyhall, sosok yang sangat terkenal di wilayah utara. Wilayah yang suhu selalu dingin dan bersalju. Bloodyhall adalah sebuah keluarga yang sudah ada selama ribuan tahun dan lebih lama dari Kerajaan Baratheos yang paling besar.
Kleis sebagai keturunan terakhir keluarga itu,memiliki tanggung jawab yang besar dan tentunya berbahaya juga. Kleis harus berjuang mempertahankan tahtanya dan bertahan hidup. Banyak yang ingin mendapatkan kemampuan keluarga Bloody yang aneh, yaitu mengendalikan roh jahat dan darah yang terkenal sangat langka.
Kleis dan Greta sudah saling berjanji saat kecil,bahwa mereka berdua akan selalu melindungi satu sama lain dan menemani sampai kapanpun. Semua kebahagiaan akan dibagikan dengan yang lain. Bagi Kleis, Greta adalah sumber kebahagiannya.
Klies ingin mengecup bibir ranum itu lagi. Wajahnya sekali lagi mendekat.
"Greta...."
"APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN b******n!!"Sebuah teriakan marah tiba-tiba muncul.
Bersambung ...