Angin di sore itu tak membawa tawa. Mega, setelah memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen miliknya, ia berjalan memasuki kamarnya. Semua berjalan seperti biasanya, senyum, sapa dan rayuan terlontar dari para petugas apartemen. Terutama Ferdi, laki-laki satpam berbadan tinggi nan besar itu selalu menghalau jalannya. Lantas ia tersenyum genit seraya berkata “Hai, Sayang!”, atau kalau Mega pulang saat fajar perkataannya beda lagi “Dapet berapa? Keliatannya lemes banget, tuh.” Selain itu, masih banyak sapaan-sapaan genit lainnya. Jika sudah diperlakukan seperti itu, Mega membalas dengan menepuk p****t Ferdi lantas ia pergi sembari mencibir bibirnya. Tapi tidak dengan sore itu. Mega tidak seperti biasanya. Di lantai empat, tepat di samping lift, di sanalah Mega tinggal. Setelah

