14

1467 Words
Mobil yang mengantar Alan dan Reina itupun berhenti didepan rumah Alan. Dengan sempoyongan lelaki paruh baya itu keluar dari dalam mobil Martin sedangkan Reina keluar dari dalam mobil tanpa membantu pamannya sedikitpun. Lalu Martin, sang pemilik mobil juga ikut keluar dari dalam mobilnya. Ketiga orang itu berdiri didepan gerbang rumah Alan.   “terima kasih sudah mengantar kami pulang” kata Alan sambil menatap Martin yang langsung dibalas senyum oleh lelaki tampan itu. “yasudah kalian bicaralah, aku ingin istirahat” kata Alan lagi sambil berbalik dan menepuk pundak Sindy sekilas sebelum berjalan masuk kedalam rumahnya. Setelah kepergian Alan, kedua orang itu masih diam didepan gerbang tanpa ada yang memulai percakapan diantara keduanya.   “aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi” kata Sindy yang memecah keheningan diantara mereka selama beberapa saat tadi. Martin yang mendengar hal itupun hanya tersenyum dan berjalan mendekat kearah gadis manis yang langsung reflek melangkah mundur.   “baiklah! sampai jumpa lagi dilain hari” kata Martin dengan masih mempertahankan senyuman diwajahnya. Sindy yang melihat senyuman itupun tidak merespon dan hanya diam.   “oh, terima kasih karena tidak mengatakan yang sebenarnya kepada paman tadi” kata Sindy ketika melihat Martin akan memasuki mobilnya.   “tidak masalah, aku mengerti situasinya” kata Martin sambil berbalik menghadap Sindy. “lain kali aku akan menagih hadiahnya” kata Martin dengan senyuman tampannya dan masuk kedalam mobilnya. Sindy hanya diam saja sambil melihat mobil Martin pergi dari hadapannya.   “dasar” gumam Sindy sambil berbalik untuk masuk kedalam rumah sebelum matanya melihat seorang lelaki dengan sepeda melihat kearahnya. Sindy tidak jadi masuk kedalam rumah pamannya. Ia malah melihat lelaki yang wajahnya tampak tidak asing baginya. Sindy kemudian memicingkan matanya untuk melihat lelaki tersebut.   “Prana?” tanyanya pada diri sendiri ketika wajah lelaki itu mengingatkan Sindy pada adik kelas tampannya. Lalu gadis manis itu berniat untuk menghampiri lelaki tersebut, tapi lelaki itu malah menaiki sepedanya dan pergi dari sana. Hal itu membuat Sindy menghela nafasnya dan diam ditempat sambil melihat kepergian lelaki itu.   “aku tidak mungkin salah, itu seperti Prana” gumam Sindy lagi ketika ia merasa yakin bahwa lelaki tadi adalah adik kelasnya. Karena lelaki itu pergi, maka Sindy dengan lesu berjalan masuk kedalam rumah pamannya.   ♣   Prana yang benar—benar berada didepan gang rumah Sindy itupun kembali menaiki sepedanya dan pergi menjauh dari depan gang tersebut ketika melihat gadis manis itu melihatnya dan akan menghanpirinya. Prana tidak tahu kenapa ia harus pergi dari sana dan tidak membiarkan Sindy menghampirinya saja. Toh mereka bisa mengobrol sekilas dan mungkin lelaki tampan itu bisa bertanya kepada Sindy siapa lelaki yang tadi mengantarnya pulang karena ia yakin jika satu-satunya lelaki tua diantara mereka adalah paman Sindy. Kalian tidak lupa kan jika Prana pernah melihat Alan ketika ia baru pertama kali bertemu dengan Sindy. Lelaki tampan itu mengayuh sepedanya sambil memikirkan siapa lelaki tadi. Prana sungguh penasaran dengan lelaki tersebut. Apalagi tadi Prana melihat jika lelaki itu tampak mendekat kearah Sindy yang melangkah mundur dan mengatakan sesuatu kepada Sindy. Sebab itulah Prana tetap disana dan melihat, takut-takut jika lelaki itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Sindy. Sebenarnya tak hanya itu yang dipikirkan oleh Prana, ia juga melihat gaun yang dipakai oleh Sindy. Apalagi Prana tidak melihat kacamata yang selalu bertengger manis dihidung gadis manis itu. Ia akui jika Sindy tampak cantik dengan pakaian itu meskipun ia melihatnya dari depan gang, tapi Prana masih bisa melihat dengan jelas Sindy yang ada didepan rumahnya. Tak lama Prana sampai di rumahnya. Lelaki tampan itu meletakkan sepedanya begitu saja dan ia langsung berbaring dilantai teras rumahnya sambil terus memikirkan Sindy dan lelaki itu.   “apa hubungan mereka dan siapa dia?” tanya Prana pada diri sendiri. “aaarrghhh” teriaknya kemudian sambil menendang-nendangkan kakinya keudara.   “astaga sayang, apa yang kau lakukan?” kaget ibu Prana yang baru saja keluar dari dalam rumah dan melihat anaknya tidur dilantai sambil berteriak dan menendang-nendang udara. Prana yang mendengar suara ibunya itupun menoleh dan melihat ibunya sambil menyengir.   “tidak ada ma” kata Prana.   “masuk sana dan sarapan” perintah ibunya.   “nanti saja” jawab Prana cepat. “mama mau kemana?” tanya Prana saat baru sadar jika ibunya berpakaian rapi dan membawa tas.   “pergi sayang, kau jaga rumah ya” kata ibu Prana yang diangguki oleh anak tampannya. Ny. Kim hanya tersenyum dan masuk kedalam mobilnya sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat Prana kembali seperti orang gila.   ♣   Sindy yang sudah melakukan pekerjaan rumah dan membuat makanan untuknya dan sang paman itupun langsung pergi kekamarnya untuk membersihkan diri. Biasanya dihari minggu seperti ini, Sindy memilih pergi keperpustakaan untuk belajar jadi ia akan melakukan juga hari ini karena ada PR yang belum selesai ia kerjakan. Ia mandi dengan cepat dan memakai pakaian rapinya. Tidak lupa ia juga memakai kacamatanya dan menguncir rambutnya seperti biasa. Sindy menyiapkan buku yang akan ia bawa dan memasukkannya kedalam tas yang biasa ia gunakan. Setelah selesai dengan urusannya, ia keluar dari dalam kamar dan turun kelantai bawah untuk sarapan.   “apa aku harus pergi memanggil paman?” tanya Sindy pada dirinya sendiri ketika ia tidak melihat sang paman dilantai bawah. “biarkan sajalah” kata Sindy lagi sambil mengedikkan bahu. Kemudian gadis manis itu duduk dimeja makan dan mulai sarapan. Hampir sepuluh menit berlalu dan Sindy selesai dengan sarapannya. Ia bangun dari duduknya dan mencuci piring bekasnya sebelum ia pergi.   “paman aku pergi” teriak Sindy, berharap pamannya akan mendengar teriakan tersebut, tapi tidak ada sahutan dari sang paman dan Sindy pun memutuskan untuk pergi saja. Gadis manis itu pergi dengan berjalan kaki karena perpustakaan tidak seberapa jauh dari daerah rumah pamannya.   ♣   08.45 wib. Sindy sampai didepan perpustakaan dan hanya menyebrang jalan dan ia akan sampai disana. Dengan hati-hati gadis manis itu menoleh kekanan dan kiri untuk melihat jalanan sepi atau tidak. Setelah dirasa sepi, Sindy mulai menyebrang dan masuk kedalam perpustakaan yang agak seberapa ramai itu. Sindy tidak masalah dengan hal itu, toh mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara jadi ia akan baik-baik saja berada disana. Setelah mendaftar dan mengisi jurnal nama, Sindy masuk lebih dalam dan mencari buku yang akan membantunya menyelesaikan pekerjaannya.   “oh SINDY SEBELAH SINI!” teriak seorang gadis yang membuat semua penghuni perpustakaan menoleh padanya termasuk Sindy. Lalu gadis yang memanggil nama Sindy itupun tersenyum dan bergumam kata maaf. Sindy yang tahu siapa orang yang memanggilnya itupun berjalan kemeja gadis tersebut dan duduk disamping gadis itu.   “sedang belajar kak Je” kata Sindy yang langsung diangguki oleh gadis tersebut yang bernama Jesi, kakak kelas Sindy yang bisa dibilang dekat dengannya. “aku akan mencari buku terlebih dahulu” kata Sindy yang diangguki oleh Jesi. Gadis manis itu tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan Jesi diperpustaan seperti ini. Setelah beberapa saat mencari buku yang ia cari, Sindy menemukannya dan langsung membawa beberapa buku itu kemeja yang ada Jesi disana. Mereka berdua belajar dengan kitmat tanpa mengganggu satu sama lain. Jesi fokus dengan apa yang ia baca dan pelajari sedangkan Sindy fokus mengerjakan tugas rumahnya. Sindy juga sesekali bertanya kepada Jesi tentang soal yang tidak bisa ia temukan jawabannya dan dengan senang hati gadis cantik itu membantu Sindy dengan cara menerangkan caranya kepada gadis manis itu.   Dua jam berlalu dan kedua gadis yang sudah selesai belajar dan mengerjakan tugasnya itupun meregangkan otot masing-masing.   “Sindy apa kau tidak sibuk hari ini?” tanya Jesi dengan nada pelan, tapi masih bisa didengarkan oleh Sindy.   “tidak, kenapa kak?” tanya balik Sindy.   “ikut aku”   “kemana?”   “hanya berjalan-jalan disekitar sini”   “baiklah” kata Sindy mengiyakan ajakan Jesi tersebut. Kemudian mereka membereskan buku yang tadi mereka ambil dari rak kembali ketempatnya semula dengan rapi dan mereka pun memeriksa apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Setelah memastikan semua sudah beres, kedua gadis itu keluar dari perpustakaan dan berjalan menjauh dari perpustakaan. Jesi mengajak Sindy masuk kesalah satu café yang ada didaerah tersebut. Awalnya Sindy menolak, tapi dengan paksaan Jesi mau tidak mau Sindy mengikutinya. Sekarang mereka sedang duduk disalah satu kursi dekat dengan jendela dan duduk berhadapan. Keduanya mulai memesan sesuatu untuk teman mengobrol mereka. Tapi, ketika Sindy hanya memesan satu minuman saja, Jesi protes dan menyuruh Sindy untuk memesan lagi, tapi gadis manis itu tidak mau. Jesi yang melihatnya itupun menghela nafas dan memesan banyak menu untuk keduanya. Kedua gadis itu membicarakan banyak hal sambil menunggu pesanan mereka datang. Dan ketika pesanan mereka datang satu-persatu keduanya berbicara sambil menikamati pesanan mereka. Jesi yang melihat Sindy tidak menyentuh makanan yang ia pesan itupun mengancam gadis manis itu dan membuat Sindy memakannya sesekali. Hal itu membuat Jesi mengembangkan senyumnya.   “oh ya Sin, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Jesi.   “apa itu?” tanya balik Sindy yang artinya memperbolehkan Jesi bertanya padanya.   “Aldi dan Prana, kau lebih menyukai siapa dari dua lelaki itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD