Bab 8

1815 Words
"Pernikahan yang kalian berdua jalani bukanlah sembarangan. Ini janji antara kalian berdua dan Tuhan yang menciptakan kalian. Jadi tidak sepatutnya mempermainkan sebuah pernikahan hanya karena alasan yang tidak jelas!" rutuk Adnan, menatap Alvin dan Syakila secara bergantian. Agar sepasang suami istri itu paham pernikahan mereka bukanlah ajang untuk main-main. Bukan hanya itu, Adnan juga telah mengajak tiga keluarga untuk berkumpul hari ini. Siang ini. Untuk membicarakan tentang keberangkatan Alvin dan Syakila ke Kalimantan besok siang. Pernyataan Alvin yang mengatakan ia tidak bisa membawa Syakila ke Kalimantan, membuat Adnan meradang dan ingin memilah satu persatu masalah yang ada. Agar Alvin semakin paham dan mau berusaha menerima pernikahannya dengan Syakila. "Aku berharap pertemuan ini bisa menemukan titik terang yang sangat jelas. Agar Alvin sadar kalau selama ini telah salah memaksakan diri untuk menikah dengan Rachel yang jelas-jelas tidak mencintainya." Adnan menegaskan setiap kata yang terucap di bibirnya. Seraya menatap satu persatu orang yang hadir di ruang keluarga. "Alvin, dengar. Abi minta maaf kali ini tidak bisa mengikuti keinginan kamu. Dan seharusnya ini dari dulu Abi lakukan agar semuanya tidak berakhir seperti sekarang." Marcel memotong. "Untuk itu, kamu lupakan Rachel dan mulailah hidup baru dengan Syakila." Sambungnya. Mengangkat satu tangannya, agar Rachel yang ingin membuka mulut segera diam. Agar Rachel tidak menyela dan malah mengacaukan semuanya. Karena tadi pagi gadis itu telah meminta hal yang tidak terduga padanya. Pagi-pagi sekali Rachel datang tidak tahu darimana. Menangis dan memohon agar bisa menikah dengan Alvin. Mengaku menyesal dan mendapatkan hidayah saat merenung sendirian tadi malam. Marcel yang mendengar keinginan rachey tersebut tentu saja sangat terkejut. Tidak ada angin dan hujan Rachel tiba-tiba saja datang mengatakan setuju untuk menikah. Parahnya lagi, gadis itu pulang dalam keadaan lusuh sedikit pucat. Seakan baru saja selesai melakukan lari maraton mengelilingi perumahan. "Apa yang dikatakan ayahmu adalah sebuah kebenaran, Vin. Kalian berdua harus menerima pernikahan ini karena ini sudah menjadi jalan bagi kalian untuk bersatu. Kamu yang yakin cinta bisa hadir dengan sendirinya, ditantang langsung untuk membuktikan. Dan pernikahan ini juga hukuman bagi Syakila, karena harus bertanggung jawab telah membuat acara pernikahan nyaris batal. Padahal acara pernikahan sudah berlangsung. Seandainya ini batal, tentu saja malu yang akan diperoleh sangat besar. Jadi, ini sudah sesuai dengan porsi kesalahan yang telah kalian perbuat." Davin membuka suara. Sebagai orang terakhir yang melengkapi pertemuan mereka kali ini. Syakila yang sedang disalahkan hanya menunduk saja. Tidak memiliki niat sama sekali untuk membantah apa yang dikatakan sang ayah. Karena memang benar adanya, ia yang memiliki ide dan membantu Rachel untuk kabur. Padahal Rachel ingin kabur jauh sebelum hari pernikahan mereka dilangsungkan. Akan tetapi, Syakila bersikeras untuk meminta Rachel kabur di jam terakhir acara pernikahannya. Alvin begitu. Ia juga takabur mengatakan cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Sehingga abai dengan perasaan Rachel yang selama ini telah terang-terangan mengatakan tidak mencintai dan tidak akan sanggup jika harus dipaksa untuk mencintainya. Namun, kejadian tadi malam membuatnya egois dan ingin mempertahankan Rachel. Ingin membatalkan saja pernikahannya dengan Syakila, yang jelas-jelas tidak dicintainya. Berbeda dengan Rachel, yang mungkin memang telah membuatnya kecewa, tapi cinta yang dimiliki sangat besar sehingga membuat rasa kecewa itu musnah begitu saja. "Terserah saja. Atur saja semuanya seperti yang kalian mau. Sebagai anak tentu saja aku akan mengikuti apa yang kalian inginkan," tutur Alvin dingin. Bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak pergi. Tidak peduli dengan tatapan tajam orang-orang yang kini tertuju padanya. Alvin tidak peduli. Mau marah atau apa pun ia tidak memikirkan itu lagi. Saat ini ia hanya ingin memikirkan masalahnya dengan Rachel, itu saja. "Maafkan atas sikap Alvin," tutur Adara dengan suara yang sangat rendah. Benar-benar tidak enak dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alvin tadi. Sebagai orang tua, tentu saja Adara merasa tidak enak atas sikap Alvin yang dinilai tidak sopan sama sekali. Berlalu begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu. Alvin juga terkesan tidak rela membawa Syakila ke Kalimantan. Tidak tahu bagaimana caranya ini semua akan berakhir, yang jelas tidak mungkin ada perpisahan diantara Alvin dan Syakila. "Tidak apa-apa, Besan. Mungkin Alvin butuh waktu untuk ini semua ini. Aku yakin mereka berdua bisa melalui ini semua setelah jauh dari kita. Dan tentunya kami akan mengawasi ini semua dari kejauhan dengan cara kami pula," terang Selena. Selaku ibu kandung dari Syakila tentu saja ia cukup khawatir melepaskan putri sulungnya ke Kalimantan bersama Alvin. Meskipun Alvin sudah sah menjadi suaminya. Tetap saja Selena khawatir ada hal buruk yang terjadi, mengingat respon dan reaksi Alvin yang sangat tidak mengenakkan. "Aku setuju untuk rencana yang satu itu. Aku dan suami juga sudah berpikir sejauh itu dan tinggal mencari cara agar semuanya tampak natural." Adara menambahkan ucapan Selena. Agar mereka semua sama-sama tenang besok melepaskan kepergian Alvin dan Syakila ke Kalimantan. Semuanya tampak lega. Seakan sudah menemukan titik terang yang sangat baik sebagai antisipasi hal yang buruk. Selena dan Davin juga sama tenangnya dengan Adara. Mereka berdua memilih pulang untuk mempersiapkan kepergian Syakila esok pagi bersama Alvin. Syakila yang masih kecewa dengan keputusan sepihak mereka.. Tentu saja tahu diri jika Syakila tidak akan pernah mau mengemasi barang-barangnya. Tidak apa, yang jelas masalah sudah dianggap selesai karena mereka memiliki rencana dan misi yang sama. Namun, rasa itu tidak dirasakan oleh Rachel. Wajahnya tampak masam karena mendengar Syakila yang akan tetap menjadi istrinya Alvin. Syakila yang akan ikut ke Kalimantan dan mendampingi Alvin disana. Bagaimana dengannya? Ia harus mengalah karena dari awal memang menolak untuk menikah dengan Alvin dan mati-matian lari dari pernikahannya. Akan tetapi, melihat pengkhianatan Adrian tadi malam, Rachel lebih rela menikah dengan Alvin dibandingkan mempertahankan hubungan mereka. "Abi, bukankah tadi pagi aku sudah mengatakan ingin melanjutkan rencana pernikahan dengan Alvin? Tapi, kenapa tadi Abi malah diam saja dan terkesan mendukung pernikahan antara Alvin dan Syakila. Aku sudah pulang dan mengakui kalau aku salah!" rutuk Rachel, menghempaskan bokongnya di sofa. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, meminta penjelasan kepada Marcel yang tidak lagi membuka suara semenjak tadi pagi. Tepatnya setelah mereka selesai berdebat tentang alasannya kabur di hari pernikahannya. Rachel juga menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam kesuksesannya dalam kabur meninggalkan rumah. Ia juga mengatakan terpengaruh hasutan dari Syakila, dan menganggap ini sengaja dilakukan agar pernikahannya batal. Rachel juga tega menuduh Syakila telah menjebaknya dan membujuk Adnan untuk turut membantu. Alhasil mereka berhasil dan ia terpengaruh dan lari. Antara percaya atau tidak. Marcel masih ragu dan tidak ingin mengambil kesimpulan tanpa barang bukti apapun. Ia tidak ingin gegabah dan malah menghancurkan jalinan persahabatan yang telah dibangun puluhan tahun lamanya. Marcel juga curiga dengan Rachel yang tiba-tiba saja berubah pikiran dan ingin menikah dengan Alvin. "Tidak ada gunanya kamu mengatakan ini dan itu, Chel. Karena Alvin dan Syakila telah menikah. Kamu tidak lagi memiliki hak untuk memisahkan mereka berdua. Lebih baik kamu fokus menjalani hubungan dengan pria yang selama ini kamu gadang-gadang sebagai kekasihmu. Bawa dia kesini dan kenalkan kepada kami," ucap Rere sebelum menyusul langkah Marcel ke kamar. Rere yang telah pusing dengan keinginan Rachel yang berubah-ubah turut malas memikirkan banyak hal saat ini. Ia tidak ingin lagi melawan keinginan Rachel dan sepertinya akan merestui hubungan dengan kekasihnya. Pusing. Satu kata yang cocok menggambarkan bagaimana kini yang dirasakan Rere. Gara-gara Marcel yang terlalu memanjakan Alvin, kini malah membuatnya tidak enak hati pada Adara dan Adnan. Sampai-sampai ia merasa pasangan suami-istri itu lebih paham apa yang diinginkan Rachel, putri mereka. Rachel mendengus kesal. Mengacak rambutnya, seraya mengutuk Adrian yang telah membuat hidupnya berantakan. Andai saja Adrian tidak muncul dalam hidupnya dan memilikinya secara utuh, tentu saja saat ini ia sudah menikah dengan Alvin. Ya, dirinya yang menikah dengan Alvin, bukan Syakila. *** "Aku tidak bisa," keluh Alvin. Melepaskan genggaman tangan Rachel dari tangannya. Permintaan Rachel yang sangat tiba-tiba, membuatnya tidak sanggup untuk mewujudkan. Kecuali pernikahannya dengan Syakila sudah berjalan cukup lama, barulah ia bisa mewujudkan keinginan Rachel. Keinginan yang sangat egois, memintanya menceraikan Syakila saat ini juga. "Katamu kamu mencintaiku, Vin. Dan akan menerima segala kekuranganku. Tapi, kenapa kamu tidak sanggup melakukan ini semua untukku? Kenapa?" ucap Rachel pelan, tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Syakila yang tengah duduk di balkon kamar Alvin. Tertarik dengan suara bisik-bisik yang berasal dari taman samping, yang menjadi pembatas antara rumah Alvin dan Rachel, Syakila sedikit mendekat. Dari balik tiang balkon ia berdiri dan memasang dengan baik indra pendengarannya. Agar tidak ada satu katapun yang terlewat. "Kamu jangan gila, Chel. Seandainya aku menceraikan Syakila saat ini juga, maka aku akan kehilangan segalanya. Kedua orang tuaku, serta bisnis yang baru saja aku rintis. Aku tidak segila itu." Alvin membantah keinginan Rachel untuk segera menceraikan Syakila. Bukan karena ia cemburu atau apa. Rachel hanya ingin menikah dengan Alvin dan ikut dengannya ke Kalimantan. Dengan begitu ia bisa lepas dari incaran Adrian, yang bisa dipastikan saat ini masih ingin bertemu dengannya. Masih ingin membina hubungan dan membujuk untuk kembali bersama. Tidak. Rachel tidak menginginkan itu. Lebih baik ia hidup bersama Alvin, daripada dengan pria pengkhianat seperti Adrian. "Lalu kapan kamu akan menceraikannya? Bukankah esok, lusa atau bulan depan dengan hari ini sama saja? Sama-sama akan menceraikan Syakila? Syakila yang telah membujukku agar lari dari pernikahan kita agar bisa menikah denganmu! Ck, dasar gadis licik!" umpat Rachel. Mengusap kasar wajahnya. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku ingin menikah denganmu. Aku beri kamu waktu tiga bulan untuk menceraikan Syakila. Titik!" sambungnya dengan tegas. Setelah itu Rachel melangkah pergi meninggalkan Alvin yang belum sempat membantah keinginannya. Tiga bulan? Rachel terlalu mengada-ada. Satu tahun saja belum tentu kedua orang tuanya mau menerima perceraiannya dengan Syakila. Lagipula ia masih ragu apakah benar masih bisa menerima kekurangan yang dimiliki Rachel. Pasalnya itu sangat fatal dan sulit diterima pria yang belum pernah merasakan berhubungan dengan seorang gadis. Alvin tentu saja ingin merasakan malam pertama dalam artian yang sesungguhnya. Bukan hampa seperti tadi malam. Tidak menemukan jawaban yang tepat untuk hatinya sendiri, Alvin pun turut melangkah pergi. Menuju ke arah garasi dan membawa mobilnya pergi. Entah kemana lagi pria itu akan pergi. Tidak ada yang tahu, karena Alvin tidak meninggalkan pesan apapun. Ia juga meninggalkan ponselnya di kamar agar tidak ada yang bisa menghubungi dirinya. Dalam keheningan Syakila tertegun. Mendengar percakapan antara Rachel dan Alvin. Dan betapa terkejutnya Syakila saat Rachel menuduhnya yang membujuk agar kabur. Memang ini adalah idenya. Akan tetapi, ide itu tidak akan muncul jika Rachel menerima pernikahannya dengan Alvin.. Tapi, nyatanya apa? Rachel selalu saja menangis ingin pernikahannya dengan Alvin batal. Syakila tersenyum tipis. Baru tahu bagaimana sifat asli Rachel. Meskipun ia tidak tahu pasti apa yang terjadi kemarin malam sehingga Rachel berubah pikiran, yang jelas ia tahu sesuatu. Ia tahu Rachel adalah tipe orang yang suka melimpahkan kesalahan kepada orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Rasanya Syakila ingin menertawakan keinginan Rachel yang telah menjilat air ludahnya sendiri. Ingin ia menjelaskan kepada Alvin kalau Rachel lah yang secara sadar ingin pernikahan mereka berdua batal. Namun, balik lagi. Syakila menggelengkan kepalanya. Mengusir kedua keinginan tersebut. Ia akan tetap berada di alur yang dianggapnya benar. Yaitu diam dan melihat saja apa yang terjadi. Ia berjanji tidak akan berbicara apa lagi mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Alvin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD