Setelah puas kami bermain dan dalam kondisi masih dengan tanpa sehelainkain pun menutupi gw dan intan, kita tiduran sambil berbicara ringan aktivitas kita Masing-masing.
Dan lagi-lagi saat tengah bermain dengan intan sosok wanita tadi yang gw temui di kantin kembali berkelebat, yang membuat gw mau gak mau membayangkan sosok wanita itu ketika tengah bermain dengan intan yang semakin kesini sensasi fantasi luar biasa itu semakin kuat melebihi ketika tadi bermain dengan luna.
Dan setelah gw dan intan selesai, gw segera pamit pulang ke intan karena waktu juga sudah cukup larut. "Gak nginep aja kamu sayang?" tanya intan, "Aku besok pagi harus ikut papah ke kantornya sayang, ribet kalo sampe pagi-pagi papah liat aku gak ada dirumah" tolak gw ke intan.
Alasan ampuh ini selalu bikin semua cewek gw gak berkutik. Padahal ya itu semua cuman alasan gw aja dan kalian pasti udah bisa nebak lah gw mau kemana.
yes betul ketemu pacar gw yang lain bernama Siska, Siska ini adalah teman SMA gw dulu hanya saja waktu SMA kita gak pernah secara resmi pacaran. baru beberapa bulan kebelakang kita resmi pacaran.
Hanya saja jangan ditanya tubuhnya Siska sudah gw cicipi dari mulai kita masih sama-sama duduk di bangku SMA meskipun tanpa status pacaran.
Siska adalah wanita chindo yang memiliki wajah cantik dan kulit mulus putih bersih, Siska juga memiliki tubuh cukup tinggi untuk ukuran wanita dan memiliki tubuh yang sangat sexy.
mungkin itu dihasilkan daringe gym yang menjadi kegemaran Siska dari dulu. tut.. . tut.. . tut.. . bunyi ponsel gw yang tak kunjung diangkat Siska.
kemana ya apa dia udah tidur? tanya gw dalam hati. ya sudah lah gw putuskan buat langsung mengunjungi Siska di apartment nya. Toh gw memiliki semua kunci dan access card cadangan semua apartment cewek-cewek gw.
Tentu saja Siska pun mendapatkan fasilitas yang sama dari gw seperti intan dan luna. sesampainya diparkiran apartment nya Siska, gw sempet mencari kunci dan access card milik apartment nya Siska di laci mobil gw.
Dan setelah gw temukan gw segera beergegas menuju unit apartment nya Siska. ya betul seperti yang kalian tebak unit apartment nya Siska pun berada di lantai delapan belas, lantai yang selalu akan jadi lantai favorit gw.
Dan saat gw buka pintu apartment nya Siska gw kaget bukan main. Siska sedang tidak menggunakan sehelai kain pun dan dia sedang berbaring di kasurnya lengkap dengan seorang laki-laki yang sedang berada di atas Siska dan sama tanpa menggunakan sehelai benang pun ditubuhnya.
Siska dan laki-laki itu kaget bukan main saat melihat gw tengah berdiri terdiam di depan pintu apartment yang sudah gw buka.
"Oh gini ternyata, pantes telpon aku gak dijawab lagi n*****t ternyata" komentar gw dingin melihat Siska yang sedang diposisi mencari kenikmatan bersama lelaki lain itu, dan tanpa banyak bicara gw masuk ke apartment nya. sedangkan Siska dan laki-laki itu segera mencari pakaian mereka yang entah dimana dan mencoba sesegera mungkin berpakaian kembali.
gw hampiri Siska dan gw bilang "mulai sekarang kita putus titik" setelah menyampaikan kata-kata itu gw berbalik dan berjalan santai keluar apartment nya Siska.
"sayang... sayang.. tunggu dulu biar aku jelasin dulu" panggil Siska mencoba menahan gw untuk pergi. "jelasin apa? jelasin lw n*****t sama cowok lain" gw berhenti berjalan dan berbalik menghadap mereka sambil mengatakan itu.
dan gw kembali melanjutkan langkah gw meninggalkan mereka. saat gw sudah sampai dilantai satu tempat loby apartment itu gw lihat Siska keluar dari lift dan masih mencoba buat ngejar gw.
tapi gw gak berhenti dan tetap berjalan santai menuju mobil gw yang terparkir di basement apartment ini. saat gw hendak membuka pintu mobil Siska langsung menarik tangan gw dan membuat gw mau gak mau mesti bicara sama Siska.
"apalagi sih sis?" tanya gw ke Siska. "seenggaknya kasih waktu aku buat ngomong sama kamu brian" ujar siska. "huh oke mau ngomong apa?" jawab gw mendengus kesal dan malas untuk melihat wajahnya Siska.
"Jangan disini" Siska menarik tangan gw untuk mengikuti dia yang entah kenapa gw nurut-nurut aja sama Siska. ya sejujurnya sih gak ada rasa marah ataupun kecewa melihat Siska yang seperti itu, mungkin karena tanpa sepengetahuan Siska gw sendiri melakukan hal yang sama dengan Siska.
Siska menarik gw menuju salah satu kedai kopi yang ada di lantai dasar apartment ini. "Mas latte dingin dua ya, tanpa gula" ujar Siska memesan kopi untuk kita berdua.
"Ngapain sih pake pesen minum segala" protes gw ke Siska. "penjelasannya cukup panjang brian dan biar kepala kamu juga dingin" jawab Siska mengabaikan protes gw.
dan Siska menarik gw sampe ke ujung kedai tersebut dan duduk di meja paling ujung. "Iya terus apa?" tanya gw males basa-basi dengan Siska.
"Kamu tau aku melakukan ini kenapa brian?" Siska malah menjawab pertanyaan gw dengan pertanyaan lagi. "lagi sange kali kamu gak kuat" jawab gw sinis.
"Aku serius brian, aku melakukan ini semua gara-gara kamu" bals Siska tajam yang gw sendiri gak paham dengan maksud Siska apa.
"Maksud kamu apa?" tanya gw heran dan masih menggunakan sedikit nada sinis. obrolan terpotong dengan kehadiran pelayan kedai yang mengantarkan minuman kita berdua.
"Kamu jangan pura-pura bego brian" kali ini Siska yang menjawab pertanyaan gw dengan sinis. "Makin gak ngerti aku sama maksud kamu Siska" jawab gw lagi sambil tertawa meremehkan.
"Kamu pikir aku gak tau selama ini kamu ngapain aja? kamu pikir selama ini aku gak tau kamu punya cewek siapa aja dan kamu ngapain aja sama mereka" deg seketika jantung gw berasa berhenti berdetak mendengar jawaban Siska.
"Aku ngelakuin ini semua biar kamu tau gimana rasa sakitnya aku tau kelakuan kamu kayak gitu" kali ini Siska menjelaskan dengan suara serak menahan tangis yang ditandai dengan terlihat air mata yang mulai keluar dikedua matanya.
Jujur saat itu gw gak bisa jawab apa-apa dan bingung harus menjawab apa ke Siska. "Dan asal kamu tau, aku tadi tau kamu telpon aku dan aku sengaja gak angkat telpon kamu karena aku tau persis kamu pasti akan datang kesini".
"Dan kebetulan tadi sedang ada temanku yang nge gym ditempat yang sama dan sengaja aku goda dia supaya dia mau melakukan itu denganku" kali ini Siska gak kuasa lagi menahan tangisnya dia.
dan jujur saat itu gw ngerasa bersalah banget ke Siska tapi dilain sisi gw pun gak bisa berkata apa-apa.