Bab 7

1036 Words
"Silahkan masuk mas" ujar pak darma sambil membukakan pintu ruangannya pak darma. dan pak darma mempersilahkan gw buat duduk didepan meja nya pak darma. gw segera mengikuti arahan pak darma untuk duduk. "Ya mas brian sebelum saya tempat mas brian di suatu posisi saya mau coba untuk ngobrol-ngobrol sebentar dengan mas brian supaya saya tau Kira-kira mas brian cocoknya saya tempatkan dimana" ujar pak darma. "Sebelumnya mohon maaf Pak darma, jangan panggil saya mas, panggil brian aja pak" pinta gw ke pak darma, karena memang secara usia juga cukup jauh perbedaannya sama gw dan juga gw merasa pak darma manggil gw mas karena gw anaknya papa coba kalo bukan. "Baik kalo gitu brian, Kira-kira apa aja yang jadi keahlian kamu selama ini?" tanyak pak darma, waduh jujur aja gw bingung harus jawab apa, soalnya keahlian gw ini sebenarnya cuman ngerayu cewek masa iya gw mau bilang begitu ke pak darma. "Waduh jujur saya juga bingung pak kalo ditanya seperti itu, keahlian apa coba yang related sama kerjaan disini, saya aja belum tau kerjaan di divisi ini terutama seperti apa" pak darma hanya terdiam mendengar jawaban dari gw. Setelah diam sejenak pak darma kembali bertanya ke gw, "kamu kuliah ambil jurusan manajemen bisnis ya?", " iya betul pak" jawab gw mantap. "Oh iya kamu terbiasa bermain sosmed kan pastinya?" tanya pak darma. hmmm jujung gw bingung sama pertanyaan pak darma ini ngapain urusan main sosmed sampai ditanya-tanya segala. "Ya kalo sekedar seperti IG, t****k, X, sss dll sering saya main pak, memang kenapa?" gw tanya balik pak darma yang memang gw gak ngerti arah pembicaraan dia ini kemana. "Saya rasa kita bisa mulai coba tempat ini kamu di posisi sales, saya liat kamu punya modal yang cukup besar dalam berbicara dengan lawan bicara kamu, serta saya liat kamu juga sepertinya cukup familiar dengan medsos" terang pak darma. "Maksud bapak saya jadi tenaga penjual gitu pak, seperti sales-sales yang suka bagi-bagiin brosur di mall?" tanya gw jujur gw sangat khawatir kalo sampe iya, tengsin lah gw kalo sampe ada temen-temen atau mungkin cewek-cewek gw yang lagi main ke mall terus ngeliat gw lagi bagi-bagiin brosur kayak begitu. "hahahaha.... cara kerja sales dikita gak kayak begitu brian" jelas pak darma sambil tertawa kecil. huh syukurlah kalo enggak. "Nanti untuk detail pekerjaan harus seperti apa, kamu bakalan dibantu sama bu silvia SPV Sales disini" jelas pak brian sambil mengambil HPnya dan menghubungi seseorang. "Bu Silvi, bisa ke ruangan saya sebentar, oke baik saya tunggu" begitulah suara pak darma yang gw denger. Tak berselang lama muncul seorang wanita yang masih cukup muda mungkin usianya sekitar 20an akhir dan kalo wanita ini benar bu silvia gw cukup salut dengan dia diusia semuda itu dia sudah memiliki jabatan di perusahaan papa meskipun masih di level low manajemen. gw melihat wajah wanita ini sangat cantik meskipun meskipun gw yakin usianya pasti diatas gw yang saat ini baru akan menginjak 21 tahun tapi wajahnya seperti wajah wanita seumuran gw. Dan yang bikin gw lebih kagum lagi wanita ini memiliki body yang bisa dibilang gak terlalu semok tapi memiliki p******a yang berukuran cukup besar yang sempat gw lihat dan belahan dadanya sedikit terlihat dari kancing kemeja atas yang dia kenakan. dan tak lupa juga pantatnya yang bulat sempurna menambah kesempurnaan wajah cantiknya wanita ini yang saat ini tubuhnya terbalut setelan blazer biru dongker yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih mulus dan rok yang cukup pendek namun tetap sopan semakin menambah jelas kecantikan wanita ini yang jelas tak kalah cantik dari luna, intan ataupun Siska. tapi gw belum tau kalo buat urusan ranjang nya mesti gw cicipi dulu hihiihiihi. "Brian kenalkan ini Bu Silvia SPV sales di sini, nanti beliau yang akan menjelaskan secara detail terkait kerjaan kamu nantinya" ujar pak darma sambil memperkenalkan bu silvia ke gw. "Silvia" ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya yang segera gw sambut sambil berkata "Brian" dan gw mencoba bersikap sekeren mungkin supaya dia mulai terpesona sama gw. "Nah Brian ini mulai hari ini akan ada di team sales nya bu Silvia. Oh iya Brian ini juga merupakan anaknya pak Wijaya" ujar pak darma dan gw melihat sedikit perubahan diraut muka bu Silvia saat mengetahui kalo gw anaknya papa. "Hahaha gak perlu khawatir bu, tadi pak Wijaya juga sempat berpesan sama saya untuk memperlakukan Brian sebagaimana karyawan lain dan kita harus seprofesional mungkin, bahkan pak Wijaya berpesan silahkan memecat Brian kalo sekiranya dia melakukan kesalahan" jelas pak darma sambil tersenyum menyemangati bu Silvia, mungkin pak darma juga melihat ke kagetan bu Silvia. "Baik pak kalo gitu, Silahkan mas Brian ikut saya" ajak bu Silvia, "Jangan panggil saya mas, panggil aja Brian" pinta gw dan masih tetep gw mencoba sekeren mungkin dihadapan bu Silvia ini supaya dia semakin terpesona sama gw dan gw bisa mencicipi dia hahahaha. "Oh iya bu satu lagi" ucap pak darma membuat langkah kita terhenti saat akan beranjak meninggalkan ruangan pak darma. "Untuk waktu kerja Brian dibuat se fleksibel mungkin ya bu, dia masih kuliah soalnya" pesan pak darma sambil tersenyum. "Baik pak" jawab bu Silvia singkat dan segera melangkah dan gw pun mengikuti langkahnya keluar dari ruangan pak darma. melihat cara bu Silvia berjalan dari belakang sungguh membuat hasrat gw semakin besar dan hampir tidak terkendali, lenggokan pantatnya yang terbungkus rok biru dongker pendek yang begitu sexy membuat gw semakin kagum dan b*******h. montok banget, pasti goyangannya gak kalah dari luna, intan dan Siska dan kepala bawah gw dengan otomatis langsung berdenyut sedangkan kepala atas gw berfikir keras buat ngatur strategi-strategi buat ngedapetin dia dan bahkan membayangkan berbagai kemungkinan posisi yang akan gw gunain untuk menghajar bu Silvia ini di apartment nya nanti tentunya setelah gw resmi dapetin dia. untuk sejenak cewek yang gw lihat kemarin di kantin kampus terlupakan sejenak, mungkin karena gw dapet incaran yang tak kalah bagus ya itu bu Silvia. Buk.. . . tanpa sadar gw menabrak bu Silvia yang sudah berhenti berjalan. sial saking asiknya gw berfantasi kesana kemari membuat gw gak sadar kalo bu Silvia sudah berhenti berjalan. Dan yang sangat sial babang joni menabrak persis pantatnya yang sangat aduhai dengan posisi babang joni yang lagi bersiap bertransformasi jadi tsudah bisa dipastikan tingkat kekerasannya sedang bagus dan ini membuat tidak mungkin bu Silvia gak merasakan kehadiran babang joni milik gw.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD