06 - Kehadiran yang tidak diinginkan

1084 Words
Pukul sepuluh malam setelah Wildan mengantarkan Jena ke dalam kamarnya. Pria itu menutup pintu dan tersenyum miring begitu mendapati Malik yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Ia mendekati pria itu dengan dua tangan yang tersilang di depan d**a. “Ada apa?” Tanyanya santai. “Ikut aku,” kata Malik berjalan pergi yang diikuti Wildan di belakangnya. Dua pria dewasa itu berdiri di luar rumah, Malik terlihat gelisah sementara Wildan terlihat biasa saja. “Apa maksudnya dengan memperkenalkan Jena kepada keluarga? Kau gila?!” Sentak Malik keras. Wildan hanya menyenderkan tubuhnya di pagar, ia sama sekali terlihat tidak terlalu peduli dengan ucapan Malik yang sedang memperingatkannya soal apa yang mungkin saja terjadi jika dirinya benar-benar mengenalkan Jena kepada keluarga. “Memangnya kenapa? Bukankah setelah menikah denganku, Jena juga menjadi bagian dari keluarga Aditama?” Tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapan Wildan. Pria itu terdengar begitu percaya diri dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. “Kau yakin mereka akan menerimanya? Kau tahu bukan….” Perkataan Malik tertahan lebih dulu sewaktu Wildan menyelanya lebih dulu. Pria itu berdiri, menatap sang sahabat dengan tatapan tajam nun datarnya. “Aku tidak peduli dengan pendapat mereka, Malik. Menerima atau tidak, itu bukan urusanku. Aku hanya ingin mengenalkan Jena pada mereka karena saat ini dirinya juga menjadi bagian dari keluarga Aditama, lagipula sejak kapan aku peduli dengan ucapan orang lain?” Malik tidak menyahut, pria itu hanya bisa menghela napas begitu mendengar perkataan Wildan dengan nada tegas. Jika ia sudah berkata seperti itu, artinya tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusan Wildan. Ia akan tetap melakukannya apapun yang terjadi. Pagi datang dengan cepat. Jena bangun lebih awal dari biasanya, ia merasa canggung dan gugup karena akan bertemu dengan keluarga Wildan. Yah, mau bagaimanapun juga Jena tidak ingin mempermalukan Wildan di depan keluarganya, pun dengan dirinya sendiri. Gadis itu berjalan pelan ke arah meja makan, di sana sudah ada Malik yang sedang menyiapkan makanan. “Kau mau sarapan?” Malik bertanya. Jena duduk dengan lesu, ia menggeleng kecil sebagai jawaban. “Aku tidak lapar.” Malik mendekat, duduk di samping Jena dengan raut wajah khawatir. “Kau baik-baik saja?” “Aku baik, aku hanya…. Gugup,” sahutnya lirih. “Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Wildan akan menjagamu,” hibur Malik. Saat itu, Wildan berjalan masuk ke ruang makan. Pria itu berkata sembari mengancing lengan kemeja yang ia gunakan. “Hari ini kita akan bertemu dengan keluarga besar Aditama, mereka akan menyambutmu dengan hangat, Jena,” katanya mencuri sebuah ciuman di pipi kanan gadis itu. Jena merasa tidak yakin, ia masih belum siap untuk bertemu keluarga besar Wildan. “Tenang saja, aku akan menjagamu. Akan ku pastikan semuanya baik-baik saja,” kata Wildan sambil memegang tangan Jena erat-erat. Jena masih terdiam, dalam hati gadis itu membatin semoga apa yang dikatakan Wildan benar-benar terjadi. *** Wildan dan Jena tiba di rumah keluarga Aditama, siap menghadapi pertemuan keluarga besar. Jena merasa gugup, khawatir tidak diterima karena kekurangannya. Jena merasa gugup saat memasuki rumah keluarga Aditama. Wildan memegang tangannya, tapi Jena segera melepaskannya. Ia tidak ingin menunjukkan keintiman di depan keluarga Wildan. “Jangan gugup, ada aku,” kata Wildan menenangkan. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. Ketika mereka memasuki ruang tamu, semua mata terfokus pada Jena. Mereka semua memerhatikan gadis itu dari atas ke bawah dan mengulanginya beberapa kali. "Siapa gadis ini?" tanya seorang wanita dengan nada sinis. Wildan tersenyum. "Ini Jena, istriku.” Wanita dengan baju terusan berwarna maroon itu mengangkat alis. "Istri? Bibi tidak tahu kau sudah menikah.” Jena merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut. Ia mulai merasa bahwa keputusannya setuju untuk bertemu dengan keluarga Wildan adalah salah. Kelihatannya keluarga Aditama tidak menerima kehadirannya di sana. Nenek Aditama, seorang wanita berusia lanjut dengan wajah serius, langsung menyerang. Wildan, apa yang kau lakukan? Kau membawa gadis buta ke keluarga kita?" tanya Nenek Aditama dengan nada keras. Bibinya, Tante Lestari, melanjutkan, "Ya, Wildan, kau harus memikirkan nama baik keluarga kita. Kau tidak bisa menikah dengan sembarang orang, apalagi dia… cacat.” Wildan yang tidak Terima mendengar keluarganya menghina Jena langsung melawan. "Kalian tidak memiliki hak untuk memutuskan siapa harus ku nikahi! Jena adalah istriku, dia juga sudah menjadi bagian dari keluarga Aditama, dan aku tidak akan membiarkan kalian menghina dia.” Tante Lestari berbicara dengan nada sinis, "Wildan, kau benar-benar gila. Gadis ini tidak bisa memberikan apa-apa, dia hanya akan menyulitkan mu." Wildan marah, genggaman tangan pria itu pada Jena menjadi semakin mengerat. "Cukup! Kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan. Jena adalah bagian dari hidupku, dan aku tidak akan membiarkan kalian menghinanya.” Jena merasa sedih mendengar reaksi keluarga Wildan. Meski sebenarnya ia sudah menduganya, namun ketika hal itu benar-benar terjadi, sudut kecil dalam benaknya merasa terluka. Malik, yang berdiri di belakang, menggaruk kepala. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menatap kasihan ke arah Jena yang hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. “Wildan, kau harus memikirkan reputasi keluarga kita! Kau tidak bisa menikah dengan sembarang orang, apalagi dia. Gadis itu benar-benar tidak layak buatmu,” ucap Tante Lestari lagi. Sang Nenek menambahkan, "Ya, Wildan, kau harus memikirkan masa depanmu. Gadis ini tidak bisa menjadi bagian dari keluarga Aditama, kalian tidak bisa bersama.” Malik yang sejak tadi hanya menyimak, berbicara dengan nada tenang. "Tante, Nenek, tolong jangan terlalu keras. Jena sudah merasa tidak nyaman.” Tante Lestari menatap Malik dengan tajam. "Kau tidak mengerti, Malik. Ini tentang nama baik keluarga kami.” Pak Aditama memasuki ruangan. Pria dengan setelan jas lengkap itu juga terlihat keberatan dengan kehadiran Jena diantara mereka. "Cukup! Ini sudah cukup. Wildan, kau harus memikirkan kebaikan keluarga kita. Berhentilah berbuat onar dan sadar dengan posisimu.” Wildan menghela napas kasar. "Aku tidak peduli. Aku sudah menikah dengan Jena dan akan melindunginya. Lagipula aku juga tidak peduli apa yang kalian katakan, kehadiran kami di sini hanya ingin memperkenalkan Jena sebagai bagian dari keluarga Aditama karena rasa hormatku pada Kakek.” Pak Aditama terlihat geram, pria itu menunjuk sang Putera dengan wajah memerah marah. “Kau…. Kurang ajar!” Baru saja Wildan hendak menjawab kembali. Cengkraman tangan Jena di lengan Wildan menguat, membuat pria itu menoleh dan sadar dengan apa yang gadis itu rasakan. Wildan memandang Jena dengan lembut. "Jangan khawatir, aku ada di sini untuk melindungimu,” bisiknya lirih. Jena merasa sedikit lega dengan kata-kata Wildan. Untuk sementara ini ia akan mempercayai perkataan pria itu. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan seorang gadis muda masuk. Gadis itu memiliki rambut hitam panjang dan mata coklat cerah. “Maaf, aku terlambat,” katanya. “Nesa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD