Aku mengeratkan sweater yang ku kenakan, merasakan angin dingin yang mulai menusuk-nusuk di kulitku. Kenapa malam ini dingin sekali? Langkahku pelan melewati beberapa pohon mangga yang di tanam berjejer dengan daun lebat. Juga sebuah jalan setapak yang bisa di lalui dengan mudah. Saat aku mendongak dan menemukan laki-laki itu tengah duduk di ayunan dimana aku duduk dengan Mba Dea tadi sore membuat aku menghentikan langkah. Entah kenapa mengamati dia dari jauh seperti ini selalu terasa mudah? Angin malam membuat rambutnya yang memang sudah berantakan semakin membuat berantakan saja, apalagi saat dia tengah tertunduk dan mulai menjalin kedua jari-jari tangannya. Dia masih sama, pemuda manis yang sama. Lelaki yang memiliki ciuman pertamaku, lelaki yang akan membuat aku rela melawan dunia un

