Mereka Sungguh Keterlaluan

1009 Words
Akulah Istri Gendutmu Dulu 3 Mereka Sungguh Kererlaluan "Ayo dong, Yank. Aku sudah nggak tahan lagi nih!" Mas Ferdi kini pun mulai semakin lebih berani. Rasanya bagai di tusuk banyak berjuta pisau langsung ke d**a ini, sakit tapi tak berdarah. Melihat dengan mata kepala sendiri penghianatan suami yang telah sangat kita percaya. Tetapi aku harus kuat, karena kini aku pun sangat penasaran dengan apa yang kedua sampah itu akan perbuat. Belum saatnya aku menampakkan diri. "Eits tunggu dulu dong, Yank. Kamu harus janji dulu akan menikahiku!" Perempuan itu kini mulai sok jual mahal, ternyata selain cantik dia juga sangat licik. Aku pun akan terus mengikuti semua siasatnya itu. "Ya ampun, Yank. Kamu kok masih tanya terus sih? Berulang kali aku kan sudah berjanji, jika aku pasti akan segera menikahi kamu. Jangan khawatir deh pokoknya!" Mas Ferdi pun kembali mencoba merayu. "Janji terus kan? Lalu kapan dong action-nya? Aku ini butuh bukti loh! Apa jangan-jangan kamu itu masih sangat mencintai istrimu yang gendut itu Ya? Nggak jijik kamu?" ucap si perempuan itu lagi. Rasanya ingin kutampar dengan sangat keras mulut si pelakor itu. Dengan gampangnya dia mengejekku, sebagai sesama wanita dia sungguh sangat kejam. "Jijik dan muak banget sebenarnya, tapi ya gimana lagi. Dia itu kan pohon duit ku. Pokoknya janji sebentar lagi aku akan menikahi kamu, Yank!" timpal Mas Ferdi yang tak kalah menyakitkan. "Ya cepetan dong, aku sudah nggak sabar loh tinggal di rumah besar ini. Aku sebagai sesama wanita ilfeel banget sama istri kamu itu. Masak iya kamu tahan sampai lima tahun sih?" Perempuan itu terus saja mengompori suamiku. "Hahaha ... asal kamu tahu saja Yank, setiap kali aku melakukan hubungan suami istri dengan dia, aku selalu membayangkan kamu loh atau para artis. Karena kalau tak begitu pasti si Joni ini lembek terus, hahaha!" Kedua sampah itu pun kini saling tertawa dengan sedikit nakal. Lihat saja aku akan membalas semua penghinaan ini. Berkali aku terus mencoba menyangkal jika semua ini bukanlah suatu kenyataan, tetapi sebuah mimpi, ya hanya mimpi buruk. Tetapi kabar buruknya semua terjadi di depan mataku sendiri, hingga mau tak mau aku pun harus mempercayainya. Suamiku yang terlihat baik di depanku, ternyata mulutnya tak lebih baik dari kaleng rombeng. Di hadapanku dia selalu memujiku, meski aku memang memiliki kelebihan berat, nyatanya dia tetap saja selalu memujiku. Dan, kini aku malah harus menerima kenyataan dia memperolok aku di depan perempuan simpanannya ini. "Nah makanya cepat dong ceraikan dia, nunggu apa lagi sih?" ucap si perempuan kembali dengan manja. "Pasti, aku sudah mulai menyiapkan semuanya kok. Yank " jawab Mas Ferdi dengan mantap. "Memangnya persiapan apa sih yang kamu lakukan, Yank? Masak iya dari enam bulan yang lalu kamu terus buat persiapan aja! Kapan ada hasilnya? Capek juga loh aku kalau terus begini! Asal kamu tahu aja ya Yank, di luar sana itu banyak sekali pria yang mengantri untuk menjadikan aku istrinya! Jika kamu nggak bertindak cepat, ya sudah jangan salahkan aku jika menerima lamaran dari pria lain!" Perempuan tak tahu malu itu kembali sok marah. Enam bulan? Selama enam bulan lamanya ternyata aku ini terus saja dibohongi oleh Mas Ferdi. Meski kesalahan tak hanya pada Mas Ferdi, tetapi karena aku juga terlalu bucin hingga tak pernah mempercayai apa kata orang lain. Ku kira seorang suami yang baik dan overprotectiv itu setia, nyatanya semua yang kupikirkan itu salah semua. Kini aku pun keluar dari kamar tamu dan berhenti di depan kamarku, dengan menggunakan earphone kurasa mereka berdua tak tahu jika saat ini sedang di intai dari balik pintu. Saat ini aku telah siap menyerang jika nanti mereka berdua sudah keterlaluan. "Begini loh Yank. Aku dan Santi itu kan sudah menikah lebih dari delapan tahun. Jadi aku harus bisa mencari cara yang pas agar bisa meninggalkan dia. Nggak mungkin dong dengan cara yang nggak masuk akal? Aku kan juga nggak mau jika nanti citraku menjadi buruk. Kamu sabar ya sebentar lagi kok." Lelaki buaya darat yang selama ini kusebut suami itu nampak sudah tak lagi bisa menahan hasratnya pada perempuan cantik itu. Tega sekali kini dia mengajak perempuan lain untuk berhubungan badan di singgasana kami. Tetapi perempuan pujaan hati suamiku itu ternyata masih bisa menahannya. Padahal sebenarnya aku pun kini sudah siap untuk melabrak mereka. "Bentar dong, Yank. Aku ini masih takut jika tiba-tiba saja istri kamu yang gendut itu datang. Ayo kita main di hotel aja ya? Lebih bebas dan leluasa gitu loh." Ternyata otak perempuan itu masih sedikit waras berbeda dengan Mas Ferdi yang kini telah memiliki otak seperti hewan. "Ya ampun, Yank. Kamu dari tadi kok berpikir seperti itu terus sih? Pokoknya kali ini kita aman kok, percaya deh sama aku. Jika nanti dia datang dan melihat kita berdua, maka aku akan langsung menceraikan truk gandeng itu! Gimana?" Mas Ferdi ternyata lebih memilih selingkuhannya itu dari pada aku. Apa semua ini karena aku memiliki bentuk tubuh yang gendut? Atau karena dia memang menginginkan anak dariku? "Yakin?" Si perempuan itu sepertinya belum juga yakin dengan ucapan Mas Ferdi itu. "Yakin buanget deh. Pokonya jika nanti dia datang, aku akan langsung menceraikan si gendut itu dengan cara tidak hormat, dan mengusirnya dari rumah ini. Setelah itu akan segera menikahi kamu, Yank. Dan, kita akan hidup bahagia bersama!" Dengan sombongnya Mas Ferdi berucap seperti itu. Bagai kacang lupa pada kulitnya, dia sama sekali tak menghargai semua yang telah kulakukan selama ini untuknya. "Aku pun sudah jijik sekali melihat perut yang penuh ular dan lipatan-lipatan itu. Huwekkk! Sudah saatnya aku memiliki seorang istri yang sexy dan memiliki kecantikan yang pari purna seperti kamu ini, Yank. Kita adalah pasangan yang serasi. Hahaha!" Mas Ferdi kembali berucap dan kali ini rasanya kesabaranku sudah habis. Cukup kali ini kedua sampah itu memperolok aku. Meski aku gendut, tapi aku tak pantas untuk diperlakukan seperti ini juga! Aku manusia juga, apa karena tubuhku yang saat ini memiliki kelebihan berat, maka aku tak pantas untuk merasakan bahagia dan cinta? Sungguh suamiku itu memang sudah sangat keterlaluan. Brakkk! "Tak perlu repot-repot menceraikanku, Mas! Karena aku duluanlah yang akan menceraikanmu! Tak sudi aku hidup dengan lelaki benalu bermulut tajam sepertimu! Sekarang, pergi kamu dari rumah ini, Mas!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD