Dandy melirik jam digital di samping tempat tidur, dan sedikit tersentak, jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dia mengutuk pelan karena punya janji dengan Bassam, mengantarnya pergi latihan berenang. Dia bergegas pergi ke luar kamar dan mendapati Dinda yang sedang sibuk di dapur. “Pagi, Dindaku sayang.” “Haha, Dandy. Hmmm.” Dandy memeluk erat istrinya dari belakang, dan mengusap-usap perut buncitnya. Dinda berhenti mencuci sayuran beberapa saat, matanya terpejam menikmati pelukan hangat suaminya, juga ciuman lembut di lehernya. “Bassam sudah pergi?” “Ya.” “Kenapa nggak bangunin aku sih?” “Dia nggak mau ganggu tidur kamu, Dandy. Aku langsung menghubungi Mita dan kebetulan dia sedang renggang dan mau menjemput. Ada pak Fafat juga yang nyupirin mereka,” jelas Dinda. Dia sangat baha

