SATU

1079 Words
❣️❣️❣️ Di Lapangan tengah itu kedua matanya tengah asik melihat anak-anak yang sibuk dengan kegiatannya, padahal jam sarapan pagi tinggal beberapa menit lagi. Sedangkan satu dari mereka memilih mengabaikan perintahnya, sibuk dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri. Gelak dan tawa mereka nampak terlihat lugu seolah tidak ada beban yang dipikulnya, walau nyatanya kedua mata itu tak akan pernah bohong. Dibalik candaan penuh tipu daya itu dirinya tahu betul apa yang tengah mereka rasakan, hidup ditempat yang jauh dari kata layak dan tak memiliki bahkan mencecap hangatnya tempat yang orang-orang sebut “Keluarga”. Catalina pernah merasakannya, sejak usianya menginjak delapan tahun kedua orang tuanya bercerai. Ibunya yang mendapatkan Hak asuh dirinya di pengadilan nyatanya tidak bertanggung jawab, hingga Catalina harus berakhir ditempat ini. Tempat yang sebelumnya tak pernah dirinya sambangi dan oran-orang menyebutnya “Panti asuhan”. Meski demikian Catalina patut bersyukur, bisa dikatakan nasibnya jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa teman-temannya yang berasal dari jalanan. “Catalina. Bu Rahayu memintamu untuk menemuinya” Ujar Nena. Gadis berambut ikal itu menghampirinya, Pipinya nampak memerah ketika panas matahari pagi itu menerpa wajahnya. “Ya terimakasih, Tolong awasi mereka Nena” tuturnya dan berlalu. Bu Rahayu salah satu pemilik panti tempatnya tinggal, selain memiliki watak yang lembut Wanita tua itu terlalu mudah di manipulasi beberapa rekannya yang notabennya pengurus panti kepercayaannya. Wanita itu tidak adakah pernah tahu, beberapa pengurus panti selalu bertindak sesuka hatinya dibelakang wanita itu. Catalina sudah biasa menghadapi orang-orang seperti mereka, hanya saja dirinya tak mampu untuk memilih diam jika mengingat ancaman-ancaman mereka. ••• “Jadi Bagaimana? Tempat usaha saya masih membutuhkan Karyawan baru. Jika Ibu berkenan saya bisa membantu anak Ibu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.” Laki-laki parubaya itu menatap kedua matanya sedikit angkuh. Sejenak Rahayu yang berada didepannya membuang napas berat seolah ucapan Laki-laki itu pilihan sulit yang harus diambilnya. Mungkin ini kali pertamanya seseorang datang ke Panti miliknya untuk sekedar memberikan lowongan pekerjaan. Siapa yang tak mau anak asuhnya hidup mandiri dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, masa depan mereka masih panjang dan Rahayu menyadarinya. Namun rasa khawatirnya jauh lebih besar, terlebih maraknya dunia protisusi belakangan ini semakin mengurungkan tekadnya untuk melepas mereka. “Apakah Bapak menjamin anak-anak saya dengan baik, memperlakukan mereka dengan baik pula?Maaf Saya sedikit tidak yakin akan ucapan Bapak tadi!” ucapnya. Terlihat lelaki itu tersenyum miring, kedua bola matanya yang hitam pekat meneliti ke penjuru ruangan di sekelilingnya. Seolah tengah menimang jawabannya. “Saya akan menjamin mereka dengan baik, ini Kartu nama saya Ibu bisa mengeceknya jika masih ragu. Jika ibu setuju saya akan kembali lusa.” Tutupnya. Sejenak susana kembali hening, Rahayu bangkit dari tempat duduknya seiring dengan ketukan pintu ruangannya. “Masuk...” perintahnya. Langkah kaki itu membuyarkan lamunan laki-laki parubaya itu. Catalina melangkah dengan hati-hati ketika menyadari di ruangan ini ada orang lain selain dirinya dan wanita itu. “Ambil ini, ada beberapa List tamu penting yang akan menghadiri amal hari ini. Kalian bisa meminta bantuan Liana jika masih ragu untuk menyambutnya” ujarnya. Gadis itu menganggukkan kepala sebelum menerimanya, berlalu setelahnya. Laki-laki parubaya itu nampak terkesima akan paras gadis didepannya, wajahnya yang manis dan menawan seolah mengingatkan dirinya dengan seseorang yang terdekatnya. Lama mengamati sepeninggalan Catalina dari ruangan itu, laki-laki parubaya itu masih diam menatap punggungnya yang mulai menjauh. “Apakah dia termasuk anak Asuh Ibu?” Tanyanya. Rahayu membenarkan letak kaca matanya. Pandangannya beralih kearah Catalina yang mulai tak terlihat. “Ya dia anak Asuh saya, sekaligus orang kepercayaan saya. Catalina namanya, saya pernah memintanya untuk meninggalkan panti ini. Sayangnya gadis itu menolak, memilih membantu saya dalam memantau perkembangan anak-anak disini” Jawabnya. Laki-laki parubaya itu terkesima sesaat sebelum ponselnya berdering. “Baiklah saya Pamit, Ibu bisa menghubungi saya kembali jika ada yang ingin ibu tanyakan. Dan satu lagi saya cukup tertarik dengan Gadis itu, Dia sangat cocok dengan Kriteria yang dibutuhkan perusahaan saya!” ucapnya, bangkit dari duduknya menatap Rahayu yang masih mengamatinya. “Senang berjumpa dengan anda Pak Jodi” ujarnya, laki-laki parubaya yang tak lain Jodi itu menganggukkan kepalanya, Menjabat uluran tangan wanita tua itu sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan tempat itu. *** “Tidaklah sulit pekerjaan seperti ini, Kau hanya perlu meminta tanda tangan kehadiran mereka dan selalu tersenyum menyambut kedatangan mereka! Seperti ini bukan?” Nena berujar sembari memperagakan senyuman dua jarinya, Catalina hanya diam menatap nya datar. “Kau ada masalah? Cerita lah dengan ku” Tanyanya. Begitu tak mendapatkan respon dari gadis disampingnya. Nena tahu betul gelagat Catalina yang tidak seperti biasanya. “Cepat atau lambat kita harus meninggalkan panti, aku mendengar ucapan Bu rahayu dengan Tamunya tadi pagi” jawabnya. Nena diam memangku tangannya. Tak sedikitpun Gadis itu berniat mendengarkan ucapan Catalina selanjutnya. “Apakah Kau yakin? Mungkin saja Dia donatur panti baru?” elak Nena. “Ntah lah... Jika pun bukan, Kita akan berpisah Nena” lesunya. Nena menepuk bahunya pelan. “Aku akan ikut dengan Mu, di manapun kau akan tinggal setelah keluar dari panti. Asal kau tahu Catalina, kau adalah orang yang mau menerima kedatanganku saat itu” Ucapan Nena seolah angin sejuk bagi Catalina. Hanya Nena yang dirinya miliki sahabat sekaligus keluarga barunya. “Terimakasih” lirihnya. Keduanya sama-sama diam bersamaan dengan kedatangan tamu-tamu penting memasuki tempat acara itu, yang jaraknya lumayan jauh dari tempat Catalina berada. Sayangnya sudah beberapa jam berlalu tidak terdengar acara itu dimulai. Satu nama nampak belum terisi tanda tangan dari sang pemilik. Bu Rahayu terlihat berjalan ke sana kemari seolah tamu itu nampak spesial, yang kedatangannya sangat di tunggunya. Nena menyenggol bahunya pelan, ketika laki-laki itu muncul dari pintu kemudi Mobil Audi RS5 miliknya, kemejanya yang berantakan dengan wajah masamnya nampak tergesa-gesa menghampiri keduanya. “Selamat sore tuan? Silahkan tanda---” Ucapan Catalina terhenti sesaat, dengan pandangan datar laki-laki muda itu menatapnya dingin. “Persetan dengan tanda tangan macam ini. Kalian hanya membuang waktu saya, bisa tunjukan saja dimana Acara itu dimulai!” ketusnya. Memotong ucapan gadis itu. Catalina mengarahkan tangannya kearah tempat acara itu. Tanpa ucapan terimakasih laki-laki itu berlalu begitu saja. “Cih Manusia tidak punya sopan santun!” cibir Nena yang didengar laki-laki itu. Sejenak dirinya memberhentikan langkah kakinya, berbalik kearah mereka berdua dan menatapnya tajam. “Hey Kau gadis tak punya sopan santun. Asal kalian tahu saya bisa dengan mudah membeli harga diri kalian. Termasuk Kau!” kesalnya menatap Nena, dan berakhir dengan telunjuknya yang mengarah ke wajah Catalina. “Manusia tak punya hati nurani” gumamnya lirih, sepeninggalan laki-laki itu dari hadapannya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD