Bab 1 Bapak

1224 Words
Masih tergambar jelas sosok bapak yang selama ini menjadi payung bagi kami. Bapak, pria kuat, penyabar, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Tak pernah Bapak berkata kasar pada kami, sekali pun ia marah. Hanya saja, perawakan dan tatapannya membuat orang-orang segan dan takut padanya. Padahal, ia sosok yang ramah dan juga tak banyak bicara. Bapak bernama Soebadri, keturunan laki-laki satu-satunya dari kakek, Bapak bungsu dari empat bersaudara, ia memiliki tiga saudara perempuan. Masing-masing saudara Bapak bersuamikan saudagar. Sedangkan orang tuaku ini hanya pekerja tambang di kota Sumatera dan menikah dengan Ibu yang asli keturunan Jawa. Dari pernikahannya dengan ibu, lahirlah aku dan kakakku. Kami hanya dua bersaudara, sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kami lahir dan besar di Sumatera, tempat Bapak mencari nafkah selama ini. Sejak Bapak pensiun, ia memutuskan untuk menetap di pondok pesantren, tempatnya menghabiskan masa tua. Letaknya tiga puluh menit dari kota. Di sana, ia banyak belajar ilmu agama, berkumpul dengan teman pengajian, dan berkebun. Kebun milik salah satu teman pengajian Bapak, yang bernama Pak Soleh. Aku mengenalnya karena Bapak pernah mengajakku berkunjung ke rumah Pak Soleh saat pemilik kebun itu pulang umroh. Setiap akhir pekan atau hari-hari tertentu Bapak akan pulang ke rumah. Untuk melepas rindu pada kami dan juga ibu. Sudah sering kali laki-laki yang sudah memebrasamai ibu selama empat tiga puluh tahun itu mengajaknya untuk ikut menetap di pondok pesantren juga, tapi Ibu menolak, belum siap alasannya. Pernah suatu hari, aku dan Ibu berkunjung ke pondok, sekedar melihat tempat tinggal Bapak. Sedih rasanya, saat itu aku menahan tetesan air mata yang siap tumpah kapan saja. Sebuah gubuk sederhana, beralaskan tikar dan kasur tipis, tanpa penerangan yang cukup. Gelap dan lembab. “Ayo, Pak! Kita pulang!” ajakku. “Di sini tempat Bapak. Gak apa, Bapak nyaman di sini.” Bapak tersenyum, melihatkan jajaran giginya yang sudah mulai ompong. “Dengan keadaan seperti ini, Pak?” tanyaku lirih. Nyaris bulir kristal itu tumpah. “Tapi, Bapak nyaman. Kan, Bapak bisa pulang kapan saja!” Bapak tetap tenang dan meyakinkan. “Kalau aku kangen Bapak, gimana? Aku kan kuliah, kalau saat aku pulang, terus Bapak gak ada, gimana? Makan Bapak, gimana? Tidur Bapak, gimana?” cecarku pada Bapak. Banyak pertanyaan yang aku lontarkan padanya. Tak tega rasanya meninggalkan ia di sini, tempat yang tidak begitu cocok untuk orang seusianya. Namun, Bapak tetap saja meyakinkan dan bersihkeras pada keputusannya, baginya tinggal jauh dari keramaian kota adalah sebuah ketenangan di usia senjanya. Ia lebih memilih hidup sederhana sesuai sunnah Rasul dan berlomba mengejar syurganya Allah swt. “Lala, pulang, Pak!” Gerombolan kristal yang dari tadi tertahan, tumpah. Kupeluk tubuh kekarnya yang mulai renta. Seraya mengahapus air mataku. “Nanti Bapak pulang, Nak!” Kucium punggung tangannya dengan takzim. Aku pun berlalu pergi meninggalkan bapak dengan senyum khasnya. Sambil terus melambaikan tangan, kutatap tubuhnya yang mulai mengecil dari dalam mobil, hingga tak kudapati lagi sosok itu. Sepanjang jalan aku menahan tangis, membayangkan keadaan laki-laki tuaku di sana. Bapak sering bercerita tentang kesehariannya di sana. Setiap hari setelah subuh Bapak pergi ke kebun Pak Solah, hingga menjelang zuhur ia akan berada di sana. Letak kebunnya tidak jauh dari pondok, tapi jalan yang dilalui berkelok dan jika hujan akan licin. Kebun milik Pak Soleh yang dirawat Bapak adalah kebun karet. Selain tambang batu bara, kebun karet merupakan mata pencarian masyarakat Sumatera. Dari merawat kebun karet, Bapak mendapat penghasilan, usai pensiun sebagai pekerja tambang. Kudengar ibu berbincang dengan supir, mobil yang kami tumpangi adalah mobil milik Pakde, saudara ipar bapak. Ia suami Bude Salama, kakak tertua bapak. Suami budeku ini seorang pensiunan pegawai negeri sipil, Pakde Raharjo namanya. Kemarin ia menawari pinjaman mobil, saat kami berkunjung ke rumahnya mengantarkan buah pisang, hasil tanaman ibu. Kata Pakde kami bisa ikut mobilnya sekalian, karena supir Pakde harus mengambil dokumen di balai desa dekat pesantren. Sudah tiga puluh menit lebih perjalanan kami, akhirnya kami hampir tiba di rumah. Rumah sederhana namun nyaman. Di rumah hanya ada aku dan Ibu, sejak Bapak menetap di pondok pesantren. Kaka laki-lakiku bernama Mas Roni, ia sudah berumah tangga dan memiliki dua orang anak yang lucu. Jarak rumahnya dan rumah kami tidak begitu jauh, hanya beberapa menit. Terkadang Mas Roni akan mengunjungi Bapak di pondok saat ia libur kerja. Di depan halaman rumah sudah ada Mas Roni Menunggu dengan kedua anaknya, Sabil dan Rara. Sepasang anak laki-laki dan perempuan, Sabil yang berusia tujuh tahun dan dan Rara berusia sembilan tahun. Kucium punggung tanggannya dan berhambur kepelukan kedua ponakanku. “Sudah lama, Mas?” tanyaku sambil membukkan pintu. “Baru, kok,” jawabnya sambil mencium punggung tangan Ibu. “Sabil sama Rara, pulang sekolah, ya?” tanya Ibu mencium kedua cucunya. Mereka berdua kompak mengangguk dan bergelayut manjah pada Ibu. “Mana istrimu, Le?” tanya ibu. “Dirumah, Bu. Tadi mau ikut tapi ada tamu.” Mas Reno mendudukan dirinya di sofa ruang tamu, “Ibu sama Lala dari mana?” lanjutnya. “Dari nengokoin, Bapak!” jawabku sambil menyodorkan es sirup padanya. Ia meminum es sirup hingga tandas, nampaknya Masku ini sangat haus. “Haus, Mas?” ledekku, ia hanya tersenyum malu. “Bapak sehat?” tanyanya. “Mas, bujukin Bapak, toh, biar mau pulang!” Sambil memegang nampan aku duduk di sebelah Mas Roni. “Kamu yang anak kesayangannya aja gak bisa bujuk, apalagi, Mas!” jawabnya enteng. Aku melengos dan berlalu mendekati Sabil dan Rara yang sedang asik nonton. “Sama siapa, ke sana?” tanya Mas Roni. Ruang tamu dan ruang tengah tempat menonton tidak begitu jauh dan tidak pula begitu luas hanya beberapa langkah dari ruang tamu maka sudah tiba di ruang tengah yang hanya di batasi oleh gorden sebagai penghias. Namun dari ruang tamu masih bisa melihat jika ada seseorang yang duduk atau sedang menonoton di ruang tengah. “Sama supir Pakde Raharjo, kemarin aku sama ibu ke rumah Pakde,” jawabku. Ibu yang sedari tadi duduk di ruang tamu bersama Mas Roni beranjak menuju belakang. “Mau makan, Le? Tapi ibu belum masak, suruh Lala beli sayur di warung Bu Lela aja, ya!” ujar Ibu sambil berjalan melewati kami yang sedang menonton. “Gak usah, Bu, bentar lagi mau pulang!” teriak Mas Roni. Mas Roni bangkin dan mendekati kami, ia duduk di sebelah kedua anaknya. “Mas, gak apa Bapak tinggal di sana? Tempatnya itu, loh,” ujarku sedikit sendu. “Ya, mau gimana, kemauan Bapak, bukan kita yang suruh,” ujar Mas Roni. “Aku sedih Mas liat pondok yang di tinggali bapak, Cuma ada kasur tipis, lembab, gelap, lantainya juga masih tanah!” lirihku. “Kalau pondok untuk santri bujangan ya, gitu beda kalau ada keluarga yang ikut, di buatin rumah sederhana,” jelas Mas Roni. “Terus, santri yang lain juga gitu?” tanyaku penasaran. “Kalau untuk anak-anak santri, ya, gak gitu. Ada asrama khusus untuk mereka, yang di tempati Bapak itu kan untuk orang-orang yang singgah sementara aja. Kayak Bapak kan suka pulang bukan benran menetap di sana, kalau kamu sama Ibu ikut ke sana baru dapet rumah. Letaknya agak ke dalam lagi, kayak perumahan gitu,” terang Mas Roni. Aku hanya mengangguk seolah-olah mengerti, tetapi pikiranku masih saja pada Bapak. Entah hanya kamar singgah atau tidak bagiku kondisi Bapak di sana tak selayak kami tinggal di sini. Bapak, semoga selalu sehat dan dikelilingi orang baik. Baru saja berpisah dengannya, rasa rindu ini sudah memuncak. Bapak, bagaimana keadaanmu di sana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD