Bab 3 Tuan Muda Penasaran

1688 Words
Arash memandangi wajah Celine yang damai saat ini berbaring di bed IGD Lewis Hospital milik James sang kakek. Pria ini cepat membawa si nona ke sana setelah merasakan gadis tersebut demam, dan dari hasil pengecekan dokter Sahrul, gadis ini kekurangan gizi sehingga daya tahan tubuh melemah. Celine memang tidak lagi memperhatikan gizi dari makanan, hanya mengisi perut saja untuk tetap bertenaga saat bekerja. ‘Siapa kamu, Nona?’ bisik hati tuan muda ini terus memandangi wajah cantik si nona, ‘Mengapa sampai kamu kekurangan gizi? Kulihat kamu bukan dari strata kebanyakan yang sulit membeli makanan bergizi. Apalagi kamu bekerja sebagai kasir Circle cafe yang digaji UMR.’ Tidak lama kedua mata Celine terbuka, lantas bergerak menyisiri ke sekitar. “Hei, Nona.” Terdengar suara Arash memanggilnya, “Nona, lihat kemari,” diminta si nona melihat ke arah dia sambil menepuk pelan salah satu pipi gadis tersebut. Celine mengalihkan pandangan, lantas hendak menegakan setengah tubuhnya, tapi cepat tangan pria itu menahan. “Nona, Anda baring saja.” Pinta Arash lembut, “Biar saya tegakan bed agar Anda lebih enak ngobrol sama Saya,” imbuhnya segera meninggalkan sejenak nona ini untuk mengengkol bagian atas bed agar setengah tegak, lantas segera kembali duduk di kursi yang menghadap gadis ini. “Terima kasih, Tuan.” Celine mengucapkan terima kasih, “Maaf, saya merasa berada di rumah sakit saat ini,” dipandang sang tuan muda yang mengamatinya. “Memang di rumah sakit karena aku membawamu kemari.” Sahut Arash, “Kamu pingsan setelah muntah-muntah.” Celine terkesiap, kemudian mengingat-ingat terakhir apa yang di alaminya, lantas menghela napas. “Maafin Saya, Tuan, membuat Anda repot menolong Saya lagi.” Arash tersenyum mendengar ini, “Tidak mengapa, karena semua yang terjadi bukan kamu sengaja.” “Terima kasih.” Celine tersenyum tipis, “Tuan, apa kata dokter? Saya kenapa pingsan?” “Kamu kekurangan gizi,” sahut Arash dengan suara berat, “Maaf, mengapa sampai kamu kekurangan gizi? Kulihat kamu dari keluarga mampu.” Celine terdiam, lantas menghela napas, “Sudahlah Anda tidak perlu memusingkan itu.” Diminta Arash tidak usah memikirkan kenapa dia kekurangan gizi. Dia segera merogoh saku celana panjang di badannya mencari ponsel. Arash cepat mengambil ponsel dari meja di sebelah bed, disodorkan ke Celine, “Ponsel kamu,” ujarnya menjelaskan ponsel yang diberikan, “Maaf, aku terpaksa mengeluarkan dari saku celanamu, agar tidak terpijak tubuhmu di bed ini.” Imbuhnya minta maaf sudah mengeluarkan alat komunikasi tersebut dari saku celana si nona. “Tidak mengapa,” sahut Celine singkat, “Maaf, saya permisi menelpon dulu,” dia pun berpamitan, lalu segera mengakses ponsel ditangannya, tidak lama panggilan suara tersambung ke Martin, “Paman.” “Ya Nona?” sahut sang asisten yang masih berkutat di depan laptop membaca setiap pesanan customer ke toko online dia, “Tuan Gio baik saja, Nona. Sekarang tidur.” Dilaporkan keadaan Giovan ke nona besarnya tersebut. “Syukurlah,” Celine menjadi lega, “Paman, bisa tolong ke parkiran Circle Golf?” “Nona ada masalah saat ini?” si asisten langsung merasa nonanya terkena masalah, “Ayo lekas Nona katakan ke Paman,” diminta si nona mengatakan apa masalahnya. “Tidak ada apa-apa, Paman,” sahut si nona tidak mau membuat asisten setia ini menjadi cemas, “Lin tadi ikut teman membesuk adiknya yang diranap, jadi meninggalkan motor dan barang Lin di parkiran. Paman tolong ambil ya.” Martin menghela napas, adat Celine yang suka menyembunyikan masalah seperti Giovan. “Baik, Nona,” ujarnya menyetujui mengerjakan perintah si nona, “Anda sekarang di mana? Biar Paman jemput.” “Tidak perlu, Paman. Baiknya Paman segera ambil motor dan barang-barang Lin, lantas langsung pulang. Kasihan Papa ditinggal sendirian di kontrakan.” Arash terus menyimak pembicaraan ini, semakin penasaran siapa nona tersebut sebenarnya? Tidak lama Steve datang dengan menenteng plastik berisi satu kotak sterofoam dan segelas teh dalam gelas plastik bersegel, mendekati tuan muda itu. “Tuan.” Disapa atasannya ini, “Saya membawa makanan untuk,” “Stss!” desis Arash cepat menghentikan suara asistennya, “Taruh ke meja saja, Steve,” diminta sang asisten menaruh plastik tentengan ke meja. “Baik, Tuan.” Pria ini patuh, segera meletakan plastik ke meja, lantas mengatup mulut sambil mengamati Celine yang sudah selesai menelpon Martin. Dia merasa sedikit aneh kenapa si bos bela-belain menolong gadis itu, selama ini sang atasan tidak pernah melakukan itu, meski melihat ada orang asing yang dikejar orang jahat. “Nona,” Arash menegur Celine yang tampak menghela napas, “Kamu makan dulu ya, biar ada tenaga.” Diminta si nona untuk makan saat dipandang gadis tersebut. Dia segera mengambil kotak berisi makanan dari dalam plastik, dibuka tutupnya, lantas dipamerkan ke si nona, “Mau ya makan dulu,” kembali dibujuk nona ini untuk mau memakan bubur ayam dalam kotak ditangannya. “Terima kasih, Tuan,” sahut Celine, “Maaf, saya harus segera pergi.” Ujarnya menolak memakan bubur tersebut. “Nona, kamu tadi pingsan karena perutmu kosong!” Arash menghardik si nona, “Apa mau pingsan lagi, huh?” ditatap gadis ini yang memandangnya dengan raut wajah terkejut. “Tuan,” Celine bicara, “Maaf, Saya harus segera ke rumah ibu tiri Saya untuk ayah Saya,” ujarnya menjelaskan mengapa harus segera meninggalkan rumah sakit ini. “Jika begitu makan dulu, baru ke sana!” Arash memandang gemas si nona yang membantah dia, “Maaf, aku menghardikmu,” ujarnya menyesal menghardik gadis ini, “Kuantar kamu ke rumah ibu tirimu itu, jadi kamu bisa makan bubur ini di mobil.” Imbuhnya memberi solusi baru. “Tuan, kalau saya makan dan mau Anda antar, maka hutang saya ke Anda bertambah!” “Hutang?” Arash terheran mendengar ini, “Hutang apa?” “Hutang budi, juga hutang uang!” sahut si nona dengan wajah mewek, “Anda menyelamatkan nyawa saya itu hutang budi. Anda membiayai berobat saya, itu hutang uang!” dijelaskan apa maksud perkataan dia tadi, “Maaf Tuan, yang anda lakukan bagi saya adalah hutang yang wajib saya kembalikan satu hari nanti.” Arash terhenyak mendengar ini, dipandang Celine lekat-lekat. Hatinya kembali bertanya siapa nona itu? Mengapa punya harga diri begitu tinggi? “Baik,” dia bicara di mana menghela napas, “Saya pesankan taksi online untuk kamu,” ujarnya memberi solusi baru lainnya, “Saya tidak mau kamu bantah lagi, Nona!” serunya saat Celine hendak menukas. “Tuan, saya tidak bawa uang, karena dompet Saya berada di dalam tas yang tertinggal di parkiran!” “Saya yang bayar taksinya.” Sahut sang presdir tegas, “Jangan menukas lagi,” sergah dia sebelum si nona menukas, “Dan sekarang Kamu makan dulu, baru kupesan taksi itu!” imbuhnya kembali menyodorkan kotak berisi bubur ayam ke sang gadis yang tampak manyun kena hardikan. “Kalau tetap menolak makan,” dia memandang nona ini, “Aku akan menyuapin bubur ini ke mulutmu.” Celine terkaget, lantas buru-buru mengambil kotak itu dari tangan Arash, tapi pria itu tidak memberi kotak tersebut, malah kasih sendok plastik. “Aku yang pegang kotaknya,” ujar tuan muda ini dengan santai, “Kamu tinggal menyuap bubur ke mulutmu dengan sendok.” Imbuhnya menunjuk sendok ditangan gadis ini. Sang nona menjadi gemas karena sikap Arash yang seenaknya saat ini ke dia. “Mimpi apa aku kemarin malam?” keluh gadis ini dengan polos,”Difitnah mencuri uang boks kasir, dipecat, dikejar-kejar, lantas bertemu tuan galak ini,” dikeluarkan unek-unek hatinya sambil menunjuk sang presdir ganteng. Arash yang menyimak semburan itu terkaget, “Kamu dipecat dari tempat kerjamu karena dituduh mencuri uang dari boks kasir?” lantas bertanya ke si nona apakah yang di dengar itu benar. Celine terkaget, menelan saliva, lantas buru-buru menyauk bubur pakai sendok, baru dilahapnya. Wajah dia tampak gugup, merasa kelepasan omong. Arash menghela napas, “Kamu benar tidak mencuri uang dari boks kasir di tempatmu kerja?” dipancing si nona untuk menceritakan lengkap kejadian itu, “Karena Kamu sampai dikejar-kejar suami atasanmu.” “Saya tidak mencuri uang itu, Tuan,” sang gadis kena pancingan tuan muda ini, “Saya kena difitnah Karina salah satu manager on duty, karena dia kesal Pak Riko ingin memperkosa saya.” Tuturnya dengan polos, sampai air mata meleleh ke wajah. Arash terkaget mendengar ini, “Kamu mau diperkosa suami atasanmu?” Celine menganggukan kepala, “Karina kesal karena dia sugar baby Pak Riko,” dijelaskan lebih jauh peristiwa tadi, sambil menyuap lagi sesendok bubur ke mulutnya, “Ternyata Pak Riko mengirim orang-orang itu untuk membungkam Saya yang sudah berani membuka belang dia ke Bu Wida.” imbuh dia kini menyeka air mata di wajah dengan tangan lain. Mendengar semua penuturan si nona, tak urung hati Arash mengilu, timbul kemarahan pula. Tampak satu tangan dia dikepal kuat-kuat, ekspresi kemarahan yang ditahan. Celine melihat raut wajah pria ini geram tersadar sudah kelepasan menceritakan peristiwa yang dialami ke sang tuan muda. Buru-buru dia taruh sendok ke dalam kotak, lantas cepat mengakses aplikasi kendaraan online di ponsel, dipesan satu armada motor untuk menjemputnya di depan IGD rumah sakit ini. Setelah itu kembali melahap bubur sambil memasang wajah tersenyum karena Arash memandang dia dengan heran. “Kamu tadi ngapain?” tuan muda menegur karena penasaran mengapa si nona mendadak mengakses ponsel gegara melihat raut wajahnya thunder strom. “Pesan ojek online,” sahut si nona dengan polos, “Jadi Anda tidak perlu memesan taksi untuk saya,” dipandang si tuan muda yang gemas mendengar jawaban dia. “Saya ke toilet dulu,” imbuhnya lagi sambil menaruh sendok ke dalam kotak, lantas cepat mematikan roda infusan, diambil kantong infusan dari tiang, terakhir memberikan ponsel ke sang presdir, “Maaf Tuan, nitip sebentar ponsel saya. Mohon kalau driver ojek chat, Anda tidak membatalkan pesanan, karena saya bisa kena suspens.” Bahkan menitip pesan pula ke pria itu, lantas bergegas menyibak selimut, dan turun dari bed dari arah lain, lalu melesat meninggalkan bilik ini. “Hais!” desis Arash takjub dengan kelakuan si nona, “Serampangan gadis ini,” ujarnya memandang Steve yang juga takjub seperti dia, “Tapi dia sangat menarik.” Imbuh dia melanjutkan perkataan. “Steve,” dipanggil si asisten, “Kirim orang ke Circle Golf, beri pelajaran ke Riko dan Karina yang membuat Lin celaka.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD