Diusir

1045 Words
Wanita yang Diarak Keliling Kampung itu, Istriku Part 3 : Diusir "Saya ... ingin Wenny bisa hidup bahagia, Bu, walau kami sudah berpisah. Saya ... akan memaksa Fatur menikahinya kalau pria tak tahu diri masih tak mau bertanggung jawab. Saya sudah melepaskan Wenny, dan semua itu juga ... karena kelakuan Wenny, Bu. Seharusnya dia menikahi Wenny, sebab sudah lewat juga masa iddahnya." Aku berusaha menjelaskan, karena mungkin Bu Wati mendengar versi yang berbeda dari putrinya. "Semua bukan urusanmu lagi, Man. Kamu tak perlu ikut campur lagi dalam ranah kehidupan Wenny! Segera pergi dari sini, sebelum ayahnya Wenny pulang. Saya tak mau terjadi keributan, terima kasih sudah memperlakukan putriku seperti ini. Allah Yang Maha Mengetahui atas segalanya, walau kami hanya diam atas perlakuanmu ini, Allah yang akan membalasnya." Bu Wati berkata lirih, matanya terlihat berkaca-kaca. Aku terdiam, memang benar semua sudah bukan urusanku lagi tapi entah kenapa, aku merasa masih peduli saja dengan keadaan istri yang sudah menyelingkuhiku ini. Bukan apa-apa, pastinya karena rasa cinta yang teramat besar kepadanya. "Siapa yang datang, Bu?" Wenny keluar dari arah ruang tengah, mata kami beradu. Matanya terlihat sayu dan berlingkaran hitam. Tampilannya masih seperti kemarin, dengan rambut yang acak-acakan serta wajah pucat. Hatiku terasa bergetar memandang Wenny, aku sedih melihatnya seperti ini. Seharusnya ia bahagia dan menikah dengan selingkuhannya itu, tapi mengapa wajahnya penuh duka dan kepiluan? Di mana pria itu? Haruskah aku menyeret Fatur ke sini dan memaksanya menikahi Wenny? Sungguh, aku tak tega melihatnya seperti ini. Bersambung .... "Wenny!" sapaku saat dia mendekat. Wenny menatapku dengan mata sayunya, mata yang dipenuhi lingkaran hitam. Wajahnya pucat dengan rambut panjang yang acak-acakan. Tubuhnya terlihat kurus walau kini ia sedang hamil besar. "Suruh mereka pulang, Bu, lalu kunci pintunya!" Suara Wenny terdengar bergetar, ia lantas berbalik dan melangkah meninggalkan kami yang masih berdiri di depan pintu. "Wenny ... " ujarku lirih, hati ini terasa pilu melihat keadaannya sekarang. "Pulanglah, Man, hubunganmu dengan Wenny sudah berakhir. Maafkan kesalahan putriku, tapi dia telah menerima balasan yang berlipat-lipat lagi. Asal kamu tahu, Wenny tak pernah berzinah dengan pria mana pun.Kesalahannya ... hanyalah karena menerima tamu laki-laki di saat kamu sedang tak di rumah. Ini pelajaran hidup, sekaligus pukulan paling berat dalam keluarga kami. Kami takkan menuntut kalian semua, biarlah Allah yang akan membalas semuanya. Ingat, Man, fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan!!" Wati--ibunya Wenny mendorongku dan Satrio lalu menutup pintu dengan keras. Aku membeku, d**a ini terasa sesak. Kupejamkan mata dan mengepalkan tangan. Jadi Wenny tak berzinah malam itu? Tapi kata Pak RT dan warga ... malah mengatakan hal yang sebaliknya. Siapa yang harus kupercaya? Kepala ini terasa mau meledak memikirkannya. "Ayo kita pulang, Man!" Satrio menepuk pundakku. Aku mengangguk dan melangkah gontai mengikuti Satrio yang kini mendekati motor kami. Melihat keadaanku yang kacau, kusuruh Satrio saja yang membonceng. "Sat, kalau Wenny tak pernah berzinah, apa artinya ... dia sedang mengandung anakku?" tanyaku sambil menepuk pundak Satrio yang kini sedang mengemudikan motor menuju arah rumahku. "Hmm ... bisa jadi," jawab Satrio lirih. "Kalau Wenny tak berzinah malam itu, lalu kenapa dia dan Fatur diarak tanpa busana?" tanyaku lagi, semua pertanyaan ini seakan memenuhi kepalaku. "Aku juga tak tahu, Man. Apa kita ke rumah Pak RT saja untuk menanyakan kronologis kejadiaannya?" Satrio memperlambat laju sepeda motornya. "Iya, Sat, kita ke rumah Pak RT saja kalau begitu. Aku tak bisa tenang jika ternyata semua yang terjadi hanyalah fitnah. Aku sangat berdosa rasanya," jawabku kalut, perasaan ini jadi karuan saja. Satrio membelokkan motornya ke arah rumah Pak RT dan aku semakin tak sabar saja untuk mendengarkan cerita awal mula penggerebekan itu. Hatiku terasa teriris membayangkan keadaan Wenny waktu itu, dia diarak tanpa busana berkeliling kampung, wajar saja dia terlihat seperti tadi. Masih untung dia tak bunuh diri atau juga gila. "Assalammualaikum. Pak RT nya ada, Bu?" Satrio langsung bertanya kepada wanita yang rambutnya disanggul ke atas, yang saat itu sedang menyiram tanamannya. "Waalaikumsalam. Eh, Satrio dan Arman, Pak RT lagi nggak ada di rumah. Kalau boleh tahu, ada apa, ya?" Bu RT--istri dari paman yang merupakan sepupu dari ibuku itu tersenyum ramah. "Ke mana, Paman Asri, Bi? Apa sudah lama perginya?" Aku bertanya dengan panggilan yang tak formal lagi. "Pergi nagih kontrakan, Man, kayaknya bakalan lama deh, soalnya dia baru saja pergi." Istri dari pamanku itu menjawab. Aku membuang napas kasar, dan memutuskan mengajak Satrio pulang saja dulu atau juga mencari warga lainnya yang kebetulan ada waktu itu *** Pak Yahya, dialah yang kami putuskan untuk ditanyai perihal kejadian awal mula penggerebekan itu sebab kata Satrio, dia ada waktu itu. "Pak Yahya, tolong jawab dengan jujur, siapa saja yang mengusulkan penggerebekan Wenny waktu itu?" Aku menatapnya serius. "Hmm ... awal mulanya begini, kami sering melihat pemuda bernama Fatur itu main ke kampung kita. Dia datangnya pasti selalu pas magrib--sekitar pukul 18.00, terus akan pulang pas habis isya--sekitar pukul 19.30. Kami curiga dong, ya, apa yang dilakukan pemuda itu di kampung kita ini. Terus kami buntuti dia waktu itu, dan ternyata dia pergi ke rumahmu. Lalu saya cepat-cepat ke rumah Pak RT buat laporan, Pak Hansip Jaya dan Pak Bani yang saya suruh buat mengintai. Saat kami datang ke sana, Wenny dan Fatur sudah diseret keluar dengan tanpa busana lalu diarak deh mereka." Pak Yahya bercerita dengan antusias. "Jadi, yang awal mula menggerebek adalah Hansip Jaya dan Pak Bani, jadi ... mereka berdua ini yang awal mula memergoki?" Aku menatap tajam pria berambut jarang di hadapanku. Pak Yahya mengangguk. "Oke, terima kasih. Jadi, tugasmua sekarang coba jemput Pak Bani ke sini, Sat? Kamu antar pulang deh, Pak Yahya." Aku menatap sekilas Satrio lalu menyalamkan uang 50.000 ke tangan Pak Yahya. "Apa ini, Man?" tanyanya. "Buat beli rokok, Pak, terima kasih atas ceritanya." Aku berusaha tersenyum. Satri menuruti perintahku, ia lantas pergi mengantar Pak Yahya dan akan kembali dengan membawa Pak Bani. Setengah jam kemudian. Aku sudah keluh kesah menantikan kedatangan Satrio dan Pak Bani, saat ponselku berdering ada panggilan masuk. "Halo, Man, maaf ... aku tak bisa membawa Pak Bani ke rumahmu, beliau sudah wafat sepuluh menit yang lalu." Terdengar suara Satrio dari seberang sana. "Apa, Sat? Pak Bani meninggal?" Aku terkejut. "Iya, Pak Bani telah meninggal dunia," jawab Satrio. Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa orang yang menjadi juru kunci kejadian itu malah meninggal mendadak begini? Aku mengusap wajah, dengan perasaan yang tak menentu. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD