Ica menaikkan matanya keatas, tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Greg. Ica membulatkan matanya tidak percaya kalau benar-benar Greglah yang berada di depannya saat ini. Greg tersenyum melihat Ica telah sadar. Di ciuminya tangan Ica, “Maafkan, Aku Sayang. Aku sudah salah, tidak seharusnya Aku menghina dan membentakmu,” kata Greg. “Maukan, Kamu memaafkanku?” tanya Greg. Ica menganggukkan kepalanya, suaranya tertelan di tenggorokan. Ia merasa tercekat. Sukar baginya untuk mempercayai ucapan Greg, yang berulangkali Greg membuatnya merasa melayang kemudian Ia dihempaskan dengan keras. Greg menatap Ica dengan intens, “Siapa yang sudah menampar pipimu?, apakah Vivianne, tolong ceritakan dengan jujur kepadaku?” cecar Greg kepada Ica. Ica merasa enggan untuk menjawab pe

