"Kalau suatu saat kamu bosan denganku, tolong katakan saja ya? Karena, aku akan lebih menghargai kejujuranmu walau sakit. Ketimbang harus menerima kebohonganmu yang akan lebih membuatku terluka." "Hesti, kamu perempuan yang baik. Aku bangga bisa memiliki kamu. Sampai kapan pun, mungkin aku nggak akan sanggup kehilangan kamu. Kecuali keadaan yang mengharuskanku melakukannya." Keduanya saling pandang sesaat. Pram lebih dulu mengalih tatapan matanya ke arah lain. Ia tak berani menyelami keteduhan dalam bola mata istrinya lebih lama lagi. Mengingat dirinya selama ini penuh dengan rahasia dan kebohongan, membuatnya enggan menerima ketulusan Hesti begitu saja. Ia malu pada dirinya sendiri. Hatinya mungkin benar-benar mencintai wanita itu. Namun, pikirannya mengingingkan hal lain. Sebuah pemba

