Bab 2. Sekretaris Penggoda

1013 Words
Melia mengalungkan tangannya, dan perlahan duduk di pangkuan Rangga. Al hasil membuat jantung Rangga berdegup kencang, saat d**a mereka bersentuhan. Tubuhnya berdesir, merasakan sesuatu yang membuat dia b*******h. Bagaimanapun, dia seorang laki-laki dewasa yang memiliki nafsu. Desahan pun lolos dari bibir Rangga saat jemari Melia menyentuh dan bermain di lehernya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, membuat dia tersadar. Dia meminta Melia turun dari pangkuannya, memudahkan dia mengambil ponselnya dari saku celananya. "Sial milikku menegang!" umpat Rangga pada dirinya sendiri. Ternyata, sang istri yang menghubunginya. Tentu saja dia langsung menerima panggilan telepon itu. Dia tidak ingin membuat istrinya curiga, dengan apa yang terjadi padanya dengan Melia. "Ya, Sayang." Rangga menjawab panggilan telepon dari sang istri. "Mas sudah makan siang? Gimana pekerjaannya di sana? Apa sudah selesai?" tanya Renata. Dia memang sosok istri yang perhatian. Meskipun dia sibuk, Renata selalu berusaha menjadi istri yang baik. Dia selalu menyempatkan waktu untuk memasak, dan menyiapkan semua keperluan suaminya. Sayangnya, dia tidak bisa menemani sang suami bertugas ke luar kota. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. "Sudah, Sayang. Tadi makan bareng sama klien, Mas. Kamu sendiri sudah makan? Ini, Mas baru selesai meeting, dan hasilnya Mas mendapatkan proyek itu," sahut Rangga. Rangga sempat melirik ke arah Melia, yang wajahnya terlihat kesal. Dia merasa kesal dengan kemesraan Rangga pada sang istri. "Berarti, nanti mas akan sering ke sana dong?Ninggalin aku," protes Renata manja. "Enggak kok. Hanya sesekali saja. Jika memang benar-benar Mas harus ke sini aja. Nanti, bisa diwakilkan dengan yang lain atau kalau tidak, nanti kamu ikut saja sama Mas. Biar kita sekalian bulan madu buat dede bayi. Siapa tahu, nanti di sini jadi," rayu Rangga. Dia terlihat bahagia, berbicara dengan sang istri. Rumah tangga mereka selalu harmonis, minim sekali pertengkaran. Keduanya saling mencintai. Berbeda halnya, dengan Rangga yang tertawa bahagia. Melia justru merasa panas, seperti kebakaran jenggot. "Mas, sudah dulu, ya! Ada Asri, ingin bicara sama aku. Nanti kita lanjut lagi ya ngobrolnya. I love you." Renata mengakhiri panggilan telepon dengan suaminya. "Saya minta Bapak tanggung jawab! Gara-gara Bapak, saya kehilangan keperawanan untuk suami saya nanti. Jika Bapak tidak mau bertanggung jawab, saya akan laporkan Bapak ke polisi. Biar istri Bapak tahu, dan reputasi Bapak sebagai seorang pemimpin perusahaan hancur. Bahkan Bapak bisa saja di penjara, karena sudah melecehkan saya," ancam Melia. Dia memang licik. "Kamu yakin, kalau saya yang mengambil pertama kalinya?" tanya Rangga yang kini menatap serius ke arah Melia. Melia sempat merasa gugup. Namun, dia berusaha menghilangkan perasaan itu. Dia tidak ingin, rencananya gagal mendapatkan bosnya itu. Dia tidak mungkin melepaskan bosnya, dari jeratnya. "Tentu saja! Memangnya, Bapak pikir saya wanita macam apa? Meskipun penampilan saya seperti ini, saya masih terus berusaha menjaganya. Tapi, semuanya hancur. Bapak merenggutnya. Bagaimana nasib saya selanjutnya? Bagaimana, kalau tidak ada laki-laki yang mau pada saya?" Melia menangis kembali, memohon iba. Sungguh pilihan yang sulit. Di satu sisi, dia tidak ingin kehilangan Renata. Tapi, dia juga tidak semudah itu terlepas dari Melia. Melia tidak melepaskan dia begitu saja. Ancaman Melia begitu berat baginya. "Mungkin saja, benih Bapak saat ini sudah berkembang di rahim saya. Apa kata orang-orang nanti? Jika saya hamil, tapi tidak memiliki suami." Melia masih terus memojokkan Rangga. "Iya, saya paham. Tapi, saya tidak mungkin menikahi kamu. Seperti ini saja, saya sudah merasa berdosa pada istri saya. Apalagi jika saya menikahi kamu. Dia pasti sangat marah pada saya. Saya sangat mencintai istri saya," jawab Rangga. "Tapi, kalau nanti saya yang justru bisa memberikan keturunan untuk Bapak, gimana? Apa Bapak tega membunuh darah daging Bapak sendiri? Padahal, Bapak sudah sangat menginginkan keturunan. Di sini, posisi saya yang sangat dirugikan." Melia masih terus berusaha, membuat bosnya itu akhirnya menyerah. Rangga tampak terdiam. Dia sangat bingung. Sampai akhirnya, dia berpikir untuk menjalin hubungan rahasia dengan Melia. Dia tidak menyadari, kalau dia sedang menggali lubang kematian untuk dirinya sendiri. Rumah tangganya bisa saja hancur jika Renata mengetahui hubungan dia dengan Melia. "Kita bisa menjalani hubungan secara rahasia, Pak! Tanpa istri Bapak ketahui. Saya tidak akan menuntut Bapak untuk menceraikan istri Bapak. Hanya saja saya butuh kepastian. Kalau nantinya saya hamil anak Bapak, saya ingin mempertahankan anak ini. Dia tidak bersalah." Melia mencoba meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. "Tapi, kita hanya melakukan sekali. Mana mungkin, kamu hamil. Kenapa sih, saat itu kamu tidak menolak saya? Jika kamu menolak, hal ini tidak akan terjadi." "Jadi, sekarang Bapak menyalahkan saya? Saya ini korban, Pak. Kata siapa, saya tidak menolaknya? Saya sudah berusaha sekuat tenaga saya untuk melawan. Tapi, tenaga Bapak malam itu begitu kuat. Bapak memaksa saya!” Melia menjelaskan dengan tegas diiringi isak tangis. Rangga menjadi tidak tega dan menjadi merasa bersalah. "Semua ini memang kesalahan aku. Mau tidak mau aku harus bertanggung jawab. Maafkan aku, Sayang! Satu hal yang harus kamu tahu, rasa cintaku kepadamu begitu besar. Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintaimu," kata Rangga dalam hati. Rangga menghela napas panjang terlebih dahulu. Meyakinkan kalau keputusan yang dia ambil tidak salah. Memang yang terbaik untuk mereka bertiga. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Melia. "Em, baiklah. Saya akan bertanggung jawab, jika kamu nantinya benar hamil anak saya. Jika sampai dua bulan, tidak ada tanda-tanda kamu sedang hamil. Mohon maaf, saya tidak bisa melanjutkan hubungan terlarang ini. Saya akan memberikan kamu uang, untuk kompensasi ganti rugi. Anggap saja saya sudah membeli keperawanan kamu." "Kamu tidak perlu khawatir, di luar sana banyak wanita yang bahkan usianya lebih muda dari kamu mereka sudah dalam keadaan tidak perawan. Meskipun demikian, masih ada laki-laki yang mau padanya. Saya yakin, suatu saat nanti akan ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan kondisi kamu seperti itu." Rangga mencoba memberi pengertian. "Tapi sayangnya, aku maunya kamu. Dengan aku menjalin hubungan dengan kamu, aku akan hidup dengan penuh kemewahan. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu," kata Melia dalam hati. Rangga tidak menyadari, kalau dia sudah masuk perangkap licik Melia. Sejak awal bekerja, dia memang sudah jatuh cinta pada sosok Rangga. Laki-laki yang mapan, gagah, dan memiliki wajah tampan. "Kita lihat nanti, apa yang terjadi ke depannya! Aku yakin, kamu pasti akan memilih aku daripada istrimu." "Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa memilih jalan ini. Semoga kamu mau mengerti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD