Bukankah tidak salah berharap dan berandai-andai atas kebahagiaan diri kita sendiri?
***
Senyuman di bibir Erin tak kunjung luntur, kini ia duduk di kursi semen yang ada di lapangan basket. Dia sengaja menunggu Kenzie yang tengah latihan basket sesudah menjalankan tesnya untuk pertukaran pelajar dua minggu lagi.
Jika lolos, Kenzie akan menetap di Kanada selama tiga bulan dan pelajar Kanada yang bekerja sama dengan sekolahnya akan menetap disini.
Ahhh, Mungkin ini penyebab Kenzie akan menembaknya hari ini!
Erin memutuskan untuk beranjak sejenak, sekedar membeli minum untuk Kenzie.
Setelah mendapatkannya, Erin kembali ke tempat duduk yang tadi ia duduki. Namun, alangkah terkejutnya Erin melihat tas dan skateboardnya sudah tergeletak di pinggir lapangan, bahkan tas yang ia tinggalkan terinjak-injak.
Kurang ajar! Mengapa cewek-cewek ini menyebalkan sekali?! Ya ampun, setelah Erin lihat, ternyata mereka tengah menyoraki Kenzie!
"ADUHHHH!!! Dasar cabe gorengan! Ada barang orang juga, ngapa di buang seenaknya, sih?!"
Erin memungut tasnya dan skateboarnya lalu menatap cewek-cewek yang menggerombol heboh di depannya, berharap detik itu juga gerombolan kaum alay ini enyah.
Tapi, semakin Erin menatapinya dari belakang, semakin nyaring teriakan mereka. Erin mendengus dan hendak menjambaki rambut satu-satu mereka namun suara Kenzie berhasil menghentikan aksinya.
Kenzie dari tengah lapangan meneriaki namanya, otomatis wajah garangnya berubah menjadi riang gembira, bahkan gerombolan cewek-cewek yang tadi bersorak heboh untuk Kenzie pun serentak menoleh ke arahnya dan melayangkan tatapan sinis. Erin mengendikkan bahunya acuh, dia memasang wajah angkuh dan berjalan ke arah Kenzie.
Sampai di depan Kenzie Erin langsung menyondorkan botol minuman yang memang sengaja ia beli untuk Kenzie.
"Nih, minum dulu. Oiya, mana handuk lo?"
Kenzie yang masih meneguk minumannya menunjuk tasnya untuk memberitahu Erin. Erin langsung berjalan menuju kursi pinggir lapangan sambil memasang wajah dengan senyum sombong.
Sambil mengelap keringat Kenzie dengan wajah songong, "Mamam, tuh. Teriak sampe radang, ehhh, Kenzienya demen sama gue." gumamnya mengejek segerombolan cewek-cewek heboh yang bertambah heboh karena aksi Erin.
Setelah berganti baju, Kenzie menghampiri Erin yang kini tengah bermain game di ponsel miliknya. Suara pekikan atas kekalahan Erin dari game yang dia mainkan tertangkap oleh gendang telinga Kenzie. Kenzie segera menyahut ponselnya membuat Erin mendongak dan merengut kesal.
"Udah selesai?" Kenzie mengangguk menjawab pertanyaan Erin.
Erin berdiri lalu tanpa diduga Kenzie menarik pergelangan tangannya dan membawanya melangkah menuju tempat yang Kenzie janjikan padanya. Erin berjalan di belakang Kenzie dengan tersenyum manis, hari ini, hari dimana dia akan lebih dekat dengan Kenzie.
Ternyata Kenzie mengajaknya ke sebuah toko aksesoris wanita. Kenzie membawanya kesini untuk apa?
"Lo pilih aja yang mana."
Erin menoleh, menatap Kenzie dengan binar bahagianya. 'Ini ceritanya, sebelum nembak, dia ngasih gue hadiah dulu gitu? Beuhhhh... So sweet banget sih.' batin Erin.
Erin segera berlari menuju etalasi berisikan cincin hiasan yang menarik perhatiannya. Erin menunduk untuk meneliti satu persatu cincin di dalam etalase dengan Kenzie yang ikut melihat-lihat. Erin menunjuk salah satu cincin di dalam etalase itu serta meminta penjaga toko mengambilkannya.
Erin mengambil alih cincin tersebut dan memperlihatkan pada Kenzie. Kenzie menerima cincin tersebut, menelitinya sekilas lalu memasangnya pada jari manis Erin.
Erin langsung terpengarah atas apa yang dilakukan Kenzie padanya. "Bagus." pujinya.
Erin langsung gelagapan dan mengangguk. "Pasti dong, siapa dulu yang pilihin." Kenzie tersenyum dan mengacak gemas rambut Erin. "Ada lagi?" Erin membelalak senang.
"Lagi?"
Kenzie mengangguk sebagai jawaban lalu mengikuti langkah Erin yang kini beralih melihat gelang, dan kalung.
Kenzie pun melakukan hal serupa seperti saat Erin memlih cincin tadi. Erin yang di begitukan oleh Kenzie pun merasa terbang melayang jauh di atas awan, benar-benar merasa bahagia!
Usai berbelanja, Kenzie membayar ketiga benda yang dipilih Erin itu untuk dibayar. Kenzie keluar dari toko dan langsung mengandeng tangan Erin yang memang sengaja ia suruh untuk menunggu di luar saja.
Erin sempat bingung, kenapa Kenzie tidak memberikan tote bag itu padanya? Apakah mungkin.... Kenzie akan memberikannya saat dirinya sudah berada di depan rumah? Pikir Erin.
Erin pun tersenyum saat berjalan bersama dengan Kenzie, tak henti-hentinya dia menatap gengaman tangannya dengan Kenzie serta tote bag yang Kenzie bawa. Ah Erin jadi ingin koprol saat sekelebat bayangan Kenzie menembaknya nanti.
Langkah Kenzie berhenti saat sudah berada di depan rumah Erin, mereka berdua saling berhadapan lalu saling menatap. Kenzie dengan seulas senyumannya dan Erin dengan senyum tertahannya.
Erin hendak bersuara namun Kenzie membungkam bibirnya dengan jari telunjuknya. Suasana mendadak hening, suara jangkrik lah yang mendominasi karena sudah sembilan malam.
Erin menahan gejolak di dalam hati yang memberontak, Kenzienya, KENZIENYA!!!
Kenzie meletakkan tangannya di kepala Erin, Erin memilih diam, menunggu apa yang di katakan Kenzie selanjutnya.
"Masuk, gih. Udah malem."
Erin mengerjapkan matanya. Ini telinganya tidak salah dengar kan?
"Gue pulang dulu, udah malam. Salam buat ayah sama bunda." Kenzie melepas tangannya yang bertengger di kepala Erin lalu melangkah menjauh.
Erin berbalik sambil kebingungan, bahkan sangking bingungnya kepalanya pun sampai dimiringkan, Erin masih saja seperti itu ketika memasuki rumah. Tidak mengucap salam, bahkan tidak mendengar panggilan ayah dan bundanya. Erin hanya berjalan dengan banyak pikiran menuju kamarnya di lantai dua.
Kini Erin tengah berbaring sambil memeluk gulingnya, otaknya masih berpikir keras, mengapa ekspektasinya berbeda dengan apa yang terjadi barusan.
"Aneh. Kenapa Ken tiba-tiba pergi?" tanyanya bermonolog.
"Apa Ken mau kasih besok?" senyum Erin mengembang dan detik berikutnya luntur.
"Emang besok hari spesial?" Erin berfikir. "Kayaknya engga, deh."
Erin tiba-tiba mengubah posisinya menjadi duduk. "Jangan-jangan, Ken siapin kejutan lain? Ahhh!!! Kenapa sampe segitunya sih ke gue." ujarnya sambil memukul udara di depannya karena salting.
Erin tersenyum lebar. "Mungkin, besok Ken nembak gue di depan banyak orang gitu? Ya Allah! Malu deh, gu--"
"Malu kenapa, Rin?"
Erin menoleh ke arah pintu, nampak ayahnya dan bunda yang berdiri di belakang ayah pindah ke samping ayah.
Erin mengaruk alisnya gelagapan. "Ehhh Ayah, Bunda. Nggak yah, itu tadi, emmm, Erin malu abis kesandung trus diketawain orang." alibunya.
"Pantesan, tadi masuk nggak salam, nggak denger lagi bunda sama ayah panggil." ungkap bunda Erin.
Dan Erin hanya menyengir. "Yaudah, sekarang tidur. Besok sekolah."
Erin mengangguk, bunda serta ayahnya mencium keningnya lalu mematikan lampu kamar dan keluar seraya menutup pintu kamar Erin.