"MBAK! BUATIN WEDANG JAHE ANGET, SETELAH AKU MANDI HARUS SUDAH JADI!" teriak Bianca usai masuk ke dalam rumah, tiga pembantu di rumah itu dengan cepat mendekat, salah satunya adalah kepala pelayan, seorang wanita paruh baya bernama Bi Asih.
"Nyonya semalam kemana saja? Bapak nyariin." Tanya Bi Asih dengan dengan sangat cemas. Bianca tak pernah pulang larut malam, paling malam jam 9 dan itu saja Bianca tak lupa memberitahu dirinya kalau dia pulang terlambat dan penyebab kenapa ia pulang terlambat. Semalam dia justru tidak pulang, pulang dalam keadaan rambut berantakan dan Bi Asih bisa mencium aroma tidak sedap dalam Bianca.
"Bapak siapa?" Tanya balik Bianca.
"Pak Alden."
"Ngapain dia nyariin gue? Tumben." Balas Bianca dengan acuh.
"Pak Alden semalam pergi dinas keluar negeri, ada bisnis penting katanya. Mungkin, pak Alden mau pamitan."
"Sejak kapan dia mau pamitan sama gue? Gak inget? Tahun lalu juga dia pergi keluar negeri, gua sampe mau mati nyariin dia. Gak ngasih tahu, gak ngasih kabar, kenapa sekarang mau pamitan sama gue?" Sinis Bianca dengan santai lalu menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya perlahan.
"Mungkin, Pak Alden tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. Sebab itu, mau pamitan ke Nyonya."
Bianca menghela nafasnya dengan berat, lalu meminum sisa air di dalam gelas dengan terburu.
"Gue mau mandi, buatin wedang jahe anget. Setelah mandi pokoknya harus siap. Dan lagi, gue belum sarapan tadi pagi. Gue laper."
"Mau di masakin apa, Nyonya?" Tanya salah satu pembantu yang lebih muda.
"Apa aja."
"Sebenarnya, Nyonya semalam dari mana? Kenapa berantakan sekali?" Tanya Bi Asih dengan penasaran.
"Kepo."
Usai mengatakan satu kata tersebut, Bianca langsung masuk ke dalam kamarnya, ia ingin segera mandi, berendam di air hangat dan sabun beraroma mawar favoritnya.
"Nyonya bau alkohol, mungkin semalam dia habis dugem." Gumam pelayan yang lebih muda.
"Sudah, jangan bergosip. Masak sana!" Titah Bi Asih dengan tegas, ke duanya langsung segera bergegas memasak dan membuatkan menu makanan sekaligus wedang jahe request dari Bianca. Sedangkan Bi Asih langsung menelpon Alden untuk memberitahu semuanya.
-
"Enak banget," ucap Bianca usai menikmati setengah gelas wedang jahe hangat, minuman ini benar-benar mampu membuat kepalanya sedikit membaik. Bianca juga mulai makan dengan lahap, maklum saja, ia belum sarapan karena bangun kesiangan dan sibuk menghubungi Luna.
"Selamat siang, Tuan." Sapa Bi Asih usai seseorang datang, dua pelayan yang lain juga dengan cepat membungkuk sebagai tanda hormat kepada sang majikan.
Bianca menghentikan kunyahannya, rasanya ia ingin memuntahkan semua makanan yang telah masuk ke dalam perutnya. Tangannya yang memegang sendok mendadak gemetar hebat, dengan cepat tangan kirinya langsung memegangi tangan kanannya agar tak gemetar lagi. Tapi sayangnya, gemetar itu sudah pindah ke kedua kakinya, mungkin untuk berdiri saja ia tidak akan mampu.
Bagaimana ini?
Bianca takut, bagaimana jika Alden tahu apa yang semalam ia perbuat? Ia lupa jika Alden memiliki banyak koneksi, bisa jadi ia menyuruh orang untuk mengikutinya semalam.
Alden menatap ke arah Bianca sekilas lalu duduk berhadapan dengannya.
"Saya mau makan." Ucap Alden dengan dingin, pembantu langsung dengan cepat mengambilkan satu set alat makan untuk Alden. Kini, Bianca dan Alden berada dalam satu meja untuk menyantap makan siang.
Bianca meyakinkan dirinya agar tidak takut, melihat Alden yang masih bersikap cuek dan dingin seperti biasa, sepertinya dia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi.
"Katanya keluar negeri semalam, kok udah pulang?" Tanya Bianca dengan sok cuek, ia yakin pertanyaannya tidak akan di jawab seperti biasa, jadi ia tidak berharap akan mendapatkan respon.
"Di batalkan." Jawab Alden buka suara. Bianca cukup terkejut omongannya di respon, tapi ya---sudahlah. Ia kembali melanjutkan makannya.
Alden menatap dingin ke arah Bianca, mengamatinya dengan seksama dari ujung rambut hingga setengah badan. Dan, tatapan itu bisa di rasakan oleh Bianca. Tangan Bianca kembali gemetar, bahkan kali ini tidak hanya bagian kanan saja, melainkan ke duanya.
"Sakit?" Tanya Alden pada Bianca.
Bianca menggeleng pelan. "Kamu gemetar." Imbuhnya mengamati setiap pergerakan sang istri.
"Lo bikin gue takut!" Seru Bianca dengan cepat. Kening Alden mengerut, ia merasa tidak melakukan apapun, kenapa harus takut?
"Lo natap gue kayak gitu. Kayak gue penjahat aja."
"Emang bukan?"
"Lo ngatain gue penjahat?" Amuk Bianca dengan sisa-sisa keberaniannya yang tinggal sangat sedikit.
Alden kembali diam, sibuk menyantap makanannya dengan lahap. Sedangkan Bianca tak bisa makan dengan lahap, padahal cacing-cacing di perutnya masih kelaparan minta asupan. Tapi apalah dayanya, tangannya bahkan tak mampu menggenggam sendok dengan baik.
"Ngapain diem? Makan!" Titah Alden pada Bianca. Bianca memegang sendoknya dan mulai menyuap dengan tangan yang gemetar hebat, ia merasa seperti penderita stroke jika begini. Bahkan nasi yang satu sendok penuh kini sampai ke dalam mulutnya hanya seperempat karena terjatuh dalam perjalanan.
"Nyonya baik-baik saja?" Tanya Bi Asih datang mendekat. Alden menatapnya dengan datar, bingung juga dengan apa yang terjadi pada sang istri.
"Tadi pagi kan gue udah bilang, gue belum sarapan. Jadi wajar kalau gemetar." Jawab Bianca alibi, padahal beberapa saat yang lalu sebelum kedatangan Alden, Bi Asih melihat dengan jelas Bianca makan dengan lahap dan lancar. Apa ini alasan Bianca untuk mencuri perhatian Alden?
Bi Asih mengundurkan diri, ia bahkan meminta dua pembantu yang lain untuk segera meninggalkan ruang makan, memberikan waktu untuk Alden dan Bianca berduaan di sana menikmati momen kebersamaan yang sangat jarang terjadi setiap harinya.
"Mau kemana?" Tanya Bianca pada Bi Asih, tapi mereka justru tak mendengarnya dan pergi dari sana.
"Semalam kemana?" Tanya Alden dengan suara khasnya yang berat dan serak.
"Ke rumah orang tua, nginep. Gak papa, kan?"
"Nginep di mana?"
"Di rumah orang tua gue."
"Saya semalam ke sana."
"Kemana?"
"Ke rumah orang tua kamu."
"Lo? Ke rumah Mama Papa?"
"Iya, kamu gak ada di sana."
Matilah Bianca.
"Ngapain Lo ke sana? Tumben banget."
"Gak usah mengalihkan pembicaraan, saya mau kamu jujur. Kemana kamu semalam?"
Bianca diam cukup lama, bingung harus menjawab apa. Berbohong juga tidak ada gunanya, Alden pasti akan tahu.
"Ke club, dugem." Jawab Bianca akhirnya jujur.
"Kenapa kamu ke sana?"
"Capek hati, capek pikiran. Pokoknya gue capek semuanya."
Alden beranjak, berjalan mendekat ke Aran Bianca lalu membalikkan tubuh Bianca agar berhadapan dengannya. Perlahan Alden mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca, hal itu tentunya membuat Bianca berdebar, bukan jatuh cinta, tapi ketakutan.
"Jangan ke sana lagi," larang Alden dengan tegas.
"Semakin Lo larang gue, maka semakin gue bakal Dateng ke sana tiap malem." Tantang Bianca mencoba untuk tidak mau tertindas oleh sikap dan tatapan Alden.
"Kamu pikir, itu tempat yang aman buat orang kayak kamu?"
"Emang kenapa? Gue bisa jaga diri."
"Jaga diri? Bahkan kamu gak inget apa yang terjadi semalam." Ucap Alden lalu melepaskan.