Bab 1 : Hilang

1033 Words
Bianca meneguk segelas kecil alkohol hingga kandas hanya dengan sakali teguk. Gemerlap lampu di klub malam membuat gairahnya semakin membeludak, meluapkan semua amarah, kecewa dan kebencian yang selama 2 tahun ini ia pendam lewat dengan beberapa teguk alkohol hingga kepalanya terasa sangat pening dan berat. "Udah udah, ini pertama kalinya Lo minum alkohol. Jangan banyak-banyak, entar mabuk." Tegur Luna-sahabatnya yang malam ini menemaninya ke klub malam. Sebenarnya, Bianca sudah lama ingin pergi ke dunia malam ini, tapi apalah dayanya, nyalinya cukup kecil, ia terlalu polos untuk kehidupan seliar ini walaupun usianya sudah menginjak 28 tahun. Tapi malam ini, ia memberanikan diri untuk datang, dengan di temani Luna ia memesan beberapa gelas minuman alkohol dan ia habiskan semuanya. Tak sampai di situ, ia bahkan memesan dua botol alkohol lagi, salah satu jenis alkohol yang cukup mahal. "Gila, ini sebotol kecil harganya 9 juta, Bi." Pekik Luna terkejut usai melihat bill yang tersedia di atas meja usai pesanan mereka datang. Bianca mengeluarkan kartu kreditnya, dengan setengah sadar karena ia sudah mulai mabuk, ia memberikan kartu tersebut pada pelayanan. "Lo serius? Kalau suami Lo tahu gimana? Lo ketahuan mabuk aja udah pasti kelar hidup Lo. Di tambah lagi Lo keluarin duit sampe segitu banyaknya buat beli alkohol?" Luna merasa sangat was-was, ia takut di salahkan karena tindakan berani Bianca. Bukan apa-apa, suami dari sahabatnya ini adalah bos di kantor tempat ia bekerja, ia takut di pecat dengan tuduhan mengajak Bianca melakukan hal yang buruk, belum lagi kalau dirinya di tuntut. "Jangan mas!" Tegur Luna pada pelayan yang beberapa saat lalu menerima kartu kredit Bianca. "Batalin aja pesanannya, bayar yang sudah di minum saja." "Maaf Kak, terlambat. Pembayaran sudah selesai." Balas pelayan tersebut dengan polos lalu mengembalikan kartu kredit tersebut. Luna menatap Bianca tak percaya, sahabatnya yang polos kini sudah terkontaminasi alkohol, bahkan sekarang Bianca sudah menghabiskan sebotol alkohol berharga selangit tersebut. Dan kini dia mulai membuka botol ke dua. "Cukup. Lo gila!" Maki Luna menahan tangan Bianca yang hendak membuka botol ke dua. Bianca menatapnya dengan tajam, mata merahnya berkaca-kaca lalu mulai menangis sesegukan sembari berbicara ngelantur khas orang mabuk. "Dua tahun gue serumah sama Alden, gue berusaha buat berbakti sama dia sebagai seorang istri. Tapi apa balasan dia ke gue? Gue gak pernah di anggap." Tutur Bianca dengan ke dua mata yang memerah, efek dari menangis sekaligus mabuk. Bianca mulai tidak sadar, meracau tidak jelas mengutarakan semua isi hatinya, sesekali ia meneguk minumannya lalu menelannya dengan susah payah. Ini adalah pertama kalinya Bianca meminum alkohol, wajar saja jika mudah mabuk dan sulit menelannya. Luna tak lagi menghentikannya, membiarkan sahabatnya tersebut meluapkan semua perasaan yang selama ini dia pendam sendirian. Ia pikir, Bianca memiliki kehidupan yang lebih baik darinya, menikah di usia 26 tahun dengan seorang duda kaya raya. Hidup tak perlu bekerja susah payah mencari uang seperti dirinya, dan tinggal menunggu uang dari suami. Tapi siapa sangka, justru kehidupan rumah tangga Bianca seberantakan itu. Bianca menangis meraung-raung, kadang berteriak cukup keras untuk meluapkan segalanya. Dua tahun yang lalu, ia menikah dengan Alden Pandu Diningrat, seorang pria kaya raya dari keluarga terpandang. Ke dua orang tua mereka bersahabat sejak lama, walaupun berbeda kasta, pernikahan mereka akhirnya terjadi karena persetujuan orang tua mereka. Status Alden saat itu adalah Duda, tak memiliki anak dan memiliki vonis mandul. Istrinya menceraikannya karena masalah keturunan dan berakhir perselingkuhan. Bianca pikir, jika ia bersikap sangat baik, maka Alden akan menyayanginya sama seperti dia menyayangi mantan istrinya. Tapi Bianca salah, Alden memiliki trauma yang cukup menyakitkan, dan hingga dua tahun pernikahan mereka, suaminya tersebut sama sekali belum menaruh hati padanya. Bahkan, ke duanya tidur di ranjang yang terpisah, ke duanya seperti orang asing yang kebetulan tinggal bersama. Bahkan untuk saling bicara satu katapun, sangat jarang. Di tahun pertama pernikahan mereka, Bianca masih bersemangat mencoba menarik perhatian Alden, tapi sayangnya tidak ada respon apapun dari pria itu. Bahkan, Bianca sering kali di buat kecewa karena tingkahnya, setelah itu Bianca mulai lelah, lalu ke duanya sama-sama bersikap dingin seolah tak mengenal satu sama lain. Satu jam Bianca meracau tidak jelas, dan kini wanita itu terkapar tak sadarkan diri di atas sofa club malam. Luna berusaha kuat membawa Bianca keluar dari dalam club. "Gila, Lo berat banget, Bi. Capek gue." Keluh Luna usai berhasil membawa Bianca keluar dari area tersebut. Kini ke duanya duduk di lantai seperti orang tidak berguna. Bianca sudah tak kuasa lagi membuka matanya, sedangkan Luna justru kebelet ingin buang air sekarang. "Lo tunggu sini, jangan kemana-mana. Ok?" Peringat Luna pada Bianca yang terkapar tak berdaya, sedangkan dirinya dengan cepat mencari toilet untuk menuntaskan hajadnya. - "Kampungan banget gue, minum minuman club malam aja gue langsung mules. Emang paling bener minumnya wedang ronde aja, geser dikit jahe rempah." Gerutu Luna sembari menepuk perutnya yang lega usai ia buang air besar. Dengan langkah santai, ia berjalan menyusul Bianca yang ia tinggal sendirian. "Bianca? Di mana dia?" Pekiknya dengan terkejut usai melihat Bianca sudah tidak ada lagi di tempat yang beberapa saat lalu ia tinggalkan. "BIANCA!" teriak Luna dengan cukup keras. Satu orang penjaga club malam datang menghampirinya. "Di larang berteriak di sini." Tegurnya dengan sangat tegas. Luna tersentak takut. "Kamu lihat cewek yang tadi duduk di lantai sini? Kemana dia?" "Di bawa bos." "Bos? Bos siapa?" Panik Luna dengan cemas. Dari sepengetahuannya, pasti ada banyak bos yang sering main keclub malam. Tapi bos apa? Bos mafia seperti yang ada di drama-drama China? "Pemilik club ini." "Di bawa kemana?" "Mana saya tahu." "Cek cctv, gue mau cek cctv. Itu temen gue!" Teriak Luna dengan sangat panik, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bianca? Walaupun Alden sangat tidak peduli dengan Bianca, tapi Bianca masih punya orang tua, bagaimana jika nanti ia di tuntut? Bianca juga tak boleh kenapa-napa, dia adalah sahabatnya satu-satunya. "Bawa dia pergi." Titah penjaga club tersebut pada dua orang temannya. "Gue mau cek cctv!" Amuk Luna berusaha untuk berani, ia bahkan menolak saat dua orang pria menarik tangannya dan menyuruhnya untuk pergi. Alhasil, karena Luna terus sah meronta, ia akhirnya di seret keluar dari gedung club dan di dorong dengan begitu kuat hingga terjatuh. "Duh gimana nih? Bi? Lo di mana?" Luna berusaha menghubungi Bianca lewat panggilan telepon, berulang kali namun sama sekali tidak ada jawaban. Ia hampir gila karena tak kunjung menemukan Bianca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD