9. Di Balik Sifat Angkuh Sang Nona

1110 Words
Chris yang belum mengetahui kejadian yang sebenarnya bertanya, "Ada apa dengan Nona Scarlett?" Tobias menatap Chris tajam, "Sebaiknya kau antar terlebih dahulu. Nona Scarlett sedang membutuhkan pertolongan segera!" Dengan perasaan panik yang coba ia sembunyikan, Chris membawa dokter Steffany menaiki tangga. Lalu Chris membawanya ke sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Di dalam kamar, Chris dapat melihat Scarlett yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Di sampingnya ada Maria yang duduk menatap putrinya cemas bersama Diana di belakangnya. Sementara Thomas dan William berdiri tak jauh dari ranjang. Dokter Tiffany segera menghampiri Scarlett dan melakukan pemeriksaan." Maria beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Thomas. Dan sang suami langsung merangkul Maria ke dalam pelukannya. "Tadi saat bangun tidur dia mengeluh pusing hebat sampai muntah beberapa kali." ucap Maria bergetar, menceritakan keluhan yang dialami Scarlett beberapa waktu lalu. "Apa ada cedera dalam, dok?" tanya Thomas khawatir. Dokter Steffany masih terdiam, dirinya tengah menganalisa penyebab yang dialami Scarlett. "Chris, bukannya kemarin Scarlett baik-baik saja saat menunggangi kuda?" "Dia tidak jatuh, kan?" tanya Maria beruntun, mencoba mencari keterangan melalui pengawal pribadi putrinya. Chris yang sedari tadi terdiam menatap Scarlett mendongak dan menggelengkan kepala, "Tidak, nyonya. Nona Scarlett tidak mengalami kecelakaan apapun saat menunggang kuda kemarin sore." Steffany mengakhiri pemeriksaannya, ditatapnya Maria dengan tatapan serius, "Aku tidak bisa memeriksanya secara detail sekarang, harus dilakukan pemeriksaan rontgen dan cek lab. Apa obat yang kuberikan masih rutin dikonsumsi?" tanya Steffany. Maria mengangguk, "Ya, dia masih mengkonsumsinya hingga sekarang." "Mungkin ini ada keterkaitannya dengan masalah psikologinya. Anda tahu, benturan itu menyebabkan Nona Scarlett mengalami kehilangan seluruh ingatannya. Ada baiknya segera lakukan tindakan dengan psikolog yang tepat. Aku akan merekomendasikan dokter Albert untuk konsultasi masalah ini. Dan saat ini, aku hanya bisa memberi obat pereda sakit kepada Nona Scarlett." Kedua orang tua Scarlett mengangguk, mengerti apa yang disampaikan dokter pribadi mereka, "Ya, terima kasih atas sarannya dokter. Kami akan mengunjungi dokter Albert sepulang dari sini." sahut Thomas. Dokter Steffany mengangguk, lalu membereskan peralatan pemeriksaannya sebelum beranjak dari sana, "Kalau ada keluhan lain setelah sadar nanti, segera larikan Nona Scarlett ke rumah sakit. Kalau begitu, aku permisi." Thomas menggiring Steffany keluar dari kamar, lantas kembali berbalik menuju ke arah Chris yang masih saja terdiam di tempatnya. "Chris!" seru William disaat Chris tak kunjung beranjak dari tempatnya. Chris tersadar dari keterdiamannya, lalu membungkukkan badan sebelum pergi meninggalkan kamar. William mendengus kasar melihat kepergian lelaki itu, dimana ia ingat sikap Chris yang sedari tadi begitu lancang saat menatap tubuh tak berdaya sang adik. **** Chris membawa Scarlett kembali dalam perjalanan pulang. Sejak sadar, wanita itu meminta agar pulang lebih awal dan memilih beristirahat di rumah. Kedua orang tuanya setuju akan pilihan itu, mereka membiarkan Scarlett pulang bersama sopir dan Chris yang menemani putrinya. Di dalam mobil, Scarlett tak hentinya meringis. Hal itu membuat Chris merasa cemas dengan keadaan wanita itu. "Chris... Bantu pijat kepalaku lagi." ujar Scarlett yang tengah menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata. Chris memandang ragu, ingatannya kembali ke sebuah bekas jahitan luka di belakang kepala Scarlett, "Apa tidak apa-apa? Mengenai luka di belakang..." ungkap Chris akan keraguannya, namun Scarlett membuka matanya nyalang dan memotong ucapannya,"Cepat lakukan saja!" Chris pun mendekatkan tubuhnya ke arah Scarlett, mengulurkan tangannya perlahan sebelum jemarinya yang kasar bertemu dengan permukaan kulit dahi yang halus milik Scarlett. Jemari Chris mulai bergerak perlahan memijat kening Scarlett, menimbulkan desahan nyaman yang dikeluarkan mulut Scarlett merasakan pijatan itu. Kerutan di dahi Scarlett memudar seiring dengan pijatan yang Chris lakukan. Hingga beberapa saat kemudian, nafas Scarlett mulai teratur, matanya terpejam tenang dengan bisikan lirih yang mengiringi tidur lelapnya. "Aku tidak tahu kapan penderitaan ini berakhir." **** Chris berjalan membawa Scarlett yang terlelap dalam pangkuannya ke dalam kamar luas wanita itu. Wanita itu nampak nyaman meringkuk dalam dekapan tangan Chris yang membawa bobot tubuhnya. Chris lantas membaringkan tubuh Scarlett di atas ranjang. Namun sepertinya Scarlett menginginkan sentuhan Chris lebih lama dalam tidurnya terlihat dari pelukan Scarlett yang semakin mengerat di lehernya sehingga Chris kehilangan keseimbangan dan menimpa tubuh di bawahnya. "Nona Scarlett, tolong lepaskan tanganmu!" seru Chris pelan, namun wanita di bawahnya tak bergeming, matanya tetap terpejam . Entah tidur benaran atau hanya pura-pura. Chris berusaha melepaskan belitan tangan yang melilit tubuhnya. Namun Scarlett bak gurita yang menempeli tubuh, sangat erat dan sulit dilepaskan, bahkan kakinya ikut melingkari pinggang Chris membuat pria itu menghela nafas lelah. Karena tak mungkin terlepas, Chris memilih membenarkan posisi Scarlett agar ia dapat berbaring dengan nyaman di pelukan wanita itu. Chris merasa tak pernah sepayah ini dalam menghadapi sebuah serangan. Bukan serangan berbahaya yang dapat melukai tubuhnya, namun serangan yang lebih berbahaya dari sekedar serangan fisik. Ada hal lain yang terusik akibat perlakuan Scarlett terhadap tubuhnya. Sebuah hasrat yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan. "Tetap disini, temani aku..." gumam Scarlett seraya melanjutkan tidurnya lebih lelap, meninggalkan Chris yang sadar dan tersiksa karenanya. **** Beberapa jam kemudian, Scarlett terusik dalam tidurnya kala tubuh rampingnya terasa sesak tertimpa sebuah beban berat. "Ehm.. apa ini?" tanya Scarlett dengan mata setengah terbuka. Tangannya meraba-raba benda besar dan panjang yang sedikit berbulu dan tengah melilit tubuhnya. Scarlett merasa penasaran, namun matanya terasa sulit terbuka. Tangannya bahkan tak berhenti meraba hingga ia menemukan ujung yang bercabang menyerupai jari manusia. Jari? Manusia? Scarlett tersentak, matanya terbuka seketika. Diliriknya tangan yang tengah menyentuh benda itu. Sebuah tangan manusia dewasa tengah memeluknya di atas ranjang! Brengsek! Siapa yang dengan berani menyentuh dirinya?! "Siapa ka~, Chris?!" "Kenapa kau tidur di kamarku?!" pekik Scarlett seraya menyikut rahang Chris dengan sikunya. Seketika Chris terbangun dan mengerang merasakan sakit di bagian rahangnya, "Kenapa kau memukulku, Nona?!" tanya Chris marah karena tidur lelapnya terganggu dan terbangun dengan rasa sakit. Scarlett terperangah melihat kemarahan Chris. Bukankah dia yang seharusnya marah? Kenapa lelaki itu seolah tak terima dibangunkan dan malah memarahinya?! "Kau... m***m!! Kenapa kau tidur di kamarku?!" jerit Scarlett menyadarkan posisi Chris saat ini. Mata Chris memicing, melihat tingkah Scarlett yang seolah korban dari pencabulan, "Kau yang m***m, nona! Kau yang menyeretku tidur di kasurmu!" "Tidak mungkin!! Pergi kau! Enyah dari sini!!" umpat Scarlett seraya menyerang Chris dengan seluruh kekuatannya. Chris segera bangun dan menghindari setiap serangan yang Scarlett lakukan. Ia tak segan melompat dari atas ranjang dan langsung lari terbirit-b***t meninggalkan kamar wanita itu. "Astaga..." gumam Chris terengah setelah berhasil keluar dari kamar yang seperti kandang singa betina yang tengah mengamuk. Nafas pria itu terengah dengan d**a yang terasa sesak. Ia berhenti sejenak di ujung tangga sebelum berjalan seperti biasa, tak ingin orang-orang di mansion terheran dan mengundang tanya kepadanya. Namun, ada sosok lain yang ternyata sudah melihat Chris yang lari terbirit-b***t keluar dari kamar sang nona. Wajah itu menyimpan banyak tanya dalam benaknya mengenai kejadian yang dilihatnya, terlebih keberadaan Chris yang terdiam lama di dalam kamar sang nona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD