Scarlett membawa kudanya menyusuri area perkebunan Fransisco yang luas. Cahaya senja di sore hari menambah daya pikat pemandangan alam tersebut. Scarlett merasa tak setenang ini berada di alam luar selain rumahnya.
Entah kenapa, setelah kejadian itu, hidup Scarlett dirasa penuh kegelisahan dan ketakutan. Namun Scarlett sendiri tak tahu hal apa yang menjadi penyebab dalam kemelut hatinya.
Semua orang memang merayakan dirinya yang kembali. Mereka tersenyum haru, bersuka cita menyambut dirinya. Namun ada satu hal yang dirasakannya, kosong, hampa. Tidak ada hal yang membuatnya merasa lebih berarti, ia merasa kosong dan kehilangan jati diri.
Scarlett mengambil nafas dalam-dalam, mencari ketenangan melalui udara yang dihirupnya. Hingga sebuah deheman menyentaknya dan pikirannya kembali ke realita.
"Kau sangat berani saat menaiki kuda ini, nona." ucap Chris dengan nada memuji.
Scarlett melirik ke belakang dimana Chris duduk,"Aku harus bertindak untuk membungkam mulut kotor mereka, bukan?"
"Dan kau mengacaukannya!" sungut Scarlett masih kesal dengan tindakan lelaki di belakangnya.
Sebenarnya, Scarlett sendiri merasa tidak menyangka akan keberanian dan tindakan spontan yang dilakukannya. Karena sebelumnya, ia merasa tak punya pengalaman atau dekat dengan hewan mamalia itu.
"Aku hanya menuruti perintah ayahmu."
Scarlett hanya mendengus tanpa mau meresponnya lagi.
"Aku rasa kita harus segera kembali, nona. Aku tidak mau mereka mengkhawatirkan mu." saran Chris saat melihat langit mulai menggelap.
Scarlett menggelengkan kepala, "Aku masih ingin disini. Disana terlalu ramai." balasnya enggan.
"Kau bisa kembali ke kamarmu kalau ingin sendiri."
Scarlett terdiam tak merespon, membuat Chris mengambil keputusan. Diraihnya tali kekang dari tangan Scarlett, lalu mengambil alih kendali kuda tersebut tanpa hambatan.
Dalam perjalanan pulang, keduanya terdiam dalam kebisuan. Hanya suara derap langkah kuda yang menemani perjalanan mereka.
Hingga kemudian, Scarlett mengangkat tangannya dan melepaskan ikat rambut di kepalanya.
"Aku tidak tahu kau menyimpan benda ini bersamamu." ujarnya seraya menyimpan ikat rambut itu ke dalam telapak tangan Chris. Rambut panjangnya kembali terurai dan bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya.
"Itu milik putrimu, benarkan?" tebak Scarlett.
Chris tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala, "Bukan, ini milik mendiang istriku."
****
Mereka berdua akhirnya sampai di tempat pesta berada. Beberapa tamu memperhatikan kembalinya Scarlett bersama Chris.
Thomas dan Maria bernafas lega melihat putrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Dihampirinya sang putri yang tengah turun dari kuda dengan Chris yang membantunya.
"Ibu sangat mengkhawatirkan mu, sayang..." ucap Maria setelah Scarlett berhasil menginjakkan kakinya ke tanah.
"Aku baik-baik saja, bu."
"Sudah puas jalan-jalannya, tuan putri?" sahut William yang tiba-tiba datang menghampiri sang adik didampingi oleh seorang perempuan cantik.
Scarlett menatap William sinis seraya membenarkan letak gaunnya yang sedikit kusut, "Berhenti menyebutku tuan putri di hadapan tunanganmu, Will." sungut Scarlett seraya menghampiri perempuan di samping William dan memeluknya.
Willian terkekeh seraya mengedikkan bahunya, "Dia tak masalah, karena tahu dia ratunya." Willian menatap lembut ke arah sang kekasih yang dicintainya. Beberapa bulan lalu, William telah melamar Diana setelah beberapa tahun menjalin hubungan asmara. Dan kini, putra sulung keluarga Harisson itu memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius bersama Diana Parker.
Scarlett melepaskan pelukannya kepada Diana, lalu menatap kakaknya dengan tatapan memicing, "Aku tak menyangka kakakku tukang gombal, benar Diana?" tanya Scarlett meminta pembenaran kepada kekasih kakaknya itu.
Diana tersenyum tipis, "Dia mempunyai mulut yang manis kepada para perempuan." jawabnya lembut.
"Hanya kepadamu saja, sayang." ucap William menambahkan.
Scarlett merotasi kan matanya, melihat sang kakak yang nampak khawatir tunangannya berpikiran buruk tentangnya, "Percaya padaku, dia sedang membual, Diana..."
Diana hanya terkekeh seraya mengajak Scarlett dan Maria meninggalkan para lelaki yang terdiam saling tatap.
****
Malam harinya,Scarlett termenung sendirian di kamar yang ditempatinya. Suasana di lantai dua villa itu terasa hening, berbanding terbalik dengan suasana di bawah sana. Tepatnya di area pinggir kolam dimana para tamu tengah mengadakan pesta barbeque.
Scarlett sendiri memilih menyendiri di kamarnya ketimbang ikut bergabung bersama mereka. Ia merasa sebagian jiwanya telah kehabisan energi menghabiskan hari di perkebunan anggur, dan kini menyepi adalah cara untuk mengisi kembali energinya yang sempat terkuras.
Kemudian, pintu diketuk oleh seseorang. Scarlett beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata Diana yang berdiri di balik pintu dengan senyum lembut khas miliknya.
"Boleh aku masuk?" tanya Diana meminta izin. Scarlett hanya mengangguk seraya membuka pintu lebih lebar lalu berjalan kembali ke sofa tempatnya duduk.
"Aku sudah yakin, orang introvert sepertimu tak akan bertahan lama berada di dalam pesta itu."
Diana tertawa dengan nada lembutnya, tak menyangkal perkataan Scarlett yang terang-terangan.
"William juga menyuruhku untuk segera istirahat, dan aku memutuskan untuk menemuimu karena belum ngantuk."
Scarlett merengut mendengar pernyataan Diana, "Kakakku pasti akan mengomeliku kalau tahu kau disini."
"Aku akan menanganinya." ujar Diana menenangkan. Sedari tadi tangan itu mengusap permukaan perut ratanya yang dilapisi pakaian hangat.
Scarlett yang menyadari gerakan itu menatap curiga kepada Diana, "Tunggu, jangan bilang, kau..." Scarlett menahan ucapannya beberapa detik, "Pregnant?"
"Kau hamil? Benar kan?" tebakan Scarlett tepat sasaran.
Pipi Diana bersemu merah, tak menyangkal sama sekali tebakan adik dari tunangannya itu.
"Oh astaga..." Scarlett memijat pelipisnya yang dirasa sakit seketika.
"Ini benar-benar kecelakaan, kami tak sengaja..."
"Tapi kalian berdua sama-sama menikmatinya, kan?" sahut Scarlett cepat. Diana yang tak menyangka akan mendapati sikap Scarlett yang kesal membuatnya terdiam seketika.
"Sekarang aku mengerti kenapa Will ingin mempercepat tanggal pernikahannya." gumam Scarlett menerawang, ingatannya kembali saat beberapa waktu lalu dimana William meminta kepada kedua orangtuanya agar pernikahannya dipercepat tanpa memberikan alasan yang sebenarnya.
"Dasar b******n!"
"Bisa-bisanya dia ceroboh!!" Scarlett tak hentinya mengumpati kakaknya. Sedangkan Diana, ia hanya terdiam dan meringis di tempatnya.
"Kau tenang saja, nanti aku bantu Will untuk mengurus pernikahan kalian. Secepatnya!" ungkap Scarlett sungguh-sungguh. Mendukung tindakan William sepenuhnya meskipun sebelumnya ia mengumpati kakaknya itu.
"Ah... Aku tak menyangka sebentar lagi akan memiliki seorang keponakan" ungkap Scarlett bahagia, melupakan kekesalannya kepada kakak laki-lakinya.
Diana hanya mengangguk dan tersenyum melihat Scarlett yang mendukungnya.
"Scarlett, tadi sore... Aku tak menyangka kau mahir menunggangi kuda." ungkap Diana yang memilih mengganti topik pembicaraan mereka, mengingat tadi sore ia melihat Scarlett yang nampak berpengalaman dalam menaiki kuda, meskipun di belakangnya ada seorang penjaga.
Scarlett mengedikkan bahunya tak acuh, "Aku juga tidak tahu, hanya spontan ingin menaiki kuda, dan yah... Cukup lumayan untuk menunggangi kuda jinak."
Namun Diana merasa ada suatu keterikatan antara Scarlett dan hewan itu di masa lalu, "Kurasa kau pernah dekat atau sering berinteraksi dengan hewan itu, apa kau mengingatnya?" tanya Diana mencoba menggali ingatan Scarlett.
Scarlett terdiam beberapa saat, "Entahlah... Kurasa tidak." jawabnya ragu.