5. Diam-diam Menyimpan Ketertarikan

1031 Words
Chris membawa Scarlett ke dalam kamar perempuan itu setelah menemukan kucing putih yang bersembunyi di belakang paviliunnya. Scarlett kekeuh ingin membawa Lady ke dalam pangkuannya sedangkan dirinya pun tengah berada dalam gendongan Chris. Alhasil Chris menggendong Scarlett yang juga tengah menggendong kucing putih peliharaannya. Chris dapat melihat gaun tidur berwarna putih itu semakin kotor karena terkena kotoran dari kucing persia itu. Sesampainya di kamar, Chris mendudukkan Scarlett di atas ranjang, lalu membawa Lady ke dalam kandangnya. Kucing putih itu menatap Chris garang, merasa tak terima ia kembali di kurung di dalam kandangnya yang sempit. Chris kemudian berbalik, lantas menatap terkesima ke arah sosok Scarlett yang tengah berusaha menarik resleting gaunnya di balik punggung. Chris mengalihkan tatapannya dengan gugup, berusaha tak menatap pemandangan yang dirasa erotis itu. Chris merasa sedikit terganggu dengan pemandangan itu, namun Scarlett sama sekali tak merasa hal demikian. Ia terkesan santai dan mengacuhkan Chris yang semakin salah tingkah. "Ambilkan pakaian gantiku." ujar Scarlett memerintah, melihat Chris yang masih terdiam kaku di tempatnya. Dagunya terangkat ke arah pintu tempat pakaiannya berada. Chris segera pergi ke ruangan itu, membawa sebuah gaun tidur satin berwarna hitam yang nampak halus di telapak tangannya. Lalu menyerahkannya kepada Scarlett yang masih menahan gaun putihnya di atas d**a supaya tidak melorot dari tubuh atasnya. "Keluarlah." ujar Scarlett datar. Chris mengangguk patuh, lalu berjalan tergesa keluar dari kamar seiring dengan gerakan Scarlett yang menurunkan gaunnya. Saat menutup pintu, Chris tanpa sengaja melihat bahu putih dan mulus itu dari belakang, membuat debar dan kegelisahan di dadanya kian meningkat. Chris menggelengkan kepala, menghalau pikiran-pikiran liar yang menyergap kepalanya. **** Scarlett terbangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran, matanya terbuka nyalang dengan deru nafas yang memburu. Diraihnya segelas air di atas nakas lalu meminumnya hingga tandas. Mimpi yang selalu sama, suara jeritan pilu dengan situasi yang begitu panik seolah sedang dikejar sesuatu yang menyeramkan, namun pandangannya kosong, gelap tiada cahaya. Kemudian Scarlett bangun, menyibak gorden tinggi yang membentang menutupi cahaya matahari yang mulai menyinari bumi. Perasaan gusar menyergap jiwanya. Entah apa yang terjadi di masa lalu sehingga hatinya selalu tidak tenang. Kata sang ibu Scarlett mengalami masa yang kelam selama menghilang dari keluarga Harisson. Dirinya menjadi b***k dari salah satu pasangan suami istri tua di pedesaan kecil Purchellville. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan mengenai dirinya, namun sang ibu, Maria selalu beranjak dari duduknya dan pergi dengan beribu pertanyaan yang masih memenuhi benak Scarlett. Scarlett mencoba menenangkan dirinya, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Pandangannya masih tertuju mengawasi halaman samping kamarnya. Dimana ada taman Lavender dan Mawar merah milik ibunya yang tengah bermekaran. Lalu, sebuah objek di bagian barat halaman menarik perhatiannya, Scarlett berjalan ke balkon seraya memandang pemandangan yang dirasa cukup menyegarkan pandangannya. Di halaman belakang sana, ada Chris yang telanjang d**a tengah melakukan beberapa gerakan pemanasan, meregangkan otot-otot yang terlihat menonjol pas di beberapa bagian tubuhnya. Pipi Scarlett bersemu merah, membayangkan kejadian semalam dimana ia bisa merasakan kekuatan dan kekerasan otot tersebut. Scarlett menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pemikiran m***m yang memenuhi kepalanya. Sialan! Sejak kapan dia menjadi perempuan m***m dan tukang mengintip seperti ini?! Namun Scarlett tak dapat menahan matanya untuk kembali melirik sosok itu, hingga tiba-tiba sosok yang dipandangnya ikut menoleh ke arahnya membuat dirinya melakukan gerakan cepat untuk menyembunyikan dirinya ke dalam kamar. Di sisi lain, Chris yang merasa ada yang memperhatikannya, diam-diam memperhatikan sekitar yang sepi tanpa menghentikan aktivitasnya. Lalu, pandangannya tertuju ke arah balkon di atas sana. Tidak ada siapa-siapa disana, namun pintu yang terbuka membuat Chris mengerutkan dahi memikirkannya. Chris tak ambil pusing, ia memilih kembali ke rumahnya dan bersiap untuk bekerja kembali. Sementara di atas sana, Scarlett kembali melangkahkan kakinya keluar, menatap kembali tempat dimana Chris berada. Namun kini, sosok pria tersebut tak ditemukan, membuat Scarlett dilanda kekesalan. Hal tersebut tak luput dari pandangan Chris yang melihatnya di balik jendela yang gelap. "Apa yang dilakukan Nona Scarlett disana sebenarnya?" ***** Chris bekerja seperti biasa setelah menitipkan Ruby kepada Emma, seorang pelayan paruh baya di mansion. Thomas Harisson telah memberinya keringanan untuk membawa Ruby tinggal bersamanya, dengan catatan untuk tidak mengganggu wilayah utama mansion itu. Chris membawa tubuhnya ke halaman depan mansion dan berdiri di pintu utama yang terbuka lebar. Hal itu bertepatan dengan Scarlett yang keluar dari mansion dengan gaun navy panjang yang menutupi kaki jenjangnya bersama Thomas dan Maria yang nampak anggun dengan gaun hitamnya. Dalam langkahnya, Scarlett melirik sekilas ke samping dimana Chris berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan. Ia lantas berpaling kembali melangkahkan kakinya ke arah mobil yang telah tersedia diikuti Chris di belakangnya. Scarlett menghembuskan nafas kasar setelah duduk nyaman di dalam mobil. Pandangannya kembali menelusuri sosok Chris yang berjalan memutari mobil dan duduk di kursi penumpang di depan sana. Sang sopir yang sudah bersiap segera menjalankan mobilnya keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi berdiri kokoh. Hari ini, Scarlett akan menghadiri pesta musim panas di salah satu kebun milik keluarga Fransisco, salah satu keluarga kaya yang memiliki perkebunan anggur yang luas dan beberapa properti pribadi di kawasan itu. Pesta itu diadakan selama 2 hari dengan segala fasilitas yang telah disediakan pemiliknya. Setelah sampai disana, Scarlett segera turun mendampingi orang tuanya. Mereka disambut oleh petugas dan menggiring mereka untuk berjalan memasuki sebuah bangunan villa yang menghadap ke perkebunan anggur yang membentang luas. Chris menyeret koper pribadi Scarlett di samping pengawal keluarga Harisson lainnya. Ia berjalan mengikuti tuan mereka hingga berhenti di salah satu pintu kamar di lantai dua. Sang petugas villa menyerahkan dua kunci kepada Thomas dan berkata, "Silahkan beristirahat terlebih dahulu. Jika ada hal yang diperlukan, bisa menghubungi melalui interkom yang tersedia. Dan acara akan dimulai pukul 2 siang nanti." ucap petugas paruh baya itu sebelum melenggang pergi meninggalkan mereka. Kemudian Thomas menyerahkan sebuah kunci kamar untuk Scarlett tinggali. "Tunggu, ayah? Bagaimana dengan pengawalku?" tanya Scarlett saat melihat ayah dan ibunya hendak memasuki kamar di seberangnya. "Chris tidak akan menginap disini, dia harus pulang menemui anaknya." ucap Thomas memberitahu. "Anak?" tanya Scarlett heran. Sementara Chris yang masih berdiri di samping Scarlett dengan koper di sampingnya hanya terdiam menunggu titah selanjutnya. "Aku lupa memberitahumu kalau dia adalah seorang ayah." ucap Thomas sebelum membawa sang istri ke dalam dan menutup pintu. Di luar, kening Scarlett berkerut, entah kenapa fakta yang baru diketahuinya membuat dirinya merasakan perasaan tak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD