Pusaran asap kelabu itu tidak memuntahkan Aries ke sebuah hamparan salju atau reruntuhan kristal yang ia kenali. Sebaliknya, ia terhempas ke atas aspal yang retak, di tengah sebuah kota yang tampak seperti pantulan cermin yang retak dari dunia lama. Langit di atasnya tidak berwarna biru, tidak juga ungu sistem; langit itu berwarna perunggu gelap, dipenuhi dengan kilatan statis yang menyerupai saraf-saraf listrik yang sedang sekarat. Aries mencoba bangkit. Tubuhnya terasa berat, seolah darahnya telah digantikan oleh merkuri panas. Saat ia menatap tangannya, ia tersentak. Zirah emas kebanggaannya telah hilang sepenuhnya. Sebagai gantinya, kulit lengannya hingga ke leher ditutupi oleh urat-urat hitam yang berdenyut—sebuah tato hidup yang terus-menerus mengeluarkan uap tipis berwarna jelaga.

