13

1209 Words
"Maaf jika kamu merasa tak nyaman, Ly, aku mengenalnya sejak ia kecil, ia manja karena tak punya saudara, Cas sangat tak menyukainya sejak mereka kanak-kanak, mereka selalu saja bertengkar, sedang mamanya dan mamaku sangat dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama," ujar Chal saat melihat Ly yang termenung sejak tadi di kamar tamu. Duduk di pinggir kasur sambil menunduk menatap jarinya. Ly menoleh, menatap Chaldera dengan tatapan sedih. "Apakah aku bisa bahagia Chal?" suara Ly terdengar mengambang dan hati Chaldera terasa tercubit sakit. Ia berjalan mendekati Lyora menatap wajah sedihnya. Menarik bangun badan Ly hingga berdiri di hadapannya. Mereka saling menatap, mata Chaldera menangkap mata Lyora yang berkaca-kaca. Ia rengkuh Lyora ke d**a. Merasakan bahu Lyora yang naik turun, mulai terdengar isaknya perlahan. "Bisa, bisa Ly, dan aku yang akan membuatmu bahagia, yakinlah untuk tetap di sisiku, jangan pernah berpikir apapun, diamlah, jangan ke mana-mana, aku pun takkan bahagia jika kamu berpikir meninggalkanku," Chaldera mengusap punggung Lyora. Semua yang mereka lakukan terlihat oleh Erika yang berniat pamit hendak pulang, ia mencari Chaldera sejak tadi dan menemukan Chaldera di kamar tamu, berdua dengan Lyora dan saling memeluk, mata Erika berkaca-kaca, ia syok mendapati Chaldera tidak seperti yang ia bayangkan. Dengan mengusap air matanya secara kasar ia meninggalkan rumah orang tua Chaldera dengan marah. **** "Sedih amat kisah Lyora ya Cas?" ujar mama Cassandra setelah mendengar cerita tentang kesedihan dan cobaan yang dialami oleh Lyora. "Kayak kisah mama ya? Disakiti sama orang-orang dekat mama, makanya ma, kak Chal benar-benar ingin membahagiakan Ly, aku juga tak mengira jika kakak akan jatuh cinta secepat ini pada Lyora, ijinkan mereka bahagia ma, ya ma?" pinta Cassandra. "Yah, mama jadi ingat bagaimana sahabat mama sendiri yang justru mencuri kekasih mama, mama akan menerima Lyora tapi mama terlanjur mengiyakan perjodohan mereka, aku akan menelpon Bella untuk membicarakan ini, tapi satu hal lagi, kau jangan menggagalkan perjodohanmu," pinta mama Cassandra. "Nggak mamaaa, mana mungkin aku menolak orang setampan kak Steven," ujar Cassandra. **** Maafkan aku Bella, maafkan aku yang tak bertanya dulu pada Chaldera dan mengiyakan saja kesepakatan kita Apakah anakmu tak bisa kau paksa? Chaldera baru saja membuka hati setelah ditinggal menikah oleh Emily, aku tak mau ia jadi mayat hidup lagi jika aku menentang pilihannya Masalahnya Erika jadi begini Nit, dia murung dan tak mau ke luar kamar Aku juga nggak bisa memaksa Chal menerima perjodohan ini, jika kau menyayagi Erika, aku juga menyayangi Chaldera Ya sudah Nit, mungkin jalinan persahabatan kita akan jadi sulit ke depannya Maafkan aku Bella **** "Lyora, ini ayo makan, tante buat ini sendiri loh spageti kayak gini, kesukaan Chaldera, kau harus belajar membuatnya," ujar mama Chaldera saat mereka makan malam. "Maaa, dia pandai memasak, itu salah satu alasan aku mencintainya," sahut Chaldera dan papanya tertawa, Lyora berusaha tersenyum saat Caasandra mengedipkan matanya pada Lyora.  "Ah nggak juga tante, saya hanya bisa masak masakan rumahan Indonesia," sahut Lyora pelan. "Wah iyakah? Tante boleh belajar?" tanya mama Chaldera antusias. "Mama bisa belajar apa saja sama dia, selama ini yang masak di rumah kan Lyora, membersihkan rumah, semuanyalah, Cassandra dan aku tinggal makan saja," sahut Chal. "Loh, memangnya Lyora tinggal dengan kalian?" tanya mama Chal dan Cas kaget. Cas dan Chal saling pandang dan Lyora jadi merasa tak nyaman. "Iya, tante saya tinggal di rumah tante, karena saya belum bisa membayar uang sewa, jadi saya yang memasak dan membersihkan rumah, saya terpaksa berusaha meningalkan semua yang berhubungan dengan keluarga saya saat pacar saya menikah dengan kakak saya," sahut Lyora dengan suara lirih, ada rasa bersalah dalam diri mama Chaldera. "Tidak apa-apa jika kau tinggal di sana Lyora, maaf jika tante bertanya, karena Cas pernah pulang agak lama, berarti kan kau dan Chal hanya berdua, tante kawatir...," "Tidak terjadi apa-apa tante, Chal menjaga saya dengan baik," sahut Lyora lagi dan Chaldera menggenggam tangan Lyora. "Aku tidak akan merusaknya Ma, dia masih utuh, aku akan menikahinya, aku meminta restu Papa dan Mama," ujar Chaldera dan papanya menjadi tersedak, segera meraih air minum dan menatap wajah anaknya. "Kau serius Chal?" "Ya, aku akan menikahinya, Pa, aku merasa bahwa Lyora akan benar-benar menyembuhkanku, kami akan saling menyembuhkan," sahut Chaldera. "Begini Chal, Papa dan Maa tahu apa yang kau alami, kesakitan kamu, kekecewaan kamu pada masa lalumu, lalu tiba-tiba kau ingin menikah, sudah kau pikirkan? Kami hanya tak ingin kau sakit lagi, ke psikolog lagi, konsultasi lagi," ujar papa Chaldera dan Lyora kaget, sedemikian sakitnya Chaldera hingga mengalami tekanan hebat. "Apa kau benar-benar mencintai Lyora dan Lyora mencintaimu?" tanya papa Chal lagi. "Aku yang mencintainya Pa, dan akan membuat Lyora jatuh cinta padaku," sahut Chaldera dengan keyakinan penuh. "Dan kau sayang, kau mencintai Chaldera?" tanya mama Chal sambil menatap mata sendu Lyora. "Belum tante, tapi...," "Aku akan membuatnya jatuh cinta Mama, Papa, percayalah, love after marriage itu lebih indah, iya kan Ly? My Lily?" Chaldera menatap Lyora dengan tatapan mesra dan Lyora terlihat gugup, hingga wajahnya bersemu merah. "Kaaak ah, jangan goda Ly, dia tak banyak pengalaman dengan laki-laki, kayak aku sih hihihi, sekalinya pacaran eh disakitin, ya Ly?" Cassandra melihat bibir Lyora yang mulai tertarik, cukup sebagai permulaan, meski tak lebar, setidaknya Lyora mau tersenyum. **** "Papa ingin bertanya Chal, Lyora itu putri siapa? Aku kok merasa wajah Lyora mengingatkanku pada wajah seseorang, dan yang jelas nantinya kami, Papa dan Mamamu ini akan meminta secara resmi pada orang tuanya, Apakah kau pernah bertemu dengan orang tuanya?" tanya papa Chaldera. "Ya aku pernah bertemu saat Lyora dan Cassandra wisuda, kalau tidak salah namanya Hendryono Adityawarman, pengusaha bidang telekomumikasi pa," sahut Chaldera. "Hendry?" tanya papa Chaldera. "Papa kenal?" tanya Chaldera. "Sini ikut papa, ke ruang kerja papa, aku takut salah," Keduanya berjalan beriringan menuju ruang kerja papanya. Sesampainya di sana, papa Chaldera mengambil sebuah album tua, yang berada di tempat agak tersembunyi dalam tumpukan file kabinet yang sudah mulai luntur warnanya karena di makan usia. Album itu dibuka, papa Chaldera mulai membuka. "Ini foto baru ternyata pa, kok bukanya dari belakang? Oalah diletakkan paling belakang ternyata, kan ini papa ya? dan ya Allah ini papa Lyora, ya ini papa Lyora, papa mengenalnya?" tanya Chaldera kaget. "Akan sulit jalanmu Chal jika benar dia papanya Lyora," sahut papa Chaldera dengan mata sedih. "Ada apa? Mengapa?" tanya Chaldera bingung. "Lihat foto ini lagi, ini foto lima tahun lalu saat kami reuni, hanya mamamu yang tak ada, dia tak ingin melihat luka itu lagi, meski sudah berlalu tapi papa yakin masih sakit," ujar papa Chaldera lagi. "Loh ini foto mama Lyora ada juga, masa papa sama mama satu kampus?" tanya Chaldera penasaran. "Dengarkan, papa akan bercerita, kami memang satu kampus bahkan satu kelas, mamamu dan mama Lyora bersahabat, bagai saudara mereka, betul-betul tidak disangka, di saat mamamu akan menikah, tinggal dua bulan, ternyata sahabatnya hamil dan kau tahu, yang menghamili adalah calon suami mamamu, papa Lyoralah calon suami mamamu, kau tahu mamamu terluka, sangat nak sangat, aku yang tahu sejak awal berusaha menenangkannya, aku memang diam-diam mencintai mamamu sejak lama akhirnya aku beranikan diri mengajaknya menikah, dia mau, malah mengajak papa pergi menjauh dari negara kami, tinggal di negara ini bersama keluarga besarku, sekarang papa hanya mencari cara nak, bagaimana mengatakan pada mamamu, jika suatu saat dia ingin berkenalan dengan orang tua Lyora," Chaldera terhenyak, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi menatap wajah papanya, berusaha mencari jalan yang seolah tak ada ujung. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD