04

1835 Words
Sepulang dari liburan yang rencana awal akan menginap tiga hari. Namun, harus pulang lebih cepat karena Om Arsen tiba-tiba ada acara mendadak, entah itu apa. Yang jelas kabar itu benar-benar membuat wajahnya yang santai dan ramah, terlihat serius dan murung. Dia tidak turun dari mobil ketika sampai di depan rumah, hanya melambaikan tangan dan terburu-buru. Perhatian dari mama Elena diacuhkannya. "Nanti malam aku akan menjemput kalian!" teriaknya dengan nada suara gemetar. Kemudian, berlalu mulai mengemudikan mobilnya menjauhi rumah Kayla. "Kay, ayo masuk!" ajak mama Elena sambil menarik tangan putrinya itu. "Ma, kenapa Om Arsen tiba-tiba mengajak kita pulang?" tanya Kayla penasaran karena sebenarnya dia masih ingin di pantai bermain bersama ombak tiupan angin pantai yang sejuk. "Ada panggilan telefon penting, jadi Dia harus pergi," jawab Bu Elena datar sembari menyembunyikan rasa kecewanya karena tidak ingin anaknya melihat raut wajahnya. Kayla menelan ludah, mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi, dia melangkah malas menuju kamarnya kembali sibuk dengan komiknya. Gadis itu berhenti membuka halaman berikutnya, ada yang harus ia lihat di galeri ponselnya fotonya bersama mama dan kekasihnya itu. Gadis itu beranjak dari duduknya, membuka tas mencari ponselnya. Dibuka galeri foto, dia menatap gambar dirinya dan sang mama di pantai itu. Setiap gambar dia selalu tersenyum begitu pun mamanya itu. Kayla berhenti menggeser layar ponselnya ketika melihat dirinya dan Om Arsen sedang berdiri berdampingan. Pria itu menoleh ke arahnya menatap penuh perhatian. “Kenapa Anda menatap saya seperti itu Om, membuatku klepek-klepek saja! Matamu sangan indah, bibirmu juga lembut, suaramu yang berat benar-benar menggoda. Om Arsen aku tidak bisa menghentikan perasaanku!” Pikir Kayla sambil senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Brakk! Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka membuatnya kaget dan langsung menutup layar ponselnya. Takut orang di balik pintu akan mengetahui dia sedang memperhatikan foto pria itu. Jantungnya berdegup sangat cepat, refleks berdiri lalu memasang muka marah. "Mama," teriak Kayla sambil menatap mamanya yang kedua tangannya sibuk membawa dua piring penuh makanan. "Maaf, mama mengagetkanmu," ucap Bu Elena menyesal. Bola matanya membelalak tidak menyangka sang putri membentaknya. "Tidak, Ma," jawab Kayla lalu menghampiri wanita itu dan mengambil piring berisi menu makan siangnya. Nasi dilengkapi sayur dan telur mata sapi. Menu sederhana yang biasa di sajikan mamanya. "Selamat makan, Sayang," ucap Bu Elena lalu menutup pintu dan keluar dari kamar Kayla. Dia menyesal telah mengagetkan Kayla, hingga dia cepat-cepat beranjak. Kemudian kembali sibuk mengurus pekerjaannya. “Hampir saja mama ketahuan!” Batin Kayla. Jam menunjukkan pukul enam malam ketika suara mobil Om Arsen memasuki pekarangan rumah. Kayla sudah hafal dengan suara lembut mobil pria itu. Pria yang berhasil mengaduk-aduk hatinya dan pria itu adalah pacar mamanya. Sangat buruk! Namun, cinta tak dapat di hindari begitu saja. Kayla yang sudah mengenakan dress warna biru muda, dan sedikit mengusapkan lipglos pada bibir berlari kecil ke arah pintu. Ada rasa rindu yang membuatnya tidak sabar bertemu dengan pria itu. Kayla meyakinkan dirinya bahwa rindu itu adalah rasa untuk calon papa bukan untuk seorang pria. Tentu! Ceklek! Suara pintu terbuka. "Silakan masuk, Om?" ucap Kayla seraya menatap lurus ke bola mata pria tinggi yang berdiri di hadapannya, dia harus mendongak. Pria itu membalas tatapan Kayla, tersenyum menyapa gadis belia yang sedang menyambut kedatangannya, lalu berjalan beriringan dengan Kayla. Pria memperhatikan baju yang dikenakan Kayla. Kainnya sedikit menerawang dan sangat pendek membuat Om Arsen tergoda dan tidak nyaman. "Kayla, bisakah kamu memakai baju yang lebih tertutup, di luar sangat dingin," pinta Om Arsen sambil menunduk sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Kayla. Harum tubuh pria tampan itu masuk ke hidung Kayla, menggelitik, mengobati rasa rindu akan harum maskulin itu. Benar-benar memenuhi nafas Kayla dengan wanginya. "Kenapa dengan bajuku, Om?" tanya Kayla seraya meletakkan tangan kanannya di pinggang dan membusungkan d**a memperlihatkan bentuk kerah dress yang rendah. Wow! Sangat menawan kan! Kayla memandang, mengamati pria itu sekilas dia melihat kekasih mamanya itu menelan ludah saat memperhatikan dirinya. Matanya berhenti sekian detik di belahan dadanya. Berkedip lalu terpejam lama sambil menelan ludah untuk kedua kalinya. Hatinya merasa senang akan hal itu. “Kayla sadar dia calon papamu, bukan calon pacarmu! Tidak! Aku tidak menyukainya sebagai seorang pria tapi aku suka dia memberi perhatian karena aku calon anak tirinya, seperti itu kebenarannya.” Batin Kayla tidak mengakui degup yang berbeda dari jantungnya karena jatuh cinta. Tap ... Tap ... Tap.... Suara langkah mama Elena berjalan mendekati dua orang yang sedang menunggunya. Namun, mereka saling diam dan kadang mencuri tatap masih penasaran satu sama lain. Hanya embusan nafas tegang yang mengisi keheningan di antara keduanya. "Aku sudah siap," ucap Mama Elena dan menatap kedua orang itu satu per satu senyum merekah di bibirnya. Wajahnya berbinar, rasa senang terpancar menyambut undangan makan malam spesial dari kekasihnya. "Sayang, kamu sudah siap bertemu dengan keluargaku?" tanya Om Arsen sambil menatap tajam ke arah wanita yang berdiri di hadapannya. Mereka beradu pandang mencari jawaban di kedua bola mata masing-masing. "Tentu," jawab wanita itu yakin disertai anggukan kesungguhan. Bibirnya menyunggingkan senyum nan lebar menebar semangat. Kemudian mereka bertiga berjalan ke arah mobil, Om Arsen membuka pintu belakang untuk Mama Elena dan Kayla. Kemudian dia duduk di belakang kemudi, menghidupkan mobil lalu mengendarai mobil, membelah jalan menuju tempat tinggalnya. Kayla duduk di samping mamanya, wanita itu sangat cantik, apalagi senyum yang menghiasi bibirnya, membuat siapa saja yang menatapnya terpesona. Pria yang duduk di belakang kemudi juga sering melihat di arah kaca bahkan dia sering menoleh ke belakang untuk menatap wajah mamanya. Pancaran Auranya sangat kuat membuat setiap lelaki enggan mengacuhkannya meski sudah janda beranak satu. "Kayla, Mamamu sangat cantik," celetuk Om Arsen masih terus menyetir. Namun, selalu melihat kaca di depan yang mengarah langsung ke wajah mama Elena. Ucapan pria itu, membuat dua orang yang duduk di kursi belakang beradu pandang. Rona malu menghiasi wajah mama Elena, sebaliknya Kayla menyimpan kecemburuan mendengar pujian itu dari bibir pria tampan pemilik hatinya itu. "Mama memang sangat cantik, Om," sahut Kayla jujur seraya tersenyum lalu menggigit bibir bawah, hatinya sedih mendengar itu! Daun-daun cintanya mulai gugur. “Kenapa hatiku berat! Kayla Mamamu cantik dan kekasihnya memuji Mamamu! Seharusnya kamu suka, bukan malah sedih ! Kayla hentikan, cukup sampai kapan kamu akan terus cemburu dengan hubungan mereka! Mereka berdua orang yang kamu sayangi! Cukup Kayla!” Batin Kayla. Mobil terus berjalan, membelah keramaian. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan Kayla masih mengutuki dirinya sendiri karena masih belum bisa mengendalikan hatinya mengubah perasaan cinta menjadi kasih sayang untuk calon papa. Om Arsen menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang sangat mewah menurut Kayla. Rumah berlantai dua dengan pintu gerbang dan pagar yang tinggi. Seseorang membuka pintu gerbang lalu mobil masuk ke pekarangan rumah yang mempunyai halaman luas dengan rumput hijau yang terawat, ada kolam dan air mancur dilengkapi lampu warna-warni yang menawan. Kayla menatap takjub bibirnya menganga melihat taman di depan rumah yang di buat sangat niat dan detail. "Ayo turun," suara lembut Om Arsen mengagetkan Kayla. Kayla turun dari mobil, menggandeng tangan mamanya, ada rasa takut saat ingin memasuki rumah itu. Rumah berlantai dua yang pantas di sebut istana. Banyak tiang-tiang tinggi menjulang dari lantai dasar ke langit-langit lantai dua. Bangunannya terlihat kokoh. Kayla menatap takjub melihat rumah itu. Saat di depan, ada pelayan yang membuka pintu dan mengangguk seraya memberikan hormat. Sangat sopan dan sepertinya itu bagian dari pekerjaannya. "Ayo masuk," ajak pria kekasih mamanya itu, menoleh ke belakang memperhatikan dua tamunya yang masih berdiri di tempat yang sama, membuatnya gemas karena berdiam terlalu lama. “Aku enggak menyangka rumah Om Arsen sebesar ini! Ini rumah atau istana! Aku enggak mimpikan? Batin Kayla sambil mencubit pipinya. Iya ini nyata bukan mimpi! Om Arsen, ternyata kamu lebih wow daripada yang aku kira!” batin Kayla. Mama Elena menggandeng tangan putrinya memasuki rumah pria itu, mengikuti sang kekasih yang telah berjalan lebih dahulu melewati ruang tamu yang penuh dengan barang mahal, lalu terus melangkah kemudian berhenti pada ruangan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Sebuah ruang makan dengan meja kayu berwarna putih yang panjang, kursi berwarna senada di lengkapi lampu kristal yang elegan. Om Arsen memanggil dua pelayan, entah apa yang dia bisikan yang satu berjalan ke dapur dan yang lainya naik ke atas ke lantai dua. Kayla dan mamanya masih berdiri dibuat kagum dengan furnitur dan barang-barang mewah di rumah itu, ada beberapa guci cantik, lukisan yang indah, juga sofa dan karpet bulu yang tidak sanggup di beli mama Elena meskipun sudah menabung sepuluh tahun. Pandangan Kayla terhenti pada sebuah foto Om Arsen ketika masih remaja. Dia menunggang kuda di lengkapi topi koboi. Melihat latar fotonya sepertinya bukan di Indonesia, entahlah yang jelas Kayla hanya tertuju pada wajah Om Arsen yang terlihat sangat tampan. Seorang wanita paruh baya, turun dari lantai dua, rambut pendeknya memberi kesan tegas bentuk dagunya mirip Arsen. Dia berjalan pelan dan anggun. Kemudian setelah sampai di unjung lantai dia tersenyum ke arah tamunya. Pasti ini mamanya Om Arsen! Tebak Kayla setelah puas mengamati foto Om Arsen saat remaja. "Mari, silakan duduk," tawar wanita itu sambil menunjuk meja makan. Wajahnya datar, ekspresinya tidak mudah dibaca. Meja itu sudah tidak kosong lagi, ada beberapa mangkuk makanan yang sudah tertata di sana, di lengkapi piring buah dan gelas air putih. Juga piring makan yang sangat indah membuat Kayla dan mama Elena enggan menggunakannya. Om Arsen tersenyum ke arah mama Elena, lalu duduk di kursi utama, wanita itu duduk di samping kanan dan mamanya duduk di samping kiri. Tak berapa lama dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan turun dari lantai dua dan duduk di sebalah omanya. Mereka terlihat muram dan tidak bersahabat. "Ma, kenalkan ini Elena, dan ini Kayla putrinya," ucap Om Arsen sambil menunjuk tamunya satu persatu. Wajahnya berseri, langkah awal untuk menjalin keseriusan dengan seorang wanita yang ia cintai di mulai. "Saya Bella, mamanya Arsen," ucapnya memperkenalkan diri. Suaranya lembut dan berwibawa. Namun, entah mengapa Kayla merasa takut jika berlama-lama menatap wanita itu. "Salam kenal, Tante," sahut Mama Elena lalu mengangguk memberikan hormat. Dia tetap terlihat cantik dan dapat menutupi rasa canggung dan gemetar bertemu dengan orang tua pacarnya. Arsen tersenyum ke arah Elena, dia senang karena ibunya ramah pada Elena, tidak ketus seperti pengalamannya yang sudah-sudah. Meski tidak tersenyum lebar, tetapi wanita itu mau menemui mama Elena. "Ayra, Beryl kenalkan ini tante Elena dan Kak Kayla," panggil Om Arsen pada kedua anaknya Beryl sekitar berumur tujuh tahun dan Ayra berumur enam tahun. Yang tidak menunjukkan kehangatan dalam sikapnya. Tak sesuai harapan, dua anak itu bukan menyambut ramah tapi diam saja dan acuh. Matanya melotot dan tidak suka. Om Arsen tidak mempermasalahkan hal itu. Dan langsung menawari kita makan. "Mari makan," ajaknya. Kemudian menarik mangkuk ke dekatnya. Semua orang mulai sibuk dengan mangkuk yang ada di hadapannya. Aroma soto ayam yang di hidangkan pelayan menggugah selera. Nasi, diberi kol, kecambah, potongan ayam kecil dilengkapi bawang goreng dan disiram dengan kuah kaldu yang sedap adalah menu yang sesuai saat cuaca dingin. Suasana ruang makan hening tanpa pembicaraan, diam dan menikmati hidangan, suara alat makan yang beradulah yang berbunyi di sana. Sendok demi sendok di suapkan ke mulut, begitu nikmat. Soto itu begitu cocok di lidah Kayla hingga dia menghabiskan seluruhnya. Menyisakan mangkuk kosong. "Kenapa harus ada tamu wanita lagi," teriak Ayra sambil memukul mangkuknya dengan sendok. Rautnya kesal! Om Arsen kaget lalu menatap putrinya dengan tajam, begitu pun mama Elena dan Kayla yang langsung berhenti mengunyah. Mencerna apa yang dikatakan gadis kecil itu. Bersambung. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD