Kayla menatap lelaki yang berdiri di samping mamanya dengan seksama, meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki tersebut adalah lelaki yang bisa membuatnya jatuh hati hanya dengan waktu sepuluh detik. Pakaian yang di kenakan pria itu sungguh modis celana jeans yang di padu sweater dengan kerah leher yang tinggi berwarna hijau tua, membuat wajah putihnya nampak jelas.
"Malam Om, perkenalkan saya Kayla," ucap Kayla sambil menunduk lalu menjabat tangan lelaki itu yang kekar dan maskulin di hadapannya.
"Saya Arsen," ucap Arsen sambil membalas jabat tangan Kayla dengan bersemangat, dia mengerlingkan mata seolah menggoda Kayla yang terpesona melihatnya.
"Hunny, ayo kita makan malam dulu," ajak Elena lalu berjalan ke meja makan di ikuti Arsen dan Kayla.
Mereka bertiga duduk di meja makan, sambil mrnikmati hidangan yang tersedia. Kayla sibuk dengan makanan di piringnya sesekali dia mencuri pandang ke arah dua orang yang ada di depannya. Mereka berdua saling menatap, menggoda dan saling merindukan sepertinya.
Tak terasa ada sedikit rasa cemburu yabg menghampiri Kayla, saat Om Arsen dengan mesra merangkul pundak mamanya.
Apa-apaan ini, sialan! Aku tidak boleh seperti ini.Kayla.
Setelah selesai makan Om Arsen mencoba mendekati Kayla dengan menemaninya menonton film di ruang keluarga. Di satu sofa panjang itu mereka duduk bersebelahan.
"Kamu bukankah gadis yang tadi?" tanya Arsen berbisik.
"Ssssttttt ...," gumam Kayla sambil mengangkat telunjuk ke bibir, mengisyaratkan untuk diam.
Arsen menatapnya dengan seksama lalu mengangguk tanda mengerti.
"Jangan sampai Mama tahu, kalau Dia tahu aku jatuh, Dia akan marah," bisik Kayla lirih seraya duduk lebih dekat dengan Om yang ada di sebelahnya itu.
Aroma itu, ya aroma harum yang sama dengan tadi siang, tercium di hidung gadis belia yang sedang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya itu.
"Ok," ucap Arsen memastikan semua akan baik-baik saja.
Kemudian mereka kembali menyaksikan film yang sedang di putar.
"Ini dimakan," ucap sang Mama sambil memberikan kotak berisi puding segar yang baru saja di keluarkan sari frezzer.
Mama Elena duduk di sebelah Kayla membuat gadis itu duduk menempel lebih dekat dengan si pria maskulin yang mampu membuatnya jatuh cinta hanya dengan waktu sepuluh detik.
Perasaan apa ini.Hentikan Kayla, di kekasih mamamu, dan tak urung dia juga akan menjadi papa tirimu. Jangan sampai menyimpan perasaan terlarang seperti itu! Bukankah itu kejam dan menjijikan. Batin Kayla.
Kayla yang merasakan jantungnya semakin berdebar. Tidak kuat lagi duduk di samping kekasih mamanya itu. Hanya membuat senam jantung dan hati yang seolah menghianati logikanya, memilih untuk pergi dari suasana itu.
"Ma, Om Arsen, Kayla ke kamar dulu ya?" pamit Kayla sambil menunduk, takut jantungnya yang berdebar kencang tidak karuan, di dengar oleh dua orang dewasa yang sedang mengamati dirinya itu.
"Oh, iya, selamat malam ya Nak," ucap Mama Elena.
"Sampai ketemu lagi, Kayla, selamat malam tidur yang nyenyak," kata Om Arsen sambil menatap Kayla dalam seolah mengetahui apa yang ada di pikiran gadis belia itu.
Kayla berjalan menuju kamar, dengan hati yang masih tidak karuan. Sebagian hatinya memuja pria tampan yang baru saja duduk disampingnya.Namun, sebagian lagi merasa sakit harus mengubur perasaannya dalam-dalam sebelum perasaan cintanya sempat mekar. Harus mengubah rasa cinta dan kagumnya kepada seorang pria menjadi rasa cinta kepada calon papa tiri.
Kayla merebahkan tubuhnya di tempat tidur, mencoba memejamkan matanya, suara TV dari luar kamar sudah tidak terdengar lagi, entah tidak mungkin kekasih mamanya sudah pulang.
Satu jam kemudian Kayla yang tak bisa tidur, keluar kamar ingin mengambil minum di dapur. Namun ketika membuka pintu dia mengurungkan niatnya.
Sayup-sayup dia mendengar suara mamanya mendesah, dan bayangan dua orang yang sedang memadu kasih di sofa ruang keluarga, tidak jelas karena semua lampu di matikan, hanya lampu dapur yang di biarkan menyala, membuat sepasang kekasih yang sedang bergumul penuh hasrat sedikit nampak meski tak jelas.
"Ahh, ahh," suara desahan mamanya semakin terdengar keras dan cepat membuat Kayla menutup mulut takut bersuara.
Dengan Perlahan Kayla kembali menutup pintu lalu berjalan ke tempat tidur. Diam dan gemetar, takut entah kenapa baru pertama menyaksikan ibunya tidur dengan pria. Disela-sela nafasnya yang tedengar keras, dan detikan jam yang terasa menggema di kamarnya. Suara desahan mamanya terdengar lebih keras, membuatnya menutup kedua telinganya dengan bantal.
Aku harus tidur! Dan melupakan semua rasa untuk Om Arsen, cepat atau lambat dia akan menjadi papaku, dan kesempatanku untuk menjadi kekasihnya sangat mustahil! Batin Kayla.
Kayla mulai berganti posisi senyaman mungkin, hingga dia bisa tidur dengan lelap sampai pagi tiba.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Kayla bangun," Suruh Mama Elena sambil mengetuk pintu kamar putrinya.
Dengan berat Kayla membuka mata lalu berjalan membuka pintu kamar. Dia menuju meja makan yang ada di dapur, sudah ada nasi bungkus yang di beli ibunya setiap hari untuk sarapan.
"Makanlah, setelah itu mandi, Om Arsen akan mengajak kita liburan!" perintah Mama Elena yang baru selesai mandi. Rambutnya masih basah dan ada bekas merah-merah di sekitar leher jenjangnya.
"Leher Mama kenapa?" tanya Kayla pura-pura tidak tahu.
"Ini kerjaan Om Arsen," jawab Mama Elena tersipu malu.
"Memangnya di apain sama Om Arsen?" tanya Kayla tak menyudahi rasa penasaran dan masih bersemangat menggoda sang mama.
"Sudah ya, jangan tanya lagi!" suruh Mama Elena berlalu meninggalkan Kayla yang sedang makan.
Pukul sepuluh tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Suara bel berkali-kali di bunyikan tetapi tidak di buka oleh mamanya. Dengan hanya memakai handuk dan rasa kesal dengan suara bel yang tidk berhentu berbunyi Kayla berjalan dan membuka pintu.
Di balik pintu, terlihat seorang lelaki yang berpakaian serba hitam. Menatapnya tak berkedip. Itu membuat Kayla dan Om Arsen salibg beradu pandang. Memperhatikan satu sama lain.
Anda memang tampan Om!Batin Kayla.
Mata Om Arsen, menatap gadia belia di hadapannya yang tubuhnya masih basah, bau aroma sabun menggelitik hidungnya Membuatnya kagum menatap apa yang ada di depannya.
"Kayla, pakailah baju!" perintah Om Arsen lalu menelan ludah dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Kayla segera berjalan ke kamarnya, jantungnya berdetak sangat kencang mengingat tatapan dalam pria lekasih mamanya itu. Ada gelombang-gelombang tak terlihat yang saling terhubung membuat getaran cinta dalam hatinya kembali hidup.
Sial! Baru saja semalam aku berniat melupakannya! Tetapi pagi ini jantungku mulai berdebar lagi karenanya! Kayla sadar jangan jadi orang ketiga antara mamamu dan Om Arsen?!" Batin Kayla.
Bersambung.