Pre-Story 2

1056 Words
Hari pertama di Seoul. Pada musim gugur yang menghadirkan kehangatan dalam partikel dingin yang terkadang menusuk. Ara sudah berada di apartemen mungil yang dibelikan ayah untuknya.  Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Apartemen mungil yang cukup untuk satu atau dua orang karena hanya ada satu kamar tidur utama, satu kamar tidur tamu, ruang duduk, dan dapur minimalis. Dekorasi ruangan serba minimalis dan dinding yang dilapisi walpaper merah muda kesukaannya.  Yongjin meninggalkan Ara sendiri setelah membantu membawakan koper-kopernya masuk.  Ara rebahan ditempat tidur, langit-langit kamarnya sangat cantik dengan walpaper bermotif awan. Ia memejamkan mata hingga tidak sadar tertidur.  "My hearts on fire for your love~ Oh my hearts on fire for your love~ I wish that you would love (love) me (me) Eoje-cheoreom dasi i-son nohji malgo And every time my heart (heart) beats (beats)" -Heartbeat BTS Ara susah payah membuka mata ketika sayup-sayup mendengar nada dering ponsel. Sudah bisa dipastikan Yonjin yang meneleponnya karena hanya dia yang tau nomor ponselnya dikorea.  Parahnya, mata Ara sedang susah diajak kerja sama. Sangat sulit membuka mata secara penuh.  Brak...  Dia berhasil mendapatkan teleponnya, tapi... Ara sukses terguling ditempat tidur.  "Yeoboseyo?" (Halo?)  "Kau pasti baru bangun tidur? Bersiap-siaplah, Oppa akan mengajakmu makan malam" Klik. Sambungan telepon langsung terputus sebelum Ara sempat menyahut sepatah kata pun. Ia meregangkan kedua tangannya, rasanya penat sekali.  Jam di dinding ternyata sudah menunjukan pukul delapan malam. Ara mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya dan BINGO, ia baru sadar bahwa sudah tertidur selama empat jam.  Kruukk... Perutnya sudah demi minta diisi. Ara mengedarkan pandangan mencari-cari koper yang ternyata tergeletak manis diujung kamar. Ia belum membereskan barang satupun. Dengan asal, Ara mengambil sebuah kaos longgar berwarna pink dan celana jeans dari dalam koper. Tetapi, sebuah buku catatan ikut ikut terbawa keluar juga.  "Kenapa ini ada disini?" gumam Ara bingung.  Ara mengernyitkan dahi mencoba mengingat. Seingatnya dia tidak membawa buku itu.  Ara membuka halaman pertama dan muncul wajah tujuh orang pria sedang tersenyum menatap kekamera. Halaman kedua, ada fotonya dan catatan alamat blog. Halaman ketiga, keempat, dan seterusnya berisi foto-foto idola Ara serta catatan-catatan kecil yang membuat siapapun tersenyum jika membacanya.  "Kau belum siap-siap?!" Suara teriakan dari depan pintu mengagetkan Ara dan membuatnya otomatis menutup buku yang tadi dibacanya. Ara berbalik badan dan didepan pintu kamar, Yongjin berdiri dengan wajah galak yang dibuat-buat, dengan kedua tangannya dipinggang.  "Oppa? Bagaimana bisa kamu masuk?" "Anak manis. Akukan tau password apartemen mu. Itu memudahkanmu untuk selalu mengawasimu. Ingat itu, sudahlah. Sekarang cepat siap-siap. Aku menunggumu sepuluh menit, lebih dari itu aku tinggalkan" "Hya! Oppa, kau galak sekali. Sepuluh menit? Seperti Yoongi Oppa saja" gerutu Ara.  "Apa?!" "Tidak. Abaikan saja" sahut Ara dan segera berlari kekamar mandi sebelum diberondong dengan ratusan pertanyaan. Benar-benar kakak laki-laki yang Overprotektif, gerutu Ara dalam hati.  ____________________________________ "Pasta" Ara menyebutkan pesanannya.  "Tidak ada makanan korea yang ingin kau coba saat ini?" "Tidak ada Oppa. Lidahku belum terbiasa, Ibu hanya pernah membuatkanku Kimbab dan Bibimbab. Jadi, hanya dua masakan itu yang terbiasa di lidahku" "Bukannya ayah sering mengajak kalian kerestoran korea?" "Iya, tapi hanya kedua masakan itu yang sering kupesan" jawab Ara polos.  "Kau harus mencoba yang lainnya juga" "Tentu saja asal ada yang menemaniku" "Oppa akan... " Nada dering panggilan masuk memotong perkataan Yongjin. Ara memperhatikan Yonjin yang langsung mengangkat telepon dengan wajah sumringah. Sudah bisa dipastikan bahwa yang menelepon adalah Yeojachingunya alias Kekasihnya. (Pacar perempuan).  Ara mendesah kesal. Bahkan dihari pertamanya di Seoul, dia sudah diabaikan. Ara pikir, Yongjin akan selalu menemaninya pada hari-hari awal, tapi justru sibuk dengan kekasihnya. Ara menatap Yonjin dengan wajah cemberut.  "Mianhae, aku akan mengenalkanmu dengannya" ucapnya sambil mengelus rambut Ara setelah menutup telepon. (Maaf). "Oh" jawabnya Singkat.  "Aigoo... Baby Ara cemberut" goda Yonjin sambil mencubit pipi Ara gemas.  "Yak! Oppa, Berhenti memanggilku seperti itu aku sudah besar sekarang" "Arraseo, Aku ada urusan. Tidak apa-apa kan jika kau menyelesaikan makan malam dan pulang sendiri. Toh, kafe inikan tidak terlalu jauh dari apartemenmu?" "Oppa, aku tidak mau!" "Belajarlah mandiri Oppa pergi dulu" "Hya Oppa!!!" teriak Ara, tetapi percuma karena Yonjin setengah berlari keluar dari kafe dan tidak mendengar teriakan Ara.  Oke, ini hari pertamanya di Seoul dan Ara sudah dicampakkan oleh kakak laki-laki nya. Ini benar-benar menyebalkan, Pertama Ara sudah dibuat menunggu, dan sekarang... Aish, apa-apaan ini?! umpat Ara kesal.  Ara memakan pasta yang tersaji didepannya dengan malas. Menghabiskan makan malam sendiri adalah hal yang Ara benci. Satu-satunya alasan untuk menyuapkan pasta kemulutnya saat ini adalah karna ia sedang lapar. Pasta yang enak tapi Ara tidak mampu menghabiskannya. Tangannya merogoh saku celana dan mengambil IPhone putih kesayangannya. Jari-jari mungil Ara bergerak cepat menekan icon twitter.  Ya, sudah beberapa hari ini dia tidak membuka akun jejaring sosial dan melihat-lihat twitter idolanya.  "Omoo... Cute" gumam Ara sambil tersenyum sendiri. Ya, mendadak dia menjelma menjadi Fangirl (seseorang yang mengidolakan sesuatu) yang heboh sendiri didunia Fangirling. Melihat foto-foto yang diupload idola di twitter selalu bisa membuatnya lupa akan dunia disekitarnya. Fansgirl tau benar akan efek itu.  Kegiatan Fangirling Ara tidak berhenti hanya di twitter, tapi juga kejaringan sosial seperti me2day dan blog-blog info korea lainnya.  Untungnya Ara mengerti bahasa dan tulisan Korea dengan baik. Jadi, dia bisa mengerti apa saja yang di update idolanya tanpa harus mencari-cari terjemahan atau menggunakan jalan praktis, Google Translate.  Ara tersenyum sendiri mengingat semua kegiatan rutin yang membuatnya sering bergadang. Memelototi layar komputer hanya untuk menunggu teaser (semacam cuplikan) Musik Video, lalu heboh sendiri ketika musik videonya keluar dan wajah idola kesayangannya muncul dengan jelas.  "Kapan aku bisa bertemu mereka langsung ya? Bukankah ini Seoul? Seandainya saja secara kebetulan aku bisa bertemu salah satu dari mereka di kafe ini" Ara mulai berkhayal, Kebiasaan seribu umat yang selalu dilakukan terhadap idolanya.  "Stop, aku harus berhenti" gumam Ara dan dia menyubit pipinya sendiri untuk menyadarkan dari khayalan yang semakin tidak tentu arah.  Ara meletakan IPhone dimeja dan menyesap pelan lemon tea. Tanpa sengaja mata Ara bertemu pandangan dengan seseorang yang sedang menatapnya. Dia tersenyum ketika sadar Ara telah memergokinya.  "Ya, tuhan, senyumnya manis sekali" batin Ara. Ara membalas senyumnya dan kemudian mengambil Lemon Tea dan meminum Lemon Tea nya dengan cepat. Jantungnya mendadak berdetak cepat karena memompa darah terlalu banyak dan pasti membuat pipinya bersemu merah.  Ada apa ini? Ara selalu tidak bisa menolak ketertarikan pada seseorang yang tersenyum hangat dan manis.  Love at first sight? Tidak. Ara tidak percaya pada kisah Cinta yang klise seperti itu. Terlebih ini adalah hari pertamanya.  It's her first time and she should do the best then. Ara mencoba menenangkan detak jantungnya. Pikirnya kembali melayang. Ini pertama kalinya dia hidup sendiri, Jauh dari orang tua dan ini di Seoul. Seoul yang sedang musim gugur dan Ara pernah memimpikan cerita-cerita romantis pada musim gugur di Seoul. Ara penasaran apakah impian konyolnya itu akan menjadi nyata.  Let's see, batin Ara.  ____________________________________ Write : Tuesday, 3 September 2019. Post : Saturday, 30 Mey 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD