Apa Maumu Mas?
“Duduk di sini, jangan kemana-mana! Aku gak suka!” suara Rio membentak dengan tegas.
Bingung dan panik, itu perasaan yang Gendhis rasa saat ini. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun mengapa Ro terlihat sampai semarah ini. Gendhis selalu menjalankan kegiatan seperti biasa hari ini. Kenapa tiba-tiba Rio marah. Gendhis terdiam, salah tingkah diamati seperti itu. Sesekali dia membenahi posisi duduknya di kursi.
Rio menghela nafas panjang. Dia memandang wajah Gendhis, menelusur keelokan rupa gadis di hadapan nya. Nampaknya sampai saat ini Gendhis juga masih belum menyadari apa kesalahan yang dia lakukan. Terbukti dia menampilkan wajah yang terlihat bingung.
“Mulai sekarang jangan begitu lagi! Aku tak suka kamu menyanyi, berjoget ramai-ramai seperti itu! Apalagi ada yang mendokumentasikan, jangan seperti wanita jalang! Kau lebih berharga dari pada mereka, mengerti!” jelas Rio.
Gendhis masih terdiam. Dia menyadari mungkin ini salah dan teguran. Meskipun dia sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya. Mengapa Rio mengatakan dirinya wanita jalang hanya dengan bernyanyi bersama. Tujuan acara ini untuk hiburan dan Gendhis juga mencari hiburan. Pemikirannya sesimpel itu. Mengapa lelaki ini memperpanjang dan mempersulit sesuatu yang harusnya gampang.
Gendhis berpikir mungkin ini karena dia bernyanyi tadi mengenakan atribut pengenal. Atribut itu menunjukkan biro jasa, jadi kesannya tak sopan. Pikiran Gendhis seperti itu. Tapi harusnya Dimas juga di panggil. Karena Dimas juga melakukannya.
"Mengapa hanya aku yang di panggil? Padahal Mas Dimas juga, lelaki aneh! Padahal tadi dia berlaku baik, eh malam sudah kumat lagi! Apa dia memiliki dua kepribadian ya?" kata dalam hati Gendhis tak terima.
Menurutnya keterlaluan sampai harus di tegur bos sendiri. Hanya untuk masalah sepele. Gendhis ingin marah namun tak bisa. Mengingat dia harus tetap profesional dalam bekerja. Ini juga masih jam kerjanya.
"Kau paham kan?" tanya Rio.
"Iya, Pak! Maaf jika saya terlalu berlebihan karena terbawa suasana tadi, maaf juga karena telah menggunakan atribut dan membuat nama biro milik Bapak jelek," jawab Gendhis sambil mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu sekarang istirahatlah, Besok kau akan bekerja pagi! Tak usah turun lagi," perintah Rio.
Gendhis berdiri hendak kembali ke kamar. Tapi Rio menghadangnya dengan tangan. Gendhis menoleh memandang ke arah Rio.
"Sudah begitu saja? Apa begitu caranya? Rasanya kau tak paham juga apa yang aku maksudkan," sindir Rio sambil cemberut melihat ke arah Gendhis.
"Lah kan Saya sudah minta maaf, Pak! Memang ada yang lain lagi yang perlu saya sampaikan? Bapak kan mempermasalahkan masalah saya bernyanyi dan mungkin goyangan saya yang keterlaluan, saya berjanji tidak akan mengulangnya lagi, apa ada hal lain lagi yang mengganggu pikiran, Bapak? Dan lagi Bapak menyuruh saya turun dan kembali ke kamar ka?" tanya Gendhis.
"Oke! Tidak ada lagi, jadi lupakan saja ucapan saya baruan! Sekarang Pergilah," usir Rio.
"Ya Pak, saya permisi dulu," pamit Gendhis.
Akhirnya Gendhis memutuskan untuk tidur tak kembali ke acara bebas di kolam bawah. Dia tak ingin membuat masalah lagi setelah ditegur atasannya. Pukul 07.00 WIB, Gendhis sudah siap untuk cek out hotel, setelah memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal. Gendhis melihat kamar sebelah tempat Rio menginap masih tertutup. Gendhis berjalan menuju resto hotel untuk breakfast terlebih dahulu sebelum peserta datang, lanjut ke bus untuk menyiapkan kudapan dan absensi peserta.
"Sejak semalam aku tak bisa tidur gara-gara perkataan Bos itu! Sungguh aneh sekali, mengapa Mas Dimas betah ya bekerja dengan seorang seperti itu?" kata Gendhis sambil menyeruput kopinya di pagi hari menikmati suasana hotel dari resto.
Kepulangan gathering kali ini tidak ada yang spesial. Semua berjalan seperti biasa, Gendhis tak melihat lagi keberadaan Rio sejak tadi malam. Bahkan Rio juga tak menghubunginya sama sekali.
"Alhamdulillah, puji Tuhan kita telah sampai dengan selamat di perusahaan lagi, untuk Bapak- Bapak dan Ibu- Ibu mohon di cek kembali barang bawaannya yang masih tertinggal di Bus, jangan sampai ces atau tas tertinggal di sini karena Bus akan kembali ke garasi dan melanjutkan next trip! Semoga Bapak dan Ibu senantiasa berbahagia dan kami akan tunggu next trip undangannya bersama biro Kami! Saya Gendhis Astari Wijaya mohon maaf jika selama menjadi tour leader panjenengan (kalian) semua melakukan kesalahan atau ada kata yang kurang berkenan, sampai jumpa lagi! "Assalamualaikum!" seru Gendhis menutup acara gathering pagi ini.
Para peserta gathering turun dengan tertib. Gendhis mengambil barang di bagasi khusus sopir dan kru, dan berjalan menuju parkiran mobil. Perlahan Gendhis mengemudi sambil menikmati lantunan lagu menuju rumah. Sesampainya di rumah, Gendhis menurunkan barang bawaan.
"Assalamualaikum," sapa Gendhis ramah.
Terlihat mamanya sedang berghibah dengan beberapa tetangga. Setelah berbasa-basi sebentar Gendhis memilih masuk rumah dan mandi. Rasanya badannya lengket semua ntar kena AC di dalam bis.
“Mbak... Mbak!” teriak mama Gendis dari luar rumah.
“Dalem...” sahut Gendhis yang baru saja selesai mandi.
Handuk itu masih melilit di atas kepalanya tanda dia selesai keramas. Dia berjalan sampai ke arah kamarnya karena ingin berganti kain baju lalu melanjutkan tidur. Semalam dia kurang tidur karena terpikirkan ucapan Rio.
“Di cari Bosmu lo, “ sahut mamanya.
"Bos?" tanyakan di dalam hati.
Gendhis bergegas menuju depan setelah mandi, dia pikir Pak Mahmudi boss tempat dia bekerja tetap. Tetapi dia malah melihat mobil Rio yang terparkir di depan rumahnya. Rio tersenyum melihat Gendhis.
"Mengapa lelaki ini tak berperasaan sekali? Padahal dia baru saja memarahinya tadi malam mengapa sekarang dia sudah berdiri di depan rumahnya tanpa perasaan berdosa?" batin gendis dalam hati sambil tersenyum sinis.
“Ada apa Mas?” tanya Gendhis sambil memutar bola matanya malas.
Rio tak menjawab, dia hanya mengulurkan kardus. Kardus itu berisi oleh-oleh yang telah dibelinya kemarin berdua. Gendis sampai melupakannya. Kardus itu berada di mobil Rio.
“Kamu lupa? Ini oleh-olehnya kau tinggal di mobilku,” ucap Rio sambil menyerahkan kardus dan beberapa kresek lainnya.
Gendhis menerima kardus itu dan berterima kasih. Dimas yang ada di mobil tersenyum dengan pandangan penuh arti. Mas Rio tidak begitu memperdulikan Gendhis. Dia malah asik mengobrol dengan ibu Gendhis.
"Ya sudah Bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu," pamit Rio.
Gendhis berdiri menatap kepergian mobil itu, berdiri mematung sambil memegang kardus. Di heran kenapa ada model lelaki seperti itu. Lelaki misterius yang bertingkah semaunya sendiri. Tak pernah peduli dengan perasaan orang lain.
"Apa maumu Rio?" gumam Gendhis.
BERSAMBUNG