Keesokan paginya...
Universitas Amsterdam
"Kenapa Om menyuruhku ke kantin?" tanya Rama.
"Tunggu saja di sini, nanti juga kau tahu," jawab Afgan.
"Oke..." sahut Rama sambil duduk dan memesan minuman.
"Duh, Ayu di mana, sih?" Afgan panik dalam hati.
"Afgan, ayo masuk kelas," ajak Rama.
"Sebentar lagi, ya?" tolak Afgan.
"Tapi, Afgan..." keluh Rama.
"Sudah, diam saja di sini." Afgan terus memperhatikan pintu gerbang kampus, mencari sosok Ayu.
Beberapa jam kemudian...
"Nah, itu dia!" Afgan berseru dalam hati.
"Eh, lihat itu..." celetuk seorang mahasiswa, membuat semua mata tertuju pada Ayu.
Ayu memasuki Universitas Amsterdam dengan penampilan yang berbeda. Rama terpana sampai tak berkedip. Sementara Afgan malah memikirkan Titah, terbawa lamunan hingga ke kelas Pak Hendra. Ia baru tersadar saat Pak Hendra menegurnya.
"Titah... Oh, Titah... Hmm..." Afgan masih mengkhayal.
"Afgan, hai... Afgan!" Ayu mencoba menyadarkannya.
"He'em..." Afgan menjawab tanpa sadar, pikirannya masih pada Titah.
"Hmm... Pasti mikirin Bu Titah lagi. Waduh, gawat, ada Pak Hendra! Aku harus cepat menyadarkan Afgan," gumam Ayu cemas.
"Good morning, students..." sapa Pak Hendra.
"Good morning, Sir..." jawab serentak mahasiswa.
"Oke, sebelum kita mulai materi baru, ada yang ingin Bapak tanyakan," kata Pak Hendra.
"Tentang apa, Sir?" tanya Anggia.
"Soal tugas kalian. Siapa yang belum mengerjakan, akan Bapak hukum, mengerti? Hmm... Sebentar, Ayu..." panggil Pak Hendra.
"Yes, Sir," jawab Ayu.
"Kamu sedang apa?" tanya Pak Hendra.
"Saya..." jawab Ayu ragu.
"Ya Tuhan, Afgan, bangun! Pak Hendra sudah datang," keluh Ayu dalam hati. "Oh, ya, saya mengerti sekarang, Mr. Afgan Syah Reza..."
Mendengar namanya dipanggil Pak Hendra, Afgan tersentak kaget. "Yes, Sir!"
Sontak, seisi kelas tertawa, kecuali Rama.
Kemudian, Afgan mengarahkan perhatian Pak Hendra pada Rama yang tertidur pulas di kelas.
"Kamu...!!" teriak Pak Hendra. Afgan menunjuk ke arah Rama.
"Tunggu, Sir. Lihat ke sana..." Afgan memberi isyarat.
"Maksudmu?" Pak Hendra bingung.
"Itu, Sir, Adhi..." bisik Afgan di telinga Pak Hendra.
"Adhi!?"
"Yes, Sir. Adhi tidur di kelas."
"Adhiiii...!!!!" teriak Pak Hendra, membangunkan Rama.
Rama tak bergeming. Ternyata, ia memakai earphone, hingga tak mendengar teriakan Pak Hendra. Sengaja atau tidak.
Pak Hendra kesal. Ia mengambil earphone Rama dan berteriak di telinganya.
Rama akhirnya terbangun. Pak Hendra langsung menanyakan tugas yang diberikan minggu lalu.
Rama yang lupa mengerjakan tugas segera meminta bantuan Afgan dengan kode.
Afgan mengerti. Ia segera menukar bukunya dengan buku Rama.
"Paman! Afgannnn! Sttt...." Rama memberi kode pada Afgan.
"Sabar, keponakanku, sebentar lagi paman ubah buku ini jadi milikmu," gumam Afgan dalam hati.
"Selesai!" teriak Afgan, membuat Pak Hendra terkejut.
"What's up, Afgan?" tanya Pak Hendra.
"Haduh... Om Afgan kenapa teriak, sih?" keluh Rama dalam hati.
"No, Sir," jawab Afgan.
"Oh, okay. And you, Adhi, where is your duty?" tanya Pak Hendra.
"My duty, Sir?" tanya Rama.
"Yes, of course, Mr. Rama Adhi Saputra. Where is your assignment?" tanya Pak Hendra.
"Ini, keponakan saya." Afgan menyodorkan buku pada Rama dengan kode. Rama menerima buku itu dan mengucapkan terima kasih dengan kode juga.
Pak Hendra curiga melihat kode-kodean antara Afgan dan Rama. Ia lalu bertanya hal yang sama pada Afgan.
"This is my duty, Sir." Rama menyerahkan buku tugasnya.
"Wow, jarang sekali kamu tepat waktu. Entah ini hari keberuntunganmu atau kamu sudah jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya." Pak Hendra heran dengan perubahan Rama.
"Tepat, kan?" Afgan memberi kode pada Rama.
"Ya, Paman... Terima kasih...." jawab Rama dengan kode yang sama.
"Why, you guys!?" Pak Hendra semakin bingung. "Mr. Afgan Syah Reza and Mr. Rama Adhi Saputra!" panggil Pak Hendra.
"Yes, Sir..." jawab Afgan dan Rama bersamaan.
"Oh, ya, saya lupa..." gumam Afgan dalam hati, merasa panik dipanggil Pak Hendra.
"Jangan sampai Pak Hendra curiga," batin Rama cemas.
"Where is your assignment?" tanya Pak Hendra pada Afgan.
"My duty, Sir?" Afgan balik bertanya.
"Yes, where's your assignment? Give it to me, I want to see it!" pinta Pak Hendra.
"Haduh, aku lupa! Harus cari alasan cepat," Afgan berpikir keras.
"Hello, Mr. Afgan Syahreza, jangan bilang kamu belum mengerjakan tugas yang Bapak berikan kemarin?" tanya Pak Hendra.
"Yes, Sir, I've done it, Sir," jawab Afgan gugup.
"Okay, then where is it now?"
"The problem is..." Afgan belum selesai bicara, Pak Hendra memotongnya.
"What's the problem, you say? What's the problem? Stop making excuses! Bapak sudah sering bertemu mahasiswa seperti kamu di sini. Jangan coba-coba berbohong dengan alasan lupa mengerjakan tugas!"
"That's not it, Sir! Saya memang mengerjakan tugas yang Bapak berikan kemarin, tapi tertinggal di kamar," Afgan mencoba menjelaskan.
"Enough, enough... Get out!" suruh Pak Hendra.
"But, Sir..." Afgan menolak.
"Get out, I said, Mr. Afgan Syah Reza!" bentak Pak Hendra.
"Okay, okay, Sir, I'm out." Afgan akhirnya keluar kelas karena hukuman Pak Hendra.
Afgan keluar kelas sambil jongkok dan memegangi kedua telinganya. Titah yang melihat Afgan dihukum Pak Hendra, tertawa kecil.
Titah lewat di depan Afgan, dan Afgan menyanyikan reff lagu Panah Asmara, seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Mendengar Afgan menyanyi, Titah kembali memintanya untuk berhenti dan fokus pada hukumannya.
"Hmm... Aku yang dihukum, tapi tak mengapa, daripada keponakanku yang kena. Oh ya, tadi Pak Hendra suruh jongkok dan pegang telinga. Oke..." Afgan menjalani hukumannya di luar kelas.
"Hari ini aku mengajar di mana, ya? Cek HP dulu, deh..." Titah memeriksa ponselnya sambil berjalan dan berhenti tepat di depan Afgan.
"Morning, Ma'am..." sapa Afgan.
"Yes, morning too, you..." balas Titah.
"Yes, Ma'am..." jawab Afgan.
"Hahaha..." Titah tertawa.
"Hehehehe... Lucu, kan, Bu, saya?" Afgan ikut tertawa bersama Titah.
"No, no, no. You sit down..." pinta Titah sambil berjalan, masih tertawa melihat Afgan.
Panah Asmara (Afgan) - Reff
Sudah ku katakan cinta
Sudah ku bilang sayang
Namun kau hanya
Diam tersenyum kepadaku
Kau buat aku bimbang
Kau buat aku gelisah
Ingin rasanya kau jadi milikku
~~
"Dia menyanyikan lagu itu lagi," gumam Titah, menghampiri Afgan.
"You..." sapa Titah.
"Yes, Ma'am..." jawab Afgan.
"The song is finished, okay? Now, you have to continue the punishment that Mr. Hendra gave you," pinta Titah.
Rama yang melihat Afgan dihukum merasa tidak tega. Ia berniat mengerjakan tugasnya sendiri dan memberikannya pada Afgan.
"Adhi..." panggil Ayu.
"Yes, Ayu, why?" tanya Rama.
"What happened? Why do you keep looking at Afgan?" tanya Ayu.
"I'm sorry, Ayu. Karena aku, Afgan jadi dihukum Pak Hendra. Andai aku bisa membalas kebaikannya," jawab Rama.
"Tumben!?" Ayu bingung.
"Kau kenapa melamun, hmm, Ayu?" panggil Rama.
"Yes, Adhi, why?" tanya Ayu lagi.
"Do you have any ideas?" tanya Rama.
"Wait a moment..." pinta Ayu.
Satu menit...
Lima menit... dan
Sebelas menit kemudian...
"Yes, I have an idea!" seru Ayu.
"What's that?" tanya Rama.
"Because of you, Afgan didn't attend Mr. Hendra's lesson today, right?" tanya Ayu.
"Yeah, you're right. Then?" Rama penasaran.
"How about you do just two assignments from Mr. Hendra? The current assignment and the one from yesterday," jawab Ayu.
"Okay, fine... I'll work on two assignments at once today and I won't be leaving the house either, choosing to focus on the assignment Mr. Hendra gave me. Thank you, my friend, I'll be going home first. Goodbye," kata Rama.
"But Adhi, wait..." sambung Ayu.
Tentu, ini hasil revisi cerita "Cinta, Tugas dan Pengorbanan":
Rama pergi meninggalkan Ayu. Setibanya di rumah, Afgan mendapati Rama sedang melamun.
Afgan mendekati keponakannya itu, ingin tahu mengapa ia tampak murung.
"Hai, Ram," sapa Afgan.
"Ya, Afgan," jawab Rama.
"Tidak seperti biasanya kau terlihat seperti ini. Ada apa?" tanya Afgan penasaran.
"Bolehkah aku bercerita padamu?" tanya Rama, memastikan.
"Tentu saja. Katakanlah." pinta Afgan.
"Begini, Paman..." Rama memulai ceritanya.
Flashback On
"Nek, hadiah apa yang paling membuat nenek bahagia di dunia ini?" tanya Rama.
"Ada, Ram," jawab Ibu Nurmala.
"Apa itu, Nek?" Rama mulai penasaran.
"Pertama, nenek ingin sekali bertemu dengan pamanmu yang ada di Indonesia," jawab Ibu Nurmala.
"Pamanku, Nek?" tanya Rama heran.
"Ya, pamanmu. Dia adik dari ayahmu," jawab Ibu Nurmala.
"Oke, lalu yang kedua apa, Nek?" tanya Rama, semakin penasaran.
"Yang kedua, nenek ingin melihatmu berpenampilan rapi. Dan lihat rambutmu ini! Potong rambut gondrongmu itu," jawab Ibu Nurmala, kesal.
"Sepertinya itu mustahil, Nenek," keluh Rama.
"Ya Allah... Aku mohon kirimkan seseorang yang baik seperti malaikat untuk mengubah cucuku ini. Ya Allah, kabulkanlah..." pinta Ibu Nurmala.
Flashback Off
"Begitulah ceritanya, Paman. Nenek ingin bertemu pamanku adik dari ayahku. Aku bahkan tidak tahu seperti apa rupanya. Oh ya, Paman kan dari Indonesia? Tolong bantu aku bertemu pamanku," Rama memohon pada Afgan, tanpa menyadari bahwa Afgan adalah pamannya.
"Keponakanku ini benar-benar," gumam Afgan dalam hati.
"Paman?" panggil Rama.
"Ya, ada apa, Ram?" tanya Afgan.
"Kenapa Paman melamun?" tanya Rama penasaran.
"Tidak apa-apa. Baiklah, kalau permintaan pertamamu mudah, sekarang kita wujudkan dulu permintaan nenekmu. Ayo..." ajak Afgan.
"Ayo? Ke mana?"
"Ikut saja, nanti kau juga tahu."
"Baiklah..."
Afgan dan Rama pergi ke suatu tempat untuk mengubah penampilan Rama sesuai keinginan neneknya.