Chapter 8 - Tak Sekadar Emas dan Permata

2084 Words
Tamara tersadar dari mimpi buruknya saat dia mendengar Dennis memanggil-manggil namanya. Dia mengguncang-guncang tubuh Tamara dengan kasar guna membangunkannya. “Kamu kenapa, sayang?” tanya Dennis dengan dahi mengernyit saat melihat Tamara membuka sepasang maniknya kembali. Tamara tak menjawab. Dia terduduk sebentar di sofa ruang tamu dengan jantung yang berdegup kencang. Dia lalu beranjak memperhatikan sekelilingnya. Diperiksanya setiap sudut rumahnya. Dicarinya apakah laki-laki pembawa pistol yang dilihatnya dalam mimpinya barusan nyata atau sekadar bagian dari bunga tidurnya saja. Karena yang Tamara tahu, mimpinya tadi benar-benar terasa nyata. Suara tembakan itu bahkan masih terngiang-ngiang di tellinganya. “Kamu kenapa sih?” tanya Dennis ketus. Bingung melihat istrinya mondar-mandir di rumah bak sedang mencari barang hilang. Tamara menghampiri Dennis kembali lalu duduk di sampingnya. Dia balik bertanya, “Sekarang jam berapa?” “Jam enam lewat lima belas sore.” Hebat sekali, pikir Tamara. Itu tandanya dia ketiduran di sofa dari siang sampai menjelang sore. Padahal belum pernah dia tidur siang selama itu. “Mimpi buruk lagi?” sambung Dennis. “Ya, sayang,” jawab Tamara lirih. “Dalam mimpiku, aku lihat ada orang ditembak, dan suara tembakannya begitu nyata. Aku sampai mengira kalau ada maling yang membobol rumah kita atau rumah tetangga kita.” Dennis mendengus kesal. “Tidak ada apa-apa, Tamara. Rumah kita ini ‘kan aman dan terjamin penjagaannya selama dua puluh empat jam per tujuh hari. Ketautanmu itu irasional,” tukasnya. Tamara tak merespon. Benar kata Dennis. Mungkin dia yang terlalu paranoid. Dennis lanjut bicara, “Berarti kamu belum sempat masak makan malam?” Tamara menggeleng, “Belum, sayang. Maaf, aku ketiduran.” “Ya sudah, kita pesan makanan saja,” ujar Dennis. Dengan jengkel dia mengeluarkan ponsel yang dia simpan di saku setelannya. “Kamu mau makan apa?” tanya Tamara yang ikut meraih ponselnya. “Biar aku yang pesankan,” tawarnya. “Tidak usah, aku pesan sendiri saja,” tolak Dennis. Dia lanjut bicara kembali kelar memesan makanan lewat aplikasi online. “Kalau memang mimpi burukmu itu terus-terusan mengganggu tidurmu, lebih baik kamu beli obat tidur saja lah. Biar tidurmu lebih nyenyak. Kalau kamu terus-terusan kebangun di tengah malam karena mengigau seperti itu, yang ada bisa-bisa aku juga kena insomnia. Kamu tahu ‘kan aku butuh waktu istirahat dan tidur yang cukup?” sarannya separo membentak. “Baiklah,” gumam Tamara getir. “Aku akan coba konsumsi obat tidur.” Sebenarnya dalam hatinya Tamara ikut memarahi Dennis. Siapa pula yang mau didatangi mimpi buruk seperti ini? Dia pun merasa frustrasi. Tapi apa yang bisa Tamara lakukan? Tidak tidur selamanya supaya mimpi buruknya itu tidak menghantuinya lagi? Ucapan Dennis tadi juga tanpa sadar membuat Tamara dirundung kesedihan. Dia jadi teringat kembali akan perkataan Henry, yang pernah berkata kalau laki-laki yang baru menikah pasti masih bersikap manis. Tabiat aslinya belum keluar. Dan Dennis, seiring berjalannya waktu, lambat laun mulai mengeluarkan perangai aslinya.  Dan akhirnya Tamara juga tahu, kalau suaminya itu sedang stres dengan kerjaannya, maka lebih baik supaya dirinya mundur dan tidak mengganggunya. Usai melewati waktu makan malam bersama yang hening dan terasa agak hambar itu, Tamara lalu beranjak untuk menghubungi teman-temannya di grup chatting-nya. Kepalanya lagi pusing. Dia butuh seseorang untuk diajak bicara. Tamara hendak mengajak Carmen, Marion dan Kristin ketemuan. Walaupun cuma sebentar juga tidak apa-apa.  Tetapi cuma Carmen yang bisa hadir. Marion dan Kristin sibuk dengan kerjaannya masing-masing dan janji akan hadir di lain kesempatan. Carmen langsung menghubungi Tamara setelah itu. Dia tipe manusia yang lebih suka bicara di telepon daripada chatting-an. “Mau ketemuan besok di jam makan siang?” tawarnya. “Aku bisa curi-curi waktu, tapi pilih tempat yang tidak jauh dari tempat kerjaku, ya?” pintanya. “Boleh,” ujar Tamara. “Kamu saja yang pilih. Aku ikut-ikut saja.” “Ada masalah apa, Tamara?” tanya Carmen. Cemas saat mendengar suara temannya yang kurang bertenaga itu. “Ada masalah sedikit. Akan kuceritakan semuanya besok,” jawab Tamara. “Oke, aku cari tempat dulu, ya? Nanti kukabari lagi. Bye.” Panggilanpun terputus. Setelah Carmen memberitahu tempat mana yang mau dia kunjungi, barulah Tamara bicara kembali pada Dennis. Dia sedang duduk menyandar di bahu ranjang sambil memangku laptopnya. Bahkan usai mandi dan setibanya di kamar tidur pun Dennis tidak punya waktu barang lima menit untuk bersantai sejenak. Dia membawa kerjaannya sampai rumah. “Sayang,” panggil Tamara lembut. Dia duduk di samping Dennis. Sebenarnya Tamara tak mau mengganggu Dennis, tapi sebagai istri yang baik, dia rasa harus menginfokan Dennis agar tak menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu. “Aku mau ketemuan besok sama Carmen di City Hall Plaza,” sambungnya. Dilayangkannya pandangannya pada wajah cantik istrinya. “Carmen teman kuliahmu dulu?” tanya Dennis. “Benar,” jawab Tamara sambil mengangguk. “Mana sini, berikan ponselmu padaku,” perintah Dennis yang nampak masih tak percaya. Dia lalu menghabiskan waktunya sebentar untuk membaca isi chat Tamara dan Carmen. Barulah setelah itu Dennis percaya pada Tamara. Diberikannya kembali ponsel itu pada Tamara. “Baiklah, suruh dia hati-hati,” pesannya tawar. ***** Keesokan harinya, begitu tiba di City Hall Plaza, Tamara tak langsung mengajak Carmen ketemuan dan makan di restoran. Keduanya malah bertemu di toko retail barang-barang kesehatan dan kecantikan. “Hei,” sapa Carmen dengan senyumnya. “Tumben kamu mampir ke toko ini? Mau beli vitamin?” Tamara membalas senyum Carmen dan mengangguk, “Iya, sekalian beli obat tidur.” “Hah? Sejak kapan kamu mengonsumsi obat tidur?” tanya Carmen terkejut. “Baru-baru ini.” Kelar memborong sebotol obat tidur berbahan alami dan enam botol minuman multivitamin yang dicampur dengan kolagen itu, Tamara lanjut mencurahkan seluruh isi hatinya di restoran sushi yang buka di lantai paling atas pusat perbelanjaan tersebut. “Jadi begitu ceritanya. Belakangan hari ini aku jadi suka mimpi buruk,” tuturnya. “Terus laki-laki yang ada dalam mimpimu itu pertama kali kamu lihat saat Henry menolongmu dari insiden tenggelam itu?” “Iya,” jawab Tamara. “Aku tak tahu dia siapa. Wajahnya buram. Dan yang paling membingungkan, kenapa dia selalu muncul dalam mimpiku?” Carmen terdiam sejenak untuk berpikir. “Hmm mungkin dia hasil manifestasi dari rasa takutmu?” terkanya. “Aku pernah baca di artikel, katanya saat kita lagi merasa takut-takutnya, alam bawah sadar kita bisa memunculkan sesuatu yang sebenarnya adalah buah dari rasa takut kita. Mirip seperti mimpi jatuh dari ketinggian. Katanya sebenarnya itu terjadi karena kita lagi terlalu banyak pikiran atau stres. Ya, kurang lebih seperti itulah.” “Bisa jadi sih …,” gumam Tamara. Dia lanjut bicara sambil memperhatikan sebuah goodie bag besar berisi sebotol obat tidur serta minuman multivitamin. “Aku harap obat tidur ini bisa membantuku deh. Aku tak enak kalau tiba-tiba membangunkan Dennis karena mimpi burukku,” timpalnya lirih. Carmen mengganti arah pembicaraan, “Jadi Dennis sudah tahu kalau dulu Henry satu jurusan dengan kita?” “Ya, dia juga sudah tahu kalau aku ‘berteman’ dengan Henry.” “Omong-omong … setelah insiden tenggelam itu, kamu dibawa Henry ke mana?” tanya Carmen penasaran. Baik dirinya, Marion ataupun Kristin sama-sama belum ada yang tahu bagaimana kelanjutan dari insiden itu. Mereka tak bertanya, dan Tamara terlalu ‘sibuk’ dengan Henry sampai-sampai dia lupa meceritakan apa yang terjadi setelah insiden memalukan itu. Tamara menghela nafas panjang, “Aku dibawa menginap di apartemennya.” “Benarkah?” tanya Carmen dengan mata terbeliak lebar. “Jadi kalian …” “Ya, kami tidak sengaja melakukan ‘itu’,” potong Tamara resah. Dia tersenyum tipis, “Tapi tenang saja, aku tak sampai hamil dan Dennis tidak mengetahuinya.” “Wah, pasti rasanya jadi canggung ya setiap kali kamu bertemu dengan Henry?” gurau Carmen. “Sedikit.” “Oh, bisa jadi juga ‘kan mimpi burukmu itu terjadi karena rasa bersalahmu pada Dennis?” terka Carmen. “Karena, um, kamu sudah ‘tidur’ dengan Henry dan kamu tidak mengakuinya? Jadi kamu seperti dibayang-bayangi oleh rasa bersalahmu sendiri.” Tamara mengangguk dengan pelan, “Aku juga berpikir sepertinya itu masalah utamanya.” Dia terdiam sejenak sebelum lanjut bicara, “Menurutmu … apa sebaiknya aku mengaku saja pada Dennis?” “Eh, jangan, Tamara! Kamu mau bunuh diri?” seru Carmen. “‘Kan semua sudah oke-oke saja, jadi tugasmu sekarang ya menjaga supaya kondisi tetap aman dan tentram,” sarannya. “Coba pikir, kalau kamu mengangkat topik ini kembali, bukan cuma kamu yang akan kena getahnya, tapi Henry juga.” Tamara merenungi perkataan Carmen. “Kamu benar. Apalagi Dennis juga lagi banyak pikiran karena kolega kerjanya ada yang ketahuan makan uang perusahaan,” katanya. Dia tersenyum, “Thanks buat sarannya, Carmen.” “Sama-sama, baby. Tarik nafas dalam-dalam, buang. Dijamin deh pikiranmu bakal jadi lebih rileks.” “Habis ini aku mau coba mampir ke kantor deh. Dennis pasti suka rasa minuman ini.” Carmen mengangguk, “Boleh, ide yang bagus itu.” Diberikannya satu botol minuman multivitaminnya pada Carmen. “Ini, ambil lah satu untukmu. Gratis kok,” tutur Tamara. “Um, dan jangan bahas apapun soal skandal ‘cinta satu malam’-ku dengan Henry di grup chatting kita, ya? Aku tak mau kalau sampai Dennis tahu, soalnya kadang dia suka mengecek ponselku. Aku juga langsung hapus riwayat panggilan dan chat-ku bersama dengan Henry, ya meskI isinya juga tidak ada yang aneh-aneh sih.” “Okay,” ucap Carmen mantab. “Kamu bisa pegang ucapanku.” ***** Tamara membuka pintu ruangan CEO gedung Voyage Industries dengan senyum yang merekah di sudut bibirnya. Kebetulan sekali Dennis sedang duduk sendirian di ruang kerjanya, dengan demikian tak akan ada yang bisa mengganggu kemesraannya. Dia langsung tersenyum dan meminta Tamara untuk duduk di atas pangkuannya begitu melihat kedatanganya. “Hai, sayang,” sapa Dennis. Dia melingkari kedua tangannya di pinggang Tamara. “Sudah kelar ketemuan sama Carmen? Kok sebentar sekali?” tanyanya. “Memang cuma sebentar, sayang, soalnya habis itu Carmen masih ada kerjaan,” jawab Tamara. Dia lalu beranjak mengambil sebotol minuman multivitamin itu dari goodie bag yang dia letakkan di atas meja kerja Dennis. “Aku belikan minuman ini untukmu, supaya kamu tidak gampang sakit,” sambungnya dengan sorot penuh kasih. Dikecupnya bibir Tamara sekilas. “Thanks, baby,” ucap Dennis. Namun dia tak sempat meminum minuman pemberian Tamara sampai habis. Ponselnya berdering. Dennis bicara sebentar di telepon lalu menyingkirkan tubuh Tamara dari pangkuannya. “Tunggu sebentar,” katanya sebelum berjalan keluar menuju pintu. Dennis meninggalkan Tamara sendirian di ruang kerjanya. Dia bilang ‘sebentar’, tapi nyata-nyatanya, sampai hampir dua puluh menit lamanya Tamara menunggu, Dennis tak urung balik jua. Malah akhirnya, Tamara dipertemukan kembali dengan satu orang ‘tamu’ yang sedang tidak ingin dia lihat batang hidungnya. Henry Giorgio Antarez. Dia mendatangi ruang CEO sembari membawa sebuah laptop dan lima lembar kertas yang dia selipkan di laptopnya. Senyumnya melebar saat dia melihat Tamara, yang sedang duduk di kursi kerja Dennis sambil memainkan ponselnya dengan raut wajah muram “Ah, aku baru tahu kalau Voyage Industries punya co-CEO seorang perempuan muda yang sukanya marah-marah dan cemberut,” candanya. Diletakkannya ponselnya ke atas meja. “Dennis pergi, sudah mau dua puluh menit dia tidak balik-balik. Kamu lihat dia?” tanya Tamara. “Tidak,” jawab Henry. “Kukira dia ada di ruangannya?” katanya sambil menarik kursi di hadapan Tamara. Diletakkannya laptopnya ke atas meja. Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada sebotol multivitamin milik Dennis, yang baru diminum sedikit itu, yang tergeletak di atas meja. Tamara, yang tahu ke arah mana Henry menatap, langsung menawari Henry, “Mau?” Tentu saja Henry tidak akan menolak. “Katanya kolagen bisa buat kulit kencang dan terlihat awet muda, bukan? Tak heran kamu beli minuman semacam ini,” candanya kelar meminum minuman pemberian Tamara. “Mau aku tersenyum atau tidak itu bukan urusanmu,” omel Tamara. “Kamu ada urusan apa sama Dennis?” “Suamimu yang ganteng itu memintaku untuk mengurus undang-undang ketenagakerjaan yang baru,” jawab Henry. Dia lalu memperlihatkan lima lembar dokumen yang dia selipkan di laptopnya itu pada Tamara, “Ini file yang sudah jadi, tapi belum direvisi.” “Mau kubantu?” tawar Tamara. Dia dan Henry sama-sama sarjana lulusan hukum, jadi sedikit banyak Tamara paham soal apa yang sedang Henry kerjakan. Henry menaikkan satu alisnya yang tebal itu, “Tumben? Ada angin apa?” “Ya, dari pada aku bosan menunggu di sini?” ucap Tamara. Dibacanya sekilas lembar demi lembar dokumen tersebut. “Sepertinya masih ada yang kurang,” komentarnya. “Yep, makanya aku bilang belum direvisi.” “Boleh lihat soft copy-nya?” Henry lalu beranjak menyalakan laptopnya. Dan Tamara begitu terperangah saat dia melihat gambar apa yang dijadikan Henry sebagai wallpaper laptopnya.     ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD