Dengan kesal Tamara meletakkan majalah selebritas yang baru saja mau dibacanya itu ke tempatnya kembali. Dia harus buru-buru angkat kaki dari sini sebelum Henry memergokinya. Tetapi dia baru saja mau melangkah menuju pintu keluar, saat tiba-tiba dia bertemu lagi dengan Gemma. “Tamara!” panggil Gemma, yang baru balik dari kafe seraya membawa dua gelas minuman. Suaranya nyaring dan kencang. Karena setiap pengunjung yang mendatangi toko buku itu tidak boleh berisik, suaranya jadi menggema dan akhirnya sampai ke telinga Henry. “Shh!! Jangan berisik!” bisik Tamara dongkol. Matilah, pikirnya. Semoga saja Henry tak sadar kalau Tamara yang dimaksud Gemma adalah dirinya. “Maaf, ya, Tam-Tam,” ucap Gemma sambil tersenyum. “Dari tadi aku mencarimu, ternyata kamu lagi ada di sini.” Dia lalu memberik

