Usai mengembalikan ransel berisi peta, kompas serta senternya pada pihak moderator acara perkemahan, buru-buru Dennis mengajak Tamara balik ke kabinnya. Dia memegangi pergelangan tangan kanan Tamara dengan erat dan berjalan dengan langkah cepat, acuh tak acuh dengan kondisi fisik istrinya yang masih lemah pasca tersesat di tengah hutan. “Kamu punya mi instan? Aku lapar sekali,” tanya Tamara, yang sedang duduk di tepi ranjang, sesampainya di kabinnya. Dennis hanya mengangguk dengan parasnya yang dingin nan datar. Dia mengambil satu cup mi instan dari dalam tasnya lalu menuangkan bumbu serta air panasnya untuk Tamara. Diberikannya mi instan itu pada Tamara. Dia lalu ikut duduk di sampingnya. “Jadi awalnya kamu dan Henry bisa sampai tersesat itu karena Henry digigit pacet?” tanyanya, yang m

