“Kalula sibuk,” jawab Henry. “Dia kerja sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Angkatan Laut Willow Family. Semenjak pandemi rumah sakit jadi makin penuh. Jam kerja Kalula bertambah, tak jarang dia ikut membantu temannya yang lain sangkinan pasien terlalu membeludak.”
“Jadi dia jarang punya waktu untukmu?” tanya Tamara kaget.
“Ya,” jawab Henry singkat.
Tamara memperhatikan wajah Henry dengan serius. Nada bicara maupun ekspresi wajah Henry terlihat datar. Berbanding tebalik dengan curahan hatinya yang terdengar menyedihkan itu. Pikir Tamara, mungkin dulunya Henry begitu resah dan kesal dengan Kalula, tapi seiring berjalannya waktu, lambat laun dia jadi semakin merasa biasa saja. Mungkin pula perasaan sedihnya telah mati.
“Tapi … bukankah kamu dan Kalula sudah tunangan?” tanya Tamara lagi.
Henry menghela nafas panjang, “Entahlah, Tamara.” Dia lanjut bicara, “Memang tidak bisa digeneralisasi, tapi kurasa pasangan yang sudah bertunangan harusnya lebih lengket dan lebih dekat ketimbang pasangan yang cuma terikat status pacaran, bukan? Namun pada kenyataannya, bukan itu yang kudapat.”
“Kamu sudah coba membicarakannya pada Kalula?” tanya Tamara iba.
“Soal dia yang jarang punya waktu untukku?”
Tamara hanya mengangguk.
“Sudah, dan hasilnya sama saja,” jawab Henry. “Aku tidak berhak memaksanya. Walaupun kami sudah bertunangan, tapi toh dia belum jadi istriku. Dan lagi, Kalula sangat mencintai pekerjaannya. Aku tak mau menghancurkan mimpi dan karirnya sebagai seorang perawat.”
Tamara tersenyum. “Kamu pria yang pengertian,” pujinya. “Kalula beruntung bisa mendapatkanmu.”
“Tumben kamu memujiku?” ujar Henry heran. Padahal dulu, jangankan mau memuji Henry, memberikannya senyuman dengan tulus seperti itu pun rasa-rasanya Tamara ogah.
“Tapi itu memang kenyataannya kok.”
Henry tersenyum tipis, “Kadang aku merasa kalau pertunangan ini cuma sekadar formalitas saja.”
“Formalitas bagaimana maksudmu?” tanya Tamara yang nampak makin terkejut.
“Ya formalitas yang mengikat, supaya aku dan Kalula tidak main mata lagi dengan orang lain.” Tetapi Henry menampik perasaannya selang dua detik kemudian, “Namun sepertinya itu cuma perasaanku saja.”
Tamara memutar topik pembicaraan. “Ah, kenapa pula kita malah jadi saling curhat? Tadi aku yang membicarakan soal Dennis, sekarang gantian kamu yang membicarakan soal Kalula,” katanya kikuk.
“Kamu mau sarapan dulu?” tawar Henry. “Tidak lapar cuma minum jus jeruk?”
Tamara menggeleng, “Tidak, terima kasih. Tadi di rumah aku sudah minum susuu dan makan roti lapis isi kacang dan selai jeli.”
“Makanmu banyak juga, eh?” rayu Henry.
“Tidak juga, ah. Cuma segelas susuu, segelas jus jeruk dan sepiring roti lapis memangnya banyak, ya?”
Henry tersenyum nakal. “Kalau menginap lagi di sini malam ini bagaimana? Kamu mau?” tawarnya.
Tamara memutar bola matanya. “Sana cepat siap-siap. Kita harus segera ke dokter,” perintahnya.
Henry beranjak dari sofa yang dia dan Tamara duduki. Tanpa malu-malu dan dengan sengaja dia menanggalkan kaos abu-abu polos yang sedang dia kenakan di hadapan Tamara. Pipi Tamara merona padam saat dia melihat Henry tampil separo telanjangg di depannya. Menampilkan dengan bangga bagaimana indahnya otot-otot lengannya, perut kotak-kotaknya, serta dadaa bidangnya yang dihiasi dengan sedikit bulu-bulu halus itu. Henry Giorgio Antarez memang sexy,Tamara harus mengakui itu.
“Kamu … kenapa buka baju?” tanya Tamara yang kelihatan tambah canggung.
“Tadi ‘kan kamu yang bilang sendiri kalau aku harus cepat siap-siap?” ucap Henry bingung. Dia menyeringai. “Aku cuma mau ganti baju, Tamara. Memangnya kamu pikir aku mau melakukan apa, hm?” tanyanya separo merayu.
“Sana ganti baju di kamarmu!”
Henry hanya tersenyum lebar sambil jalan memasuki kamar tidurnya.
*****
Begitu tiba di Rumah Sakit Umum Noble Medical, Henry dan Tamara langsung bertandang untuk menemui seorang dokter kandungan. Awalnya dokter tersebut menolak melayani Henry dan Tamara dikarenakan keduanya tidak membuat janji temu terlebih dulu. Tapi karena Tamara ‘merengek’ dan agak memaksa, ditambah lagi jadwal sang dokter sedang lengang, akhirnya dia mau membantu Henry dan Tamara periksa kandungan.
Jantung keduanya berdegup dengan kencang saat sang dokter mulai mengarahkan transducer USG-nya ke perut Tamara. Dan saat sang dokter melihat rahim Tamara melalui layar USG, dia malah dibuat kebingungan setengah mati. Dia bahkan sampai harus periksa berkali-kali untuk meyakinkan dirinya.
Tamara tidak sedang mengandung anak Henry.
“Tidak ada kehamilan?” tutur sang dokter yang matanya terus terpaku pada layar USG. “Rahim ibu kosong.”
“Oh, syukurlah! Terima kasih, Tuhan!” seru Tamara yang sontak mengagetkan bukan cuma sang dokter tapi juga Henry.
Sang dokter beralih memandangi keduanya dengan raut aneh. “Sudah? Bapak dan ibu cuma mau ‘periksa’ rahim saja?” tanyanya.
Henry mengangguk sambil tersenyum, “Iya, dok.”
Akhirnya Henry dan Tamara, terutama Tamara, bisa bernafas lega. Keduanya tak harus terpaksa menikah dan membesarkan bayi hasil hubungan terlarang.
“Kamu bilang kalau pagi tadi kamu sempat pusing dan mual, kan?” tanya Henry, yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang pemeriksaan kandungan bersama dengan Tamara. Keduanya mau rehat sebentar. “Aku rasa itu cuma sugesti saja. Kamu tidak sedang hamil kok.”
“Benar,” kata Tamara dengan senyum bahagianya. “Itu cuma sugesti saja sangkinan aku terlalu panik. Sepertinya aku mual dan pusing juga karena masuk angin. Akhir-akhir ini aku memang lagi kurang tidur.”
“Mumpung kita masih ada di rumah sakit, kamu tidak mau sekalian mampir ke apotek beli obat?” ajak Henry.
“Boieh. Nanti saja, aku masih mau duduk. Capek rasanya.”
Henry menaikkan satu alisnya, “Jangan bilang kamu jadi sulit tidur gara-gara kepikiran soal masalah ini?”
“Ya, dan …” Ucapan Tamara terhenti sejenak. Tiba-tiba dia kepikiran lagi soal mimpi buruknya dan perkataan wanita lanjut usia bernama Niken itu.
“Dan apa?” tanya Henry penasaran.
“Kamu masih ingat wanita bernama Niken yang punya penyakit alzheimer itu?”
“Ya, dia tetanggaku,” jawab Henry. “Kamu bertemu lagi dengannya?”
Tamara mengangguk. “Tadi pagi begitu sampai di apartemenmu, aku lihat dia lagi ngobrol dengan security di lobby. Harusnya penderita alzheimer punya ingatan yang tidak bagus, kan? Tapi anehnya, dia masih mengingatku. Dia bahkan mengajakku bicara dan membicarakan hal aneh yang … sepertinya ada kaitannya dengan mimpiku,” jelasnya.
“Memangnya apa yang terjadi dalam mimpimu?”
“Aku melihat seorang laki-laki … tapi sampai sekarang wajahnya masih belum jelas. Aku tidak tahu dia siapa, namun aku mendapat perasaan yang aneh saat melihatnya. Perasaan seperti … seseorang yang berjumpa kembali dengan kawan lamanya. Ya, seperti itulah.”
“Seakan-akan kamu telah lama mengenal laki-laki itu tapi kamu lupa dia siapa?” terka Henry.
“Ya, benar!” jawab Tamara semangat. “Dan bukan cuma sekali aku melihat sosok laki-laki ini. Pertama kali aku melihatnya saat aku nyaris tenggelam di kolam renang itu. Saat malam pesta reuni kita.”
“Aku bukan ahli tafsir mimpi, tapi mimpimu itu unik juga.” Henry tersenyum. “Jangan-jangan kamu diikuti arwah penasaran?” guraunya iseng.
Dicubitnya lengan kanan Henry dengan gemas. “Jangan bercanda seperti itu! Aku memang belum pernah melihat hantu, tapi amit-amit ah!” caci Tamara.
Senyum Henry melebar, “Terus apa yang Niken katakan padamu?”
Tamara terdiam sejenak untuk mengingat-ingat kembali apa kalimat yang sudah dilontarkan wanita lanjut usia itu padanya. “Oh, dia bilang kalau ini semua cuma permulaan. Dia juga bilang kalau laki-laki itu belahan jiwaku dan sudah menungguku beratus-ratus tahun lamanya. Aneh, kan?” tuturnya.
“Maklumi saja, penderita alzheimer ‘kan memang mengalami penurunan fungsi otak. Mungkin Niken bicara seperti itu tanpa dia sadari,” sahut Henry santai.
“Iya sih, tapi aku masih heran saja bagaimana bisa dia tahu soal sosok laki-laki itu,” tampik Tamara. “Dia juga masih mengenalku. Padahal ‘kan aku bukan warga apartemenmu.”
“Kamu percaya dengan hal-hal yang berbau supranatural?”
Tamara menggeleng, “Tidak terlalu. Kenapa?”
“Aku juga tidak terlalu mempercayainya, tapi omong-omong soal Niken, aku rasa memang ada yang ‘spesial’ dari dirinya.” Henry lanjut bicara, “Entah ini kebetulan atau bukan, tapi dua bulan yang lalu, penghuni lantai dua puluh satu apartemenku ada yang meninggal. Laki-laki usia tiga puluh, kena serangan jantung. Dia tinggal sendirian dan tidak berkeluarga.”
“Lalu?” tanya Tamara yang nampak begitu tertarik dengan topik obrolan ini.
“Niken-lah yang pertama kali tahu kalau laki-laki itu sudah tiada,” ucap Henry. “Padahal kata putrinya, Niken tidak kenal dan tidak pernah ngobrol dengan laki-laki itu. Dan saat diperiksa oleh pengelola gedung, benar saja kalau laki-laki itu memang sudah meninggal dua hari. Dia ditemukan jatuh di ruang makan, jenazahnya sudah mulai membusuk.”
Dahi Tamara mengernyit. “Mungkin sebenarnya Niken kenal dengan laki-laki itu, tapi putrinya tidak pernah melihatnya?” terkanya.
“Aku juga berpikir begitu.”
“Oh, dan mungkin juga Niken tahu kalau laki-laki itu meninggal karena dia mencium ada aroma tak sedap dari unit apartemennya?”
Henry menggeleng. “Kalau yang itu, aku berani bilang agak tidak masuk akal. Niken dan putrinya tinggal di lantai dua belas. Sebau-baunya bangkai, masa iya bisa tercium dari lantai dua puluh satu ke lantai dua belas?” debatnya. “Dan setauku, Niken tak pernah keluyuran ke lantai atas. Biasanya dia ngobrol di lobby dengan security atau ibu-ibu penghuni apartemen.”
“Tetanggamu itu menyeramkan juga, ya,” tutur Tamara yang tubuhnya agak merinding.
Henry mengalihkan sejenak pandangannya pada jam tangan rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang. “Ayo, katanya mau ke apotek? Tapi aku mau ke bagian admin dulu buat bayar hasil pemeriksaan rahimmu yang kosong itu,” katanya sambil bercanda.
Keduanya jalan dengan langkah santai menuju lift. Namun rasa tenang dan damai di hati keduanya itu tak bertahan lama. Ketika pintu lift terbuka, Henry dan Tamara begitu terperangah saat melihat Kalula, yang sedang berdiri di dalam lift bersama dengan seorang perawat rumah sakit itu.
“Henry?” panggil Kalula seraya melangkah keluar dari dalam lift. Dipandanginya Henry dan Tamara dengan heran. “Sedang apa kalian di sini?” tanyanya.
Bukan cuma Kalula, Tamara pun juga merasa heran. Bukankah Kalula tidak kerja di sini? “Kamu kerja di sini?” tanyanya.
Kalula menggeleng, “Tidak, aku kerja di Rumah Sakit Angkatan Laut Willow Family. Aku datang ke rumah sakit ini karena mau mengantar berkas-berkas dokumen pasien yang ketinggalan. Ada beberapa pasien yang dipindah ke rumah sakit ini.” Dia memperhatikan sejenak lorong rumah sakit itu. Di deretan lorong itu, cuma ada toilet, ruang dokter kandungan dan ruang pemeriksaan kandungan. “Kalian … habis dari dokter kandungan?” tanyanya.
“Ya, aku habis menemani Tamara periksa kandungan,” jawab Henry spontan. “Dennis yang menyuruhku. Hari ini dia ada meeting mendadak dengan seorang direktur perusahaan, dan karena sudah terlanjur buat jadwal temu dengan dokter, makanya dia menyuruhku untuk menggantikannya,” bohongnya.
“Oh, begitu,” gumam Kalula. Dia beralih bicara pada Tamara, “Jadi kamu lagi hamil?”
“Tidak,” jawab Tamara. “Pas diperiksa ternyata aku sedang tidak hamil dan cuma sedang tidak enak badan saja.”
Kalula tersenyum tipis, “Ah, sayang sekali.”
Tamara jadi makin tidak betah berlama-lama di dekat Kalula. Dia merasa canggung dan takut setengah mati. Jantungnya berpacu dengan cepat seakan-akan dirinya baru selesai berlari ribuan kilometer jauhnya. “Aku duluan, ya?” pamitnya.
“Tidak mau ngobrol dulu sebentar?” ajak Kalula.
“Tidak, aku mau mampir ke apotek soalnya. Takut ngantre,” tolak Tamara. Dia beralih bicara pada Henry. “Um, Dennis sudah transfer uang untuk bayar biaya rumah sakitnya ke rekeningmu, kan?” tanyanya, sekadar pura-pura. Dia ikut menyempurnakan skenario kebohongan yang sedang dimainkan oleh Henry.
Henry mengangguk, “Sudah.”
“Kalau begitu kamu saja, ya, yang pergi ke bagian admin? Soalnya aku mau buru-buru pulang,” pinta Tamara.
“Oke,” sahut Henry. Dia nampak begitu santai dan tenang, seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
“Sampai jumpa nanti,” kata Kalula.
“Bye.” Dengan langkah cepat Tamara berjalan menuruni tangga. Dia tak jadi naik lift karena enggan menunggu lift bersama dengan Kalula. Bisa jadi dia lanjut bertanya lagi. Tamara berkunjung sebentar ke kamar mandi wanita setelah itu. “Sial, nyaris saja ketahuan,” gumamnya.
Ditatapinya wastafel kamar mandi dengan dahi mengernyit. “Tapi … memangnya rumah sakit ini masih se-tradisional itu, ya, sampai berkas-berkas dokumennya saja masih dalam bentuk hard copy? Kenapa tidak di e-mail saja dan disimpan dalam bentuk soft copy?” pikir Tamara heran. Dia menggelengkan kepalanya selang dua detik kemudian, “Ah, bodo amat deh. Bukan urusanku.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥