Pada perjalanan pulang ke rumahnya Jeremy terpaksa memegang tongkat kayu itu layaknya kayu biasa karena akan berbahaya kalau orang - orang melihat ada kayu yang terbang mengikutinya. Lagipula dia belum bisa mengendalikan kekuatan tongkat itu dengan benar.
“Aneh kenapa tongkat ini gak tinggal saja bersama dengan pak tua itu?”
“Sungguh aneh kalau aku berbicara dengan sebuah tongkat kayu.”
“Memang apanya yang aneh bocah?” Terdengar suara yang mengejutkannya entah darimana datangnya.
Suara itu seperti seorang wanita muda yang sangat lembut.
Jeremy melihat sekelilingnya untuk mencari dari mana asal suara tersebut. Tapi tidak ada seorangpun pada jarak terdekat dengannya. Hanya deru kendaraan yang lalu lalang.
“Nah sekarang aku malah seperti orang gila.” Jeremy menggelengkan kepalanya.
“Tidak juga, aku rasa kau tidak aneh bocah.” Kini dari sebelah kanannya terdengar suara itu.
Jeremy pura - pura tidak mendengar suara itu dan terus berjalan normal. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
“Ayolah bocah! Aku ada disini. Mengapa kau tidak dapat melihatnya?”
Satu - satunya yang terlintas di pikirannya dan yang paling aneh adalah tongkat kayunya dapat berbicara dan mengeluarkan suara seorang wanita muda.
Dia perlahan melihat tongkat kayu tersebut secara perlahan lalu memegangnya dengan kedua tangannya.
“Ya, kau benar bocah. Akulah yang berbicara dari tadi dan tidak kau pedulikan. Apakah kau tahu kalau itu sangat menyebalkan buatku?”
“Takk...takk...takk!” Jeremy melemparkan tongkat itu ke tanah karena ketakutan mendengar sebuah tongkat kayu berbicara layaknya manusia.
“Kau tidak perlu begitu terkejut bocah. Lagipula mengapa kau melemparku ke tanah yang kotor ini? Kalau aku bangkit dan melayang di depanmu bukankah akan lebih terlihat aneh?”
“Tidak! Tidak mungkin sebuah tongkat dapat berbicara begini. Pasti semua ini karena aku sudah terlalu sering mengalami hal - hal aneh belakangan ini.”
Jeremy mengambil kembali tongkat tersebut dan membawanya pulang kerumah. Di sepanjang perjalanan tongkat tersebut tidak mengeluarkan satu suara pun seperti tadi.
“Tuh kan, memang aku yang sudah terlalu banyak pikiran sampai - sampai membayangkan tongkat kayu dapat berbicara.”
Sesampainya dirumah Jeremy langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan meletakkan tongkat tersebut dibalik pintu.
Saat merebahkan diri di tempat tidur dia perlahan melirik kepada tongkat kayu itu untuk hanya sekedar memastikan kecurigaannya.
“Apakah kau sudah tenang bocah?”
“Hah!” Jeremy akhirnya menyadari kalau dia tidak salah kalau tongkat tersebut benar - benar bisa berbicara.
“Astaga, padahal kau sudah melihat kalau aku bisa melakukan hal yang lebih aneh tadi. Tapi mengapa kau terkejut saat mendengarkan aku berbicara? Manusia zaman sekarang memang tidak bisa ditebak.”
Jeremy masih belum berani menjawab perkataan dari tongkat tersebut karena masih terasa aneh dibenaknya.
“Jer, apakah kau membawa teman ke kamarmu?” Terdengar suara ibunya memanggil dari luar.
“Tidak mam, mungkin mama salah dengar aja kok.”
“Gak Jer, mama dengar ada suara wanita dari dalam kamar kamu.”
“Oh, ini mungkin suara hape mam.” Jeremy berusaha berdalih. Tapi semakin memperkuat dugaannya kalau tongkat itu bisa berbicara.
“Okelah kalau begitu Jer. Kalau ada pekerjaan rumah jangan lupa dikerjakan ya.”
“Ya mam. Aku mau istirahat dulu tapi.”
“Hey tongkat aneh, benda apa sebenarnya kau ini?”
“Salam kenal bocah. Aku adalah Otora yang berarti berkuasa. Salah satu senjata suci yang ditempa oleh para roh agung untuk digunakan para pahlawan.”
“Apakah orang yang kau maksud sebagai pahlawan adalah pak tua itu?”
“Bukan. Dia hanyalah salah satu pembawaku dari generasi sebelumnya. Aku memang sudah melewati banyak pertarungan bersama dengannya. Tapi aku bukanlah senjata utamanya.”
“Oh, tunggu dulu! Mengapa kau mengikutiku sampai kesini?”
“Hanya naluri saja. Aku merasa kalau mengikutimu akan menemukan takdirku.”
“Takdir...takdir...takdir! Mengapa kalian suka sekali bermain - main dengan kata itu?”
“Kau ini memang masih bocah ya. Apakah kau tidak tahu kalau semua yang hidup memiliki tujuan yang disebut sebagai takdir. Tidak ada gunanya sehebat apapun pencapaianmu kalau tidak memenuhi takdir tersebut.”
“Hey kayu tua, aku yakin umurmu pasti sudah jauh lebih dari pak tua itu bukan?”
“Jaga ucapanmu bocah! Aku ini masih terhitung muda untuk sebuah senjata suci. Masih ada yang jauh lebih tua dariku. Jadi kau tidak pantas memanggilku dengan sebutan tua begitu.”
“Aku memanggilku begitu karena cara bicaramu sama seperti pak tua tersebut.”
“Dasar bocah bodoh! Bedakan arti kata tua dan dewasa. Jangan panggil aku kayu atau tongkat. Tapi panggil dengan namaku saja. Apa kau mengerti? Atau aku akan ratakan rumahmu ini?”
“Aku hanya bercanda. Kau tidak perlu begitu marah.” Jeremy menjawab dengan terbata - bata. Oya kalau kau mau menumpang di rumahku tolong pelankan suaramu atau nanti orang tuaku akan curiga.”
“Dasar manusia tidak tahu diri. Kalianlah yang sudah menumpang di tanah ini. Kamilah yang terlebih dahulu ada disini sebelum nenek moyangmu terlahir ke dunia ini.”
“Iya aku tahu. Kalau kau tidak mau maka aku akan memanggil pak tua itu untuk membawamu pergi.”
“Babbaiklah kalau kau memaksa.”
Maka mereka sepakat untuk menjaga kepentingan masing - masing.
“Otora kan namamu? Ada yang mau aku tanyakan padamu?”
“Iya itu namaku. Pasti kau ingin tahu tentang elemen kegelapan yang dikatakan oleh wanita gila yang kita lawan tadi bukan?”
“Iya, apakah kau mengetahui sesuatu?”
“Mungkin tidak terlalu banyak, tapi aku memang pernah dengar ada beberapa orang yang ingin mencari ketujuh elemen kegelapan tersebut.”
“Apakah ketujuh elemen kegelapan itu berbahaya?”
“Bukan hanya berbahaya. Tapi lebih tepatnya benda - benda itu dapat mengubah sejarah manusia menjadi zaman kekelaman dalam sekejap. Kenapa? Apakah kau tertarik untuk mencarinya?”
“Kalau aku mencarinya apakah benda - benda itu dapat dihancurkan?”
“Hahaha, apakah kau bisa melenyapkan semua kegelapan dari dunia ini?”
“Sepertinya hampir mustahil ya?” Jawab Jeremy sambil tersenyum.
“Kau benar. Sama halnya dengan benda - benda tersebut. Tidak ada yang dapat menghancurkannya dengan kekuatan apapun. Para pahlawan pada zaman dahulu hanya bisa memisahkan dan menyembunyikannya dari para Dokoon agar tidak digunakan sebagai senjata.”
“Lalu apa artinya benda ini ada di tangan June?” Jeremy menunjukkan gantungan kunci itu.
“Aku tidak tahu bocah. Mungkin sudah ada yang berhasil menemukannya dan berusaha menyalahgunakannya lagi.”
“Ngomong - ngomong mengapa kau memanggilku bocah. Aku punya nama yaitu Jeremy.”
“Oya baiklah Jeremy. Sebaiknya kau menjaga baik - baik benda mistis itu dari tangan para Dokoon. Dan ada satu hal lagi yang berbahaya.”
“Apa maksudmu Otora?”
“Elemen kegelapan memiliki kekuatan yang saling tarik menarik akibat kekuatan mereka yang dahsyat. Kemungkinan besar elemen lain sudah ditemukan di suatu tempat.”