Bastian mengangkat dagunya tinggi sambil berkaca di cermin. Merah bekas tamparan Adrian sudah samar di pipinya. Kancing kemejanya yang semula sudah terkancing kembali ia buka. Ia memakai jaket hitamnya dan mengambil ransel yang hanya berisi satu buku sebagai bahan pencitraan di depan guru. “Motor gue.” Bastian menggeram pelan saat baru saja teringat jika ia menitipkan motornya di tempat penyewaan mobil. Ia perlu mengembalikan mobilnya lebih dulu dan mengambil motornya kembali. “Nyusahin aja.” Sambil terus mengeluh, Bastian tetap mengambil kunci mobil itu dan keluar dari kamarnya. Saat ia menutup kamar dan menoleh, ia melihat Dewa yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Mereka beradu tatap untuk sesaat sebelum kompak mengalihkan pandangan mereka satu sama lain. Selesai menutup pintu

