"Ta?"
Cinta menoleh singkat sembari merespon pelan karena ada guru yang sedang menerangkan di depan kelas.
"Sejak kapan kamu deket sama Kak Dewa? Bukannya dia pernah jahatin kamu, ya?" bisik Ajeng yang semakin mendekati tubuh Cinta. Gadis itu juga tetap mengawasi pandangan guru di depan sana. Berjaga-jaga agar ia tak ketahuan jika sedang mengobrol di dalam kelas.
Cinta menuliskan sesuatu di dalam buku catatannya lalu menggeser bukunya pada Ajeng dengan tetap menatap ke arah papan tulis. "Aku nggak pernah deket sama Kak Dewa."
"Tapi banyak orang yang ngomongin kalian berdua. Akhir-akhir ini juga kalian selalu bareng ke sekolah, kan?"
Akhirnya Cinta menolehkan kepalanya pada Ajeng lalu kembali menulis di buku catatannya. "Kamu tau itu dari mana?"
"Sudah kubilang kalau banyak orang yang ngomongin kalian, Ta."
"Itu karena Kak Dewa selalu maksa. Aku cuma nggak mau kalau Vino dan Kak Dewa berantem. Lagian, kamu tau sendiri kalau Kak Dewa orang yang suka berantem, kan? Aku nggak mau kalau sampai Vino kena pukul."
"Terus gimana sama Vino kalau nantinya kamu dan Kak Dewa jadi semakin dekat, Ta?"
Cinta sontak kembali menoleh. Kali ini ia menatap mata Ajeng lebih lama dari sebelumnya. Ia bingung karena tiba-tiba Ajeng bertanya kea rah sana.
"Aku nggak ada niat deket sama Kak Dewa. dan Vino, dia yang akan selamanya ada di dekat aku. Dia sahabat aku satu-satunya."
"Hanya sahabat?" tanya Ajeng lagi.
Kini Cinta mengerutkan keningnya dalam. Ia mendadak merasa aneh dan merasa sedikit tak suka dengan pertanyaan Ajeng barusan untuknya. Cinta hendak memegang erat pulpennya lagi untuk menulis sebelum mendengar suara tegas dari arah depan. "Cinta, Ajeng, coba sebutkan 5 hal yang baru saja Ibu jelaskan!"
☘️☘️☘️
Cinta menyeruput es jeruknya sambil menatap Vino yang duduk di hadapannya. Lelaki itu terlihat sedang begitu bersemangat. Ia bahkan selalu tersenyum dan tertawa. Ah, Cinta bahkan sempat lupa jika bukan Vino namanya jika tidak pernah menampilkan ekspresi bahagia.
"Tapi Jeng, menurut lo emang kalau anak b**o kayak gue bisa pinter matematika, ya?"
Ajeng tertawa saat memperhatikan ekspresi Vino. "Ya bisalah. Lagian siapa yang bilang lo b**o? Setiap orang itu pasti pinter, Vin."
"Tapi sumpah, Jeng, gue paling b**o sama matematika. Dari dulu cuma Cinta yang pinter matematika sedangkan gue nggak."
Ajeng kembali tertawa. "Kapan-kapan gue ajarin lo, deh. Tenang aja, lo pasti bisa."
"Wihh, terbaik dah emang temen gue!"
Pupil mata Cinta sontak melebar sedikit dari biasanya saat mendengar kata terakhir Vino kepada Ajeng. Cinta sempat melupakan fakta jika sejak awal yang membuat Vino tertawa adalah Ajeng. Mereka berdua saling menimpali ucapan satu sama lain. Berbeda sekali jika Vino saat bersamanya. Vino pasti hanya akan terlihat heboh seorang diri, sedangkan ia hanya bisa diam.
"Ta!"
Cinta mengerjapkan matanya. Vino baru saja mengibaskan tangan di depan wajahnya. Cinta menaikkan kedua alisnya sebagai ganti pertanyaan.
"Es jeruk kamu udah habis dari tadi, tapi sedotannya masih kamu emutin dari tadi."
Cinta sontak menurunkan pandangannya. Begitu ia menyadari jika sedotannya masih berada di dalam mulutnya, Cinta segera menjauhkan sedotan itu dan duduk dengan tegap kembali.
"Mau aku pesenin lagi es jeruknya?" tawar Vino sambil merapikan poni rambut Cinta yang sedikit berantakan. Cinta yang diperhatikan seperti itu tanpa sadar langsung mengeluarkan senyum samarnya yang berusaha ia sembunyikan.
Cinta menganggukan kepalanya, tak menolak. Begitu Vino berdiri, kepalanya ikut menoleh dan mengikuti kepergian Vino yang semakin menjauh.
"Ta?"
Begitu suara Ajeng memanggil, Cinta langsung menolehkan kepalanya.
"Semakin kenal sama Vino, dia ternyata anak yang lucu banget gitu, ya? Pipi aku sampe pegel karena ketawa terus sama dia. Pantesan kamu betah kalau deket dia."
Cinta tersenyum samar. Entah harus merespon ucapan Ajeng seperti apa. Entah mengapa ia kurang menyukai melihat Ajeng yang sekarang begitu akrab dengan Vino. Rasanya seperti ada yang mengambil alih posisinya.
☘️☘️☘️
Vino mengayunkan kakinya semangat menuju parkiran bersama dengan Cinta. Gadis itu hanya melangkah santai, sedangkan Vino sudah heboh sejak tadi karena gerakannya yang sambil melompat-lompat sambil bernyanyi tak jelas. Sesekali Vino dihadiahi pukulan tak kencang oleh Cinta sebagai bentuk sindiran agar lelaki itu tak heboh sendiri, tapi Vino malah menjawabnya santai dengan berkata, "Makanya kamu ikutin aku, Ta. Jadi kamu ikutan senang dan nggak cemberut mulu."
Cinta memutar bola matanya. "Malu tau diliatin orang-orang," komentarnya karena menyadari tatapan orang-orang yang menatap Vino sambil tertawa.
"Ih, Ta, kita itu makan sendiri, nggak dikasih makan sama orang lain. Jadi kalau orang lain mau ngomongin kita apa kek, kita nggak usah dengerin. Nggak ada gunanya bales omongan haters."
Cinta mendelik geli mendengar kata terakhir Vino padanya. "Emang kamu artis pakai punya haters segala?"
"Ada dong, orang aku aja punya fans."
"Oh, ya? Siapa?" tanya Cinta dengan kedua alis naik, penasaran.
Vino menoleh dan mengedipkan sebelah matanya. "Kamu," jawabnya dengan tersenyum genit.
Cinta sontak tertawa dan memukul punggung Vino berkali-kali. Ia sampai merinding dibuatnya. Benar-benar menggelikan kedipan mata Vino padanya tadi.
"Eh, Ta, seru kali ya kalau suatu saat aku bisa jadi artis? Ketika orang-orang repot mau minta tandatangan aku, kamu mah gampang, tinggal keluar rumah terus minta ttd aku deh. Enak, kan?"
"Nggak ada enaknya!"
"Ih, kamu nih! Awas ya!" Vino langsung melingkarkan tangannya di leher Cinta dan berpura-pura memiting leher gadis itu dengan lengannya. Itu sama sekali tidak sakit, karena kini Cinta malah tertawa lebar karenanya.
"Ekhm!!"
Vino dan Cinta sontak menoleh ke kanan. Mereka berdua kompak menoleh lagi ke arah lain dan menemukan sosok Dewa yang sudah berdiri dengan bersandar di membuat seluruh siswi Angkasa menggila.
"Gayanya, udah kayak artis sinetron aja," celetuk Vino pelan. "Halah, baru senderan di atas motor ninja aja belagu. Tar gue bawa motor matic baru tau rasa."
Cinta sempat menoleh dan menatap Vino untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali menatap Dewa. Mungkin jika tak ada Dewa, Cinta sudah tertawa karena celetukan Vino yang nggak banget.
Cinta hanya diam, tak tahu ingin menanggapi seperti apa. Yang awalnya ia hanya berdua dengan Vino, ia malah kedatangan banyak siswi lain dengan kamera yang sudah siap membidik karena kehadiran Dewa.
Tak melihat Cinta bergerak dari posisinya, Dewa lantas melangkah maju mendekati gadis itu. Ia langsung menggenggam tangan Cinta dan menariknya untuk mendekat ke motornya sebelum ia kembali berhenti karena Vino yang menahan sebelah tangan Cinta lainnya.
Dewa berdecak pelan lantas memutar tubuhnya kembali. Ia sama sekali tak melepaskan genggaman tangan Cinta darinya.
"Mau dibawa ke mana Cinta?"
"Pulang, lah," jawab Dewa santai.
"Hari ini Cinta pulang sama gue."
Dewa tersenyum miring meremehkan. Bagi Dewa, Vino hanyalah angin lalu yang tidak perlu ditindak seriusi, sehingga ia tidak pernah berniat melayangkan pukulannya untuk lelaki itu. "Pacar lo udah nungguin dari tadi di sana." Dewa mengarahkan dagunya ke arah depan, membuat Vino segera menolehkan kepala. Ajeng yang sadar akan tatapan itu, langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" timpal Vino.
Senyum miring Dewa kembali tercetak. "We'll see," cibirnya pelan segera menepis tangan Vino dan membawa Cinta untuk segera naik ke atas motornya. Vino akhirnya hanya bisa memandang kepergian Cinta bersama Dewa tanpa penolakan berarti.
"Vino!" panggil Ajeng. Gadis itu melangkah cepat mendekat dan berdiri di samping Vino yang masih memandang ke arah kepergian sahabatnya. "Kenapa lo nggak halangi Cinta pergi?"
"Apa?" Vino menoleh. Baru beberapa detik ia menatap mata Ajeng, ia langsung memutuskan kontak dan beralih menatap ke arah lain.
☘️☘️☘️
Sore ini, Dewa langsung mengantarkan Cinta sampai di depan rumah. Gadis itu tak berkunjung ke warung bundanya karena Dewa yang sudah meminta izin untuk membawa Cinta jalan-jalan. Sehingga Dewa langsung mengantar gadis itu sampai di rumah agar gadis itu bisa berganti pakaian.
Cinta turun dari motor Dewa dengan tidak bersemangat. Lagi pula jika bersama Dewa Cinta akan selalu kurang bersemangat. Berbeda sekali jika saat ia sedang bersama Vino. Karena karakter Dewa dan Vino yang hampir seratus delapan puluh derajat berbeda. Cinta selalu merasa jika Dewa terlalu keren jika didekatnya, sedangkan Vino, apa yang ada di diri lelaki itu selalu pas untuk Cinta.
"Hahaha, ya nggak mungkin begitulah!"
"Ya pasti akan begitulah!" Sambungan suara tawa yang terdengar begitu riang membuat Cinta menolehkan kepalanya. Ia mengerutkan keningnya tipis saat melihat pemandangan di hadapannya.
Vino tampak sedang bercanda ria bersama Ajeng di halaman depan rumah lelaki itu. Vino terlihat begitu bahagia. Lelaki itu bahkan sampai terbahak begitu kerasnya, hingga tak menyadari kehadirannya. Cinta ingin memanggil Vino, tapi sadar diri, ingat jika dirinya adalah gadis bisu. Cinta pernah mengharapkan suatu saat ia bisa memanggil dengan lantang nama sahabatnya itu. Tapi apa daya, harapannya hanyalah angan yang tak pernah kesampaian. Dan sampai saat ini, nyatanya ia tidak juga bisa memanggil nama Vino selayaknya orang normal.
"Iih, Vino! Jangan acak-acak rambut gue!" Ajeng terdengar kesal saat mengatakan itu pada Vino, tapi beberapa detik kemudian gadis itu kembali tertawa. Bahkan Vino malah terlihat lebih geli dan bersemangat lagi.
Cinta menatap keduanya tanpa kedip. Ada getir di hati saat ia menyaksikan apa yang terpampang di depannya. Lidah Cinta mendadak kelu. Hatinya memanas, karena itu ia hendak memutar tubuhnya. Tapi belum sempat ia berbalik dengan sempurna, sebuah tangan yang menggenggam tangannya menghentikan gerakan Cinta hingga ia kembali menghadap ke depan.
Cinta menoleh dan menatap Dewa dengan bingung, sedangkan Dewa juga hanya balas menatapnya tanpa bicara.
"Cinta!!"
Teriakan itu sontak membuat Cinta menarik tangannya cepat dan menghadap ke depan. Vino melambaikan tangannya semangat sabil tersenyum cerah menatapnya. Akhirnya Cinta ikut melambaikan tangan dan membalas senyum Vino seadanya.
Lambaian tangan Cinta tak bertahan lama hingga akhirnya ia melihat Vino yang sudah kembali bercanda dengan Ajeng.
"Vino ih, jangan iseng!" Ajeng langsung membalas memukul punggung Vino dengan segenap kekuatan yang ia punya.
"Ajeng, ih, sakit!" Vino seketika bangkit berdiri. Ia mengambil boneka panda besar dan langsung memukulkannya ke puncak kepala Ajeng. Membuat Ajeng seketika malah terbahak dengan kencang.
Lagi-lagi Cinta kembali mematung di posisinya. Andai ia bisa jadi Ajeng yang bisa bersuara dan memanggil nama Vino. Andai ia bisa jadi Ajeng yang cantik dan pintar di kelas. Andai ia bisa jadi Ajeng yang dibanggakan oleh guru-guru. Andai ia bisa jadi Ajeng yang bisa membuat Vino mengeluarkan banyak kosa kata.
Cinta merasakan lengannya disentuh hingga ia menghadap lurus ke arah Dewa yang kini menatapnya lekat dengan mata sedikit menyipit. Cinta segera menghapus air matanya karena tak sadar telah menangis. Entah mengapa kini ia merasa takut kehilangan orang kedua yang paling berharga dalam hidupnya. Entah mengapa kini ia merasa takut jika suatu saat nanti Vino tak lagi dekat dengannya.
"Lo ...." Belum sempat Dewa mengucapkan yang ingin ia katakan, Cinta menepis tangan Dewa dan segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu masuk dan menangis di dalam kamar. Entah apa hubungan Vino saat ini dengan Ajeng, yang jelas Cinta merasa sedih dan takut karenanya.
Dewa menggeratakan rahangnya keras-keras. Ia menoleh dan menatap sinis pada manusia berjenis kelamin laki-laki yang kini sedang asyik bercanda ria dengan Ajeng. Dewa melangkahkan kakinya maju dan berdiri tepat di depan pagar rumah Vino.
"Woy, lo! Sini!" perintah Dewa.
"Dih, siapa lo perintah gue kayak gitu?" tanya Vino menantang. Memang benar ia sama sekali tidak merasa takut dengan Dewa. Menurutnya, ia dan Dewa sama-sama manusia, sama-sama berkaki dua, dan sama-sama punya satu hati dan dua ginjal.
"Sahabat lo nitip sesuatu buat lo."
Alis vino terangkat sebelah. "Cinta? Dia nitip apa?" tanyanya yang jadi penasaran.
"Sinilah, lo keluar. Jangan pacaran mulu lo dari tadi!"
"Gue nggak pacaran!" balas Vino tak kalah ngegas.
Dewa memutar bola matanya jengah. "Terserah lo dah mau namain apaan. Sekarang cepet ke sini!"
"Ada apaan, sih?" walau dengan bibir menggerutu tak suka dengan nada bicara Dewa yang memaksa, Vino tetap berdiri untuk keluar dari halaman rumahnya.
Jemari Dewa mengarahkan Vino agar berdiri tepat di hadapannya.
"Jadi Cinta nitip apa?"
Dewa menahan senyum jailnya. Entah Vino yang pura-pura bodoh hingga tak menangkap maksud Dewa memanggilnya atau memang karena lelaki itu sungguhan bodoh.
"Nih, buat lo."
Vino menatap wajah Dewa dengan serius, sebelum ia langsung meringkuk di jalan saat merasakan tulang keringnya yang ditendang oleh Dewa.
"Anjrit!" pekik Vino. "Sakit, b**o!"
Senyum yang sejak tadi ia sembunyikan akhirnya menguar. Dewa tersenyum sinis menatap Vino yang masih menyentuh kakinya. Lumayan, Dewa menendang kaki Vino dengan setengah kekuatannya. Dan rupanya itu sudah mampu membuat bocah itu tumbang kesakitan.
"Lo yang b**o karena punya otak nggak dipake untuk berpikir."
"What? Apa lo bilang?"
Dewa kembali memberikan senyum sinisnya untuk Vino. Tanpa ingin berlama-lama lagi ia segera memutar tubuhnya dan naik ke atas motornya. Tak lupa ia memberikan tatapan tajamnya pada Ajeng yang tadi menatapnya dengan mata membulat saat ia menendang tulang kering kaki Vino.
"Wah ... udah gila lo, ya?!" seru Vino yang masih meringis sakit sambil mengusap kakinya.
Dewa sama sekali tak merasa iba. Ia langsung menutup kaca helmnya rapat dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Cinta. Gadis itu menangis tadi. Dan Dewa cukup cerdas membaca situasi. Sejak awal juga sebenarnya Dewa sudah tahu jika Cinta memiliki perasaan pada Vino. Terlihat jelas sekali saat gadis itu menatap Vino. Tapi Vino yang selalu di sisinya malah sama sekali tidak menyadari. Makanya Dewa tak segan-segan mengatai bocah itu yang punya otak tapi tidak digunakan untuk berpikir.
☘️☘️☘️