Rey yang melihat dari kejauhan sudah tau gelagat petugas dan sang Bandar. Dari dulu ia memang tak pernah mau percaya dengan petugas karena sesuatu hal. Sudah menjadi rahasia umum dunia criminal selalu berdampingan dengan pihak keamanan. Jadi ia sangat rentan dengan soal sogok menyogok. Rey sangat paham akan kondisi itu.
Tanpa sepengetahuan mereka, Rey berusaha mengikuti mereka. Dan hasilnya ternyata benar. Setelah merasa cukup jauh dari lokasi pertarungan Rey tadi, si Bandar di turunkan oleh petugas dan tangannya sudah tidak di borgol lagi. Tampak wajah sumringah dari sang Bandar yang merasa senang telah di lepaskan. Semua pasti karena uang yang berbicara demikian.
Dari sudut lain Rey terus mengikuti Bandar tersebut. Waktu sudah semakin larut. Jalanan juga sudah sangat sepi akan kendaraan lalu lalang. Hanya beberapa orang yang tampak sibuk mengais rezeki di tengah malam dengan berjualan. Si Bandar terus berjalan tanpa di sadari jika ia di buntuti oleh Rey. Hingga tibalah ia di sebuah warung kopi yang masih buka malam itu.
Rey menunggu beberapa saat, namun perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi membuat ia mau tidak mau harus mengisinya juga. Dan hanya warung itu yang masih buka di tengah malam begini. Kebetulan ia juga ingin menguji si Bandar apakah masih mengingatnya atau tidak.
“Assalammualaikum, Pak.” Sapa Rey saat masuk ke warung.
“Waalaikumsalam, mas. Monggo pinarak mas.” (silahkan mampir).
Tampak sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut sedang sibuk melayani tamu yang sedang makan dan minum. Semua mata tertuju pada Rey saat ia baru masuk dan menyapa tadi. Hanya si Bandar yang cuek karena sedang sibuk menghabiskan sepiring nasi kucing yang ia pesan. Sementara ada 2 tamu lagi juga sibuk dengan gawainya masing masing sambil menyeruput segelas kopi panas olah bapak tua tadi.
Rey kemudian duduk tak jauh dari sisi sang Bandar. Ia memesan mie goreng instan dan seporsi nasi putih beserta air putih. Sambil menunggu pesanannya datang, ia memakan gorengan yang tersaji di meja warung meski itu sudah dingin. Untuk sementara mengganjal perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi. Sambil melirik sang Bandar yang masih saja asik dengan hidangannya.
Si Bandar menambah lagi pesanannya pada bapak penjual. Kali ini tidak hanya nasi kucing, ia juga menambah menu mie instan dan segelas teh es. Sambil menunggu pesanannya datang ia membakar sebatang rokok ketengan dari warung ini. Ketika sedang menikmati rokok itu ia mengamati satu persatu pengunjung warung tersebut. Hingga akhirnya matanya terhenti pada satu sosok yang menurut ia tidak asing. Tiba tiba ia terbatuk dengan asap yang keluar tersendat beberapa kali dari mulutnya. Tenggorokannya jadi sakit karena asap rokok tadi. Ia langsung mengambil air minum di depannya sambil melihat pemuda yang barusan ia lihat.
“Alon alon mas, ojo kesusu.” (Pelan pelan mas, jangan terburu buru) Tegur sang bapak penjual ketika melihat si Bandar tersedak oleh rokoknya sendiri.
Rey yang mendengar batuk si Bandar berusaha cuek dan tetap mengunyah pisang goreng yang sudah dingin tadi. Ia berusaha tetap menundukkan kepalanya. Dari sudut bibirnya ia tersenyum seolah ingin menunjukkan pada sang Bandar yang mulai terlihat panik.
Sang Bandar yang sudah merasa yakin dengan apa yang ia lihat, hatinya jadi tak tenang. Tangannya gemetaran dan rokok yang ia hisappun jadi tak karuan geraknya. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya yang sudah bau. Bapak penjual melihat gelagat pengunjungnya yang satu ini kemudian menegur lagi.
“Kenapa mas, sampean keademan yo?” (anda kedinginan kah?)
Si Bandar tak menghiraukan teguran bapak penjual. Ia terus saja menghisap rokoknya dengan terburu buru.
“Pak, pesananku apa masih lama?”
“Lima menit lagi mas. Tenang saja mas, waktu pagi masih panjang kok.” Canda si bapak.
Pesanan Rey lebih dulu tiba. Sambil meracik mie sesuai dengan seleranya, ia mengambil kecap manis, saos sambal dan sambal goreng agar lebih pedas lagi. Setelah itu semua, ia melahapnya dengan nasi putih seporsi yang di lengkapi dengan 2 tusuk telur puyuh dan 2 tusuk usus ayam. Rey berusaha cuek dengan kondisi si Bandar yang masih shock dengan kehadirannya. Baginya perut adalah utama jika rasa lapar sedang melanda.
Si Bandar sudah merasa salah tingkah. Satu sisi ia masih lapar tapi di sisi lain ia ketakutan dengan sosok musuh yang telah menghajar hbais anak buahnya tadi. Sudah dua batang rokok yang ia habiskan tapi pesanannya belum juga tiba. Hingga akhirnya ia …
“Udah pak, semua pesanan saya berapa totalnya?”
“Tapi mas, tambahane dereng mateng, piye?” (tambahannya belum masak, bagaimana?)
“Kasih saja ke yang lain pak, saya bayar semuanya. Piro pak?” (Berapa pak?)
“Sekedap nggih, kulo hitung dulu.” Tampak si bapak meraih kalkulatornya dan menghitung semua pesanan si Bandar.
“Totale tigang doso, mas.” (Totalnya tiga puluh ribu, mas.)
Si Bandar langsung memberikan selembar uang lima puluh ribu dari dalam saku celananya.
“Sisane gae sampean saja pak.” (sisanya buat bapak saja.)
“Oalah tenane, matur suwun lho mas. Mugo di parengi sehat, murah rezeki nggih.” (Ini beneran, terima kasih banget mas. Semoga di beri kesehatan dan murah rezeki.)
Pria itu lalu bergegas keluar dari warung itu. Ia tak mau lagi melihat Rey yang masih saja asik dengan makanannya. Dengan rokok yang masih tersulut ia tampak terburu buru meninggalkan warung tadi. Ia terus saja melangkah dengan cepat tanpa menoleh ke belakang lagi. Melalui jalan jalan sempit yang sepi tanpa ada seorangpun yang ia temui. Hingga akhirnya ia tersesat dalam sebuah gang yang sangat gelap.
Semula gang itu terang situasinya karena lampu dari sebuah bangunan plus dari tiang listrik juga cukup dayanya menyinari lokasi itu. Cahaya putih yang terang benderang tadi tiba tiba dalam sekejap langsung padam begitu si Bandar berada di situ. Di depannya sudah tidak ada jalan lagi hanya sebuah pagar tembok sebagai pembatas. Suara kucing yang begitu memelas tiba tiba membuat bulu kuduknya meremang seketika. Perasaannya jadi tidak enak. Ada sesuatu yang sepertinya sedang mengikuti dirinya dari tadi.
Belum lagi hilang rasa bergidiknya, mendadak lampu di tiang tadi menyala. Dan alangkah terkejutnya ia ketika di bawah sinar lampu itu ada seseorang yang sangat ia kenal. Jelas ia adalah Rey yang seharusnya ia bunuh tapi malah keadaan menjadi terbalik. Kini ia yang merasa di kerjain oleh sosok pemuda yang telah ia anggap remeh.
Sekarang sosok itu sudah berada di depannya dengan kepala tertunduk. Pakaian yang ia gunakan membuat sang Bandar merasa yakin jika itu pemuda yang juga berada di warung tadi. Di tambah lagi beberapa luka di tangannya yang membuat ia semakin yakin dengan apa yang ia lihat. Baju hoodie berwarna kuning dengan lengan yang sudah compang camping.
“B-b-bagaimana bisa kamu sampai kesini?”
“hehehe … hehehe … ”
“Tolong lepaskan aku. Aku mohon … “ si Bandar memohon belas kasihan dari sosok Rey. Tapi sosok ini hanya tertawa menanggapinya. Sepertinya ia sedang mempermainkan nasib si Bandar.
“Kamu minta berapa, tapi tolong lepaskan aku, Rey!”
“hehehe … hehehe … ” tawa dingin terus saja di lontarkan sosok Rey. Tiba tiba ia langsung melesat ke arah sang Bandar dan memegang lehernya hingga terangkat. Sang Bandar langsung bertambah panic ketika tubuhnya mampu di angkat oleh lawan bicaranya. Nafasnya terasa sudah di penghujung saat tenggorokannya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Sesaat kemudian tubuh si Bandar di turunkan. Saat itulah ia baru bisa melihat dengan jelas sosok siapa dalam baju hoodie yang bertopi tersebut. Wajahnya sama dengan yang ia lihat waktu berantem dengan anggotanya. Begitu juga saat di warung tadi yang ia temui, tidak ada yang aneh. Tapi kali ini sosok yang membedakannya adalah pada mata si Rey. Matanya yang berwarna merah menyala membuat si Bandar menjerit kesakitan namun ia tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun.
Sosok Rey masih saja tertawa melihat si Bandar berada di penghujung hidupnya. Perlahan lahan tapi pasti mulut si Bandar mulai tertutup dan badannya melemah tak berdaya di genggaman sosok Rey. Setelah merasa tak lagi ada pergerakan dari tubuh si Bandar barulah ia dilepas.