Kota Apel – Malang, Tahun 1998.
Malam itu di sebuah rumah kontrakan kecil yang terletak di kawasan warga yang cukup padat. Cuacanya juga lagi bersahabat tidak seperti biasanya yang bisa sampai minus alias dingin banget. Wajar saja jika kota ini suasananya sangat menyenangkan di bandingkan dengan kota Rey yang sangat panas. Kota yang di kelilingi dengan sejumlah pegunungan baik yang aktif maupun tidak.
Di ruang keluarga itu dua orang sahabat Rey yang bernama Aco dan Alex sedang asyik menonton berita mengenai perkembangan tuntutan mahasiswa yang saat itu memang lagi hot hotnya masalah krisis Indonesia. Mereka begitu tegang menyaksikannya apalagi si Aco yang mantan ketua Osis zaman SMA dulu. Sudah pasti dia anak yang paling kritis di antara teman teman sekolah Rey.
Di tengah meja telah tersaji sepiring pisang goreng yang memang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Baru lima menit yang lalu pisang goreng itu di angkat dari penggorengan yang di lakukan si Alex. Sementara dua gelas kecil yang berisikan kopi sudah lebih dulu tersaji dari pisang goreng tadi.
Baru saja mereka menikmati gorengan dan kopi tadi selama 10 menit, mendadak dari luar ada suara ketukan pintu dan ucapan salam.
“Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Serentak berdua menjawab salam itu.
“Masuk saja, pintu ga di kunci.”
Begitu pintu di buka, kedua wajah sahabat Rey langsung sumringah. Tamu yang barusan hadir adalah orang yang sudah di tunggu tunggu mereka berdua. Sejak sore mereka memang sudah buat janji untuk bertemu di rumah kontrakan ini. Ada yang ingin mereka tanyakan pada sosok tamu ini tentang sahabat mereka yaitu Rey gemblung.
Sayang saat itu yang ingin dibahas sedang tidak berada di tempat. Ia masih sibuk melanglang buana dengan gadis di kampung sebelah yang baru saja ia kenal sore tadi saat menonton acara kuda lumping dan reog. Kedua orang sahabatnya sudah ga heran dengan kelakuan Rey yang pencinta wanita.
“Maaf telat bro, gue tadi ada acara sebentar.”
“Its ok bro, yang penting lu dah datang aja kami syukur banget. Bokin lu ga di ajak bro?”
“Tadi udah gue ajak makan bareng bentaran, biar ga rewel, klo ga gitu gue nya bisa ketahan bro, ga jadi kemari kan bisa berabe urusannya dengan lu pade.”
Aco lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk. Sementara si Alex beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk sang tamunya.
“Nonton apaan lu Co? wah keren banget nih, berita politik tontonan lu, berat memang musuh anak senat nih, mau jadi politikus lu ye?” goda sang tamu.
“Ya gitu dah bro, situasi politik Negara kita sekarang sudah ga sehat, semenjak Negara api menyerang, kita jadi kewalahan, sesama anak bangsa juga malah gampang di adu. Ribut sendiri, tawur sendiri, sampe kawin sendiri juga.”
“Woi lu ngomong apaan sih, hahaha …”
Beberapa saat kemudian datang Alex dengan secangkir kopi panas yang barusan ia buat.
“Ayo bro, ngopi dulu kita. Sori adanya ini doang. Tu pisang goreng icip juga dong jangan di anggurin gitu.”
“Wah kebetulan nih bro, minuman favorit ane tu, kopi hitam plus pisang. Gue banget nih.”
Sambil menikmati hidangan mereka masih tampak asik membahas acara yang mereka tonton. Tentu saja tidak jauh hubungannya dengan dunia politik. Samping di selingi dengan cerita tentang kampus mereka yang kebetulan tamu ini juga se-kampus dengan Alex.
“Eh by the way, gue di panggil kemari ada apa nih? Dari sore gue dah penasaran, tumben lu berdua perlu kehadiran gue.”
“Oya bro, begini ceritanye …” Alex lalu menjelaskan sesuatu pada si tamu tersebut.
*********
“Entar sore ke lapangan, yuk!” kata Aco.
Rey yang sedang asyik menonton TV menanggapi ajakan temannya itu. “Ngapain ke lapangan, main bola atau cuci mata bro?”
Teman Rey yang satu lagi, Alex, sambil tertawa kecil ikut menimpali, “Edan lu, kalo cewek aja laju sekali, lu kunyuk!”
“Normal tuh bro Lex, kemarin saja waktu ada acara di lapangan, anak-anak kos yang cewek pada keluar semua, lumayan kan, ga jauh-jauh kita cuci mata,” jawab Rey sambil nyengir kuda.
“Dasar wong edan! Itu acara syukuran, ada yang lagi nanggep reog dan jaranan,” kata Alex lagi sedikit kesal. Hari itu memang akan ada acara di lapangan di kampung tempat mereka mengontrak. Ada salah satu warga yang mengadakan syukuran khitan anaknya.
Sementara jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sebagian warga sudah mulai mendatangi tempat acara tersebut. Sesuai rencana, mereka bertiga bersama warga lain berjalan kaki pergi ke lapangan. Aco dan Alex memang antusias dengan acara tersebut karena minimnya hiburan di kontrakan mereka, sedangkan Rey bukan bersemangat karena hal itu, melainkan tertarik dengan “pemandangannya”. Ia berharap bisa mendapatkan pemandangan nan indah, minimal menambah wawasan akan indahnya ciptaan Ilahi.
Lima menit kemudian, tibalah Rey dan kawan-kawan di lapangan acara itu. Banyak warga yang penuh semangat menyaksikan acara tersebut, termasuk si Aco dan Alex. Yang sedang berjualan pun tak kalah heboh dengan acara yang akan berlangsung. Sementara Rey bisa ditebak ke mana matanya memandang. Ia menyebarkan pandangannya ke sekeliling warga yang hadir.
Ada beberapa mahasiswi yang turut menyaksikan. Rey belum berani mendekat karena rata-rata mahasiswi tersebut berkelompok saat menonton. Terpaksa, Rey hanya bisa memandang dari kejauhan sambil sesekali melempar senyuman.
Tak ada kejadian yang aneh sepanjang acara berlangsung. Ketika acara puncak akan dimulai, mereka bertiga pun merapat mendekati lokasi acara. Namun, Rey masih enggan mengalihkan pandangannya kepada para mahasiswi yang sedang menyaksikan acara itu.
Neng-nang-neng-gung .... Neng-nang-neng-gung ....
Terdengar suara musik khas Reog Ponorogo yang beralun-alun. Rey tetap asik mengamati sekitarnya, berharap mendapatkan sesuatu, ya ... minimal bisa berkenalan dengan seorang gadislah. Sementara Alex dan Aco sudah tegang duluan menyaksikan reog dan jaranan itu. Sepintas Rey melihat acara reog itu, beberapa wanita dan pria yang menari mengikuti alunan musik tersebut. Ada yang menggunakan media seperti kuda, mungkin ini yang disebut tarian kuda lumping.
Di tengah tengah lapangan itu sudah ada dua topeng besar berbentuk kepala singa yang diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa, orang orang menyebutnya sebagai Singa barong. Selain para pemain reog tadi, ada satu sosok yang paling berbeda penampilannya, sepertinya itu dalang para pemain reog tersebut.
Hingga sampailah di acara puncaknya yaitu adegan Singa barong dan para pemain kuda lumping, yang dimana biasanya ada adegan kerasukan, di mana orang yang kerasukan biasa makan yang aneh-aneh yaitu pecahan kaca atau kupas kelapa dengan giginya. Nah, disinilah timbul kejadian di luar dugaan para pemain termasuk juga dalangnya.
Ketika dua pemain yang bertugas hendak mengangkat Singa barong, tiba tiba Singa barong itu tidak bergerak atau terangkat sedikit pun. Kedua pemain merasa heran. Lalu, mereka mencoba lagi, tetapi tetap tidak terangkat. Kedua pemain itu saling memandang penuh keheranan.
Sang dalang yang melihat kejadian tersebut, coba mendekati kedua pemainnya. Mereka terlihat sedang berdiskusi, mencari sebab-musababnya. Sang dalang kemudian mengalihkan pandangan ke sekeliling penonton. Seperti CCTV yang berputar, perlahan ia terus melihat dan sampailah pandangannya kepada tiga mahasiswa asal Kalimantan itu.
Rey merasa biasa saja, karena ia memang tak fokus pada acara tersebut. Akan tetapi, beda halnya dengan si Aco dan Alex, mereka jadi agak sedikit kurang nyaman ketika dipelototi sang dalang dari jauh.
Tak lama kemudian ada dua penonton sekaligus yang tiba-tiba mengalami kerasukan. Entah apa yang merasuki mereka, yang jelas tingkah mereka seperti monyet. Sang dalang yang belum habis bingungnya akan barong, kembali dihadapkan dengan hal aneh.
Kedua penonton yang kerasukan mendatangi tempat ketiga mahasiswa yang ikut menonton—Rey, Alex, dan Aco. Orang-orang yang ada di sekitar mereka bertiga sontak berhamburan menjauh, ketakutan. Si Aco dan Alex posisinya tepat di depan Rey. Begitu dua orang penonton tadi tiba di depan mereka, kedua temannya mulai bergeser menjauh pelan-pelan, sepertinya mereka mulai takut juga.
Jadi tertinggallah Rey sendiri berhadapan dengan dua penonton yang raut wajahnya sudah tidak nyaman dengan mata melotot kemerahan. Rey yang sedari tadi sudah dipelototi belum juga menyadari situasinya. Namun ketika ia sadar, betapa terkejutnya ia.
Waduh ada apa ini, kok, menuju ke gue, apa salah gue, ya? Dalam hati Rey mulai waspada. Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam diri Rey. Mau menjauh, tetapi sudah terlanjur di depan mata. Selain itu, ia jaga gengsi dengan penonton, terutama penonton cewek. Mau tidak mau Rey kudu menghadapinya.
Tengsin dong kalau sampai para ladies itu melihat gue keder dengan beginian.
Ada hal yang aneh ketika kedua penonton kesurupan tadi sudah berada di hadapan Rey. Ia mengira kedua penonton itu akan menyerang dirinya. Ternyata malah sebaliknya, seketika itu juga mereka sujud di depan Rey. Keduanya menaruh hormat kepada sosok Rey. Mereka tampak tunduk menyembah pemuda sableng tersebut.
Para penonton yang menyaksikan kejadian itu, tampak keheranan. Sementara Rey pun tak kalah bingung—bagaimana bisa itu terjadi. Sejurus kemudian, sang dalang mendatangi Rey dengan wajah yang masih kebingungan. Sang dalang kemudian bicara pelan kepadanya, “Sam, neng burimu kuwi sopo tho?”[1]
Rey yang sudah bingung menghadapi penonton, jadi tambah bingung dengan kata-kata sang dalang. Ia pun menoleh ke belakang, tak ada siapa pun yang dimaksud dalang.
Rey menjawab sekenanya, “Gak ada orang, Pakde.” Ia panggil sang dalang yang buncit itu dengan Pakde.
“Kuwi wong hebat, Sam, mangkane wong-wong yang kesambet iki podo hormat neng awakmu,”[2] kata sang dalang lagi.
Rey yang mendengar omongan sang dalang, rasanya mau tertawa sebab ia tidak percaya ucapan tersebut. Namun, karena menghormati lawan bicaranya, terpaksa Rey menahan tawanya.
“Wes awakmu balik omah opo nangdi disek, yo, engko lek wes mari acarane, balik mrene neh ora popo,”[3] kata sang dalang penuh harap.
“Nggih, Pakde.” Terpaksa Rey memenuhi keinginan sang dalang. Padahal, ia belum puas cuci mata saat itu. Segera Rey meninggalkan acara itu, lalu si Alex dan Aco diberi kode untuk mengikuti langkahnya.
Dalam perjalanan pulang, Aco dan Alex tak hentinya melontarkan banyak pertanyaan diarahkan kepada Rey. Belum lagi Rey menjawab satu, mereka sudah bertanya lagi, seperti kereta api yang tiada putusnya. Rey sendiri tidak mengerti apa yang terjadi tadi dengan dirinya. Sampai di rumah mereka pun tetap terus menanyai Rey. Namun, karena memang tidak tahu, Rey pun menjawab sekenanya saja.
[1] Mas, di belakangmu itu siapa?
[2] Itu orang hebat, makanya ‘orang-orang’ (yang kerasukan tadi) hormat semua dengan kamu
[3] Sekarang kamu pulang ke rumah atau ke mana dulu ya, nanti kalau sudah selesai acaranya, balik lagi ke sini ga masalah