Selama Dion memimpin perusahaan yang dibangun oleh Koh Ming Ay ini, ada kemajuan yang mulai signifikan. Hal tersebut terlihat saat triwulan pertama. Karena pembukuan yang biasa dilakukan oleh tangan kanan pemimpin, dimana dahulu tugas tersebut masih dilakukan oleh Dion dan kini tugas tersebut dikerjakan oleh Roxy. Triwulan pertama daripada perkembangan perusahaan meningkat adanya.
“Bang Dion, ini laporan untuk triwulan pertama kita.” Saat Roxy dipanggil Dion ke ruangannya untuk mengevaluasi kinerja mereka selama tiga bulan pertama.
“Mengesankan, semoga kenaikan profit akan terus begini ya ci...”
“Aaamiiin...”
“Eh ci, bagaimana keadaan di lapangan?” Dion memberikan satu pertanyaan yang sedikit sulit buat cici Roxy.
“Aman terkendali untuk tiga bulan pertama semenjak kepengurusan kita bang... Si
Rey adik abang tu kegirangan banget, katanya kakaknya sekarang jadi bos...”
“Maafin adik saya ci, nanti saya bilangin itu. Ga sopan begitu ke Cici.”
Roxy malah berkelakar “Sudahlah, tidak apa-apa. Bukan masalah buat aku kok”
“Iya itu bukan masalah buat cici Roxy, tapi masalah buat cici Lexy kalau dia tahu kelakuan bawahannya itu tidak sopan ke cici Roxy dan Lexy. Ci Roxy kan tahu sendiri, bagaimana sifat ci Lexy. Saya sekarang masih ga enak mengemban tugas ini, udah sih ci kita tukeran aja saya yang tetap jadi tangan kanan aja. Saya siap deh disuruh-suruh ci Roxy maupun Lexy. Nah biar cici Roxy atau Lexy aja yang jadi atasan gimana?” Dion mengelak sanggahan dari Roxy dan memberi sedikit penjelasan bahwa apa yang sebenarnya dilakukan Rey itu keliru.
“Udah sih bang, aku justru ngerasa gak pantes tahu. Aku belum siap mental juga. Sedangkan bang Dion sudah merasakan seperti apa yang pernah ayah rasakan. Mungkin lebih berat dari ayah.” Cici Roxy balik menyanggah penjelasan Dion lagi.
“Lebih berat bagaimana ci?”
“Ya, apa bang Dion ga inget? Sedari pertama bang Dion kerja disini. Bang Dion selalu difitnah, dirundung, dan bahkan pernah sekali ayah sempat benci sama bang Dion karena ulah orang-orang yang tidak suka sama bang Dion itu.”
Dion merendah “Ooh, masalah itu...”
Dion merendah lagi dan menambahi “Itu sih sebenarnya bukan masalah ci...”
“Ya sudah, bagiku juga. Si kelakuan konyol Rey bukan masalah juga dong?” akhirnya mereka tertawa dalam ruangan kerja Dion itu dan setelah beberapa lama Cici Roxy pergi berlalu dari ruangan tersebut. Terlihat jelas bahwa Roxy sebenarnya sudah menitisi apa-apa yang melekat dalam diri Koh Ming Ay. Dimana bermental santai, disiplin, dan optimis. Dion bahkan selalu berpikiran bahwa seharusnya cici Roxy saja yang jadi bos besarnya. Karena dari dalam lubuk hati Dion tidak menginginkan adanya sebuah ketegangan antara dirinya dengan cici Lexy yang sudah diketahui terang-terangan menolak naiknya promosi yang didapat oleh Dion.
Sepulang dari hari kerja saat itu. Dion yang kini sudah memakai kendaraan sendiri pulang ke rumah. Dan di rumah didapati Rey yang sudah pulang duluan, dirinya kini tengah mandi sambil bernyanyi keras-keras dengan suara fals. Memang konyol Rey di mata Dion dan banyak orang. Kekonyolan Rey ini muncul saat ia mendapatkan fakta dan kenyataan ditinggal oleh orang yang paling disayanginya, yakni Ibunya.
“Jangan brisik lu t***l, udah maghrib. Ini gerbang ghaib udah pada dibuka, entar lu digerayangi wewe gombel didalem tau rasa lu...” ledek Dion sambil menutup kuping kalau Rey tidak bisa menyentuh nada tertinggi.
“BODO!” terdengar balasan Rey dari dalam kamar mandi.
Selang beberapa menit barulah abang Dion yang sekarang mandi. Dan setelahnya abang Dion berganti baju serta menjalani tugasnya sebagai seorang Muslim yang taat. Yaitu menjalankan kewajiban sholat maghrib didalam sholatnya itu. Dion memanjatkan segala doa. Yang pertama adalah doa untuk keluarganya terutama kedua orang tuanya yang sudah tiada. Kedua, untuk Rey. Ketiga untuk keadaan pekerjaannya yang kini jadi orang nomor satu perusahaan – Dion masih menganggap bahwa apa yang ia dapatkan bukanlah suatu kenikmatan melainkan sebaliknya yaitu suatu cobaan yang bisa saja Allah turunkan untuknya, maka dari itu untuk doa yang ketiga ini Dion begitu khusyuk memanjatkannya. Dan yang terakhir untuk dirinya agar supaya dimatikan dalam keadaan Islam. Serta beberapa doa untuk para kakek nenek, budhe padhe, om tante dan beberapa orang yang telah pergi serta yang tidak kalah pentingnya ia mendoakan Eyang Demak pula.
Melihat kesucian yang ada di hadapannya, Eyang Demak terenyuh dan mendoakan Dion balik. Bisa dibayangkan doa diatas langit sudah jadi ketentuan yang Maha Adil bahwa doa-doa yang dipanjatkan dari ketulusan bukan tidak mungkin jadi kenyataan. Setelah itu Dion selesai sholat, dan menunggu datangnya sholat Isya sambil menyantap telor ceplok yang dibuatnya sendiri.
“Reyyyy... Sini makan...” panggil Dion pada Rey di ruang makan.
Rey datang dengan gantian baju yang baru “Wuihhh telor, mantep nih.”
“Udah sholat belum lu?” tanya Dion pada adiknya.
Rey hanya terdiam jika ditanya soal sholat. Ya kepribadian Rey memang sediki berbeda jauh dengan dirinya dahulu. Entah mengapa. Yang jelas, Rey masih sangat baik pribadinya saat Ibu masih ada. Dan kini setelah ibu dan ayah tiada, Rey begitu begajulan dan urakan. Sholat juga hanya semaunya, dan seinginnya. Tetapi Dion terus saja membujuk Rey meskipun nanti bujukan baiknya tidak dilaksanakan oleh Rey. Yang penting baginya adalah tugasnya untuk mengingatkan sudah terbayarkan. Rey malah membalas Dion dengan topik yang berbeda “Bang lu ga pengin dapet jodoh, biar di rumah lu diladenin, diayomin, dilayanin...”
“Ga.” Sinis Dion menjawab karena Dion sedikit kecewa bujukannya untuk mengajak Rey sholat tidak dihiraukan Rey dan malah ia mengajak ngobrol dengan topik yang berbeda.
“Idih najis, jawabannya sinis banget.” Rey malah meledek abangnya lagi.
“Ya lagian lu, disuruh sholat sama gue. Diem aje. Jawab kalau lagi ditanya ama abangnya!” kali ini abang Dion marah sungguhan.
“Gue nyuruh lu juga bukan buat gue, buat lu juga Rey...”
“Apa-apa yang baik buat kita, yang gue usahain. Gue kira sholat itu baik buat gue dan buat lu. Makanya, gue rada rewel begini...”
Mendengar itu semua Rey malah berlalu pergi bersama makanannya dan mencueki nasihat abang Dion. Menurut Rey, nasihat-nasihat abang Dion itu seperti nasihat orang tua yang pada kolot. Ia merasa jenuh dengan nasihat yang sama. Menurut Rey juga apa-apa yang dilakukannya sudah dipertimbangkan dengan matang termasuk meninggalkan sholat dan menurutnya itu adalah pilihannya. Meski dari sisi Eyang Demak, sangat teriris melihati Rey begitu terlena dengan kepalsuan dunia yang dirasakannya kini.
Eyang Demak muncul dan memandangi Dion, serta seraya berbicara “Kau jangan patah arang nak, teruslah berjuang agar adikmu berada dalam jalan kebenaran. Ada aku yang insya allah akan selalu ada jika kau perlu bantuan.” Melihat pandangan yang tidak biasa itu. Dion langsung tertunduk karena merasa bersalah sampai-sampai tugas yang seharusnya diselesaikan sendiri harus melibatkan Eyang Demak. Tetapi bagi Eyang Demak, tugas tersebut juga termasuk kedalam tugasnya sebab Eyang Demak sudah mematrikan diri agar membuat cucu-cucu terpilihnya ini selalu dalam jalan-Nya. Dion akhirnya kembali fokus pada makanannya. Dan selang beberapa menit selanjutnya terdengar suara adzan yang menandakan bahwa waktu sholat Isya telah datang dan mewajibkan untuk semua umat Muslim menunaikannya. Lagi-lagi Dion mendatangi Rey dan membujuk Rey agar ikut sholat Isya berjamaah bersamanya di rumah. Tetapi seperti biasa, giliran Rey sekarang yang sinis. Rey begitu merasa muak selalu dinasihati soal agama begitu. Dan ia malah masuk kedalam ruang kamarnya.