Bab 2 | Digrebek Warga

831 Words
"Enggak usah, gue bisa pulang sendiri kok," tolaknya dengan keras. Tanpa peduli dengan penolakan mantan kekasihnya, Romeo tetap bersikeras mengantarkan Zanaya pulang. Walau ia lebih memilih jalan di belakang Zanaya dibandingkan di sampingnya. Saat sedang berjalan, kost tempat Zanaya tinggal pun tidak terlalu jauh lagi. Zanaya dan Romeo mendengar suara tangisan bayi yang sangat keras. "Zan lo denger nggak suara bayi nangis?" tanya Romeo dengan sedikit merinding, bagaimana tidak jika hanya ia saja yang mendengar. Pria itu takutnya itu bukan suara bayi beneran tapi hantu, tapi Romeo sadar ini siang bolong mana ada hantu. "Gue denger," jawab Zanaya singkat yang langsung membuat Romeo tersenyum. Suara tangisan bayinya semakin terdengar jelas, Zanaya yang merasa kasihan jika itu benar-benar bayi. Membuat gadis itu mengajak mantannya mencari tahu di mana bayi itu. Tidak perlu waktu lama, mereka berdua menemukan keranjang bayi yang ada bayi perempuan cantik di dalamnya. Bayi itu sedang menangis. Zanaya hendak menggendong bayi itu agar tidak menangis lagi, tetapi dicegah oleh Romeo. "Jangan macam-macam, Zan. Ini bayi beneran apa bukan? Takutnya setan yang nyamar jadi bayi terus lo diapa-apain' kan bahaya." "Hilih, lo terlalu penakut. Ini itu bayi beneran tau Meo." Dengan sigap Zanaya menggendong bayi itu, ia berusaha menenangkan bayi itu dengan memberikan s**u yang ada di botol susunya. Di keranjang bayi itu memang ada botol susunya. Romeo tersenyum menatap Zanaya yang sangat keibuan sekali saat menggendong bayi itu, bisa dibilang ia jatuh lagi dalam pesona seorang Zanaya Aleyzava Mahardika. Bayi itu sudah tidur, Zanaya menaruh kembali bayinya ke dalam kerajang bayinya. "Kasihan banget ya, bayi sekecil itu harus dibuang sama orang tuanya." Romeo mengangguk setuju, ia juga merasa kasihan padahal bayinya sangat cantik dan lucu. "Terus mau diapain ini bayinya? Mau dibiarin di sini aja? Apa mau lo bawa, Zan." "Gue nggak mungkin tega biarin bayi ini di sini aja, gimana malah ketemu orang jahat. Dibawa juga nggak mungkin, apa kata orang-orang nanti gue pulang kuliah malah bawa bayi." "Gue juga nggak tega, kalau lo nyuruh gue bawa gue nggak mau Zan." "Dianter ke kantor polisi aja, biar polisi cariin keluarganya. Atau nggak nanti biar polisi yang ngatur tuh bayi mau di bawa ke mana," ujar Zanaya memberikan ide. Namun, Romeo langsung menolaknya dengan menggelengkan kepalanya. "Gue nggak mau berurusan sama polisi, gue nggak berani, Zan. Kalau lo mau ke kantor polisi lo aja deh." Zanaya terdiam, ia juga takut sebenarnya jika harus berurusan dengan polisi karena bayi itu. Ia menghela napas panjang. "Gimana kalau kita anterin aja ke panti asuhan?" Romeo berpikir sebentar sebelum akhirnya setuju. "Panti asuhan mana? Lo emang tahu di mana ada panti asuhan terdekat?" Zanaya menggeleng pelan, karena gadis itu memang tidak tahu. "Kita cari aja di google siapa tau ada." Romeo lah yang akhirnya mencari alamat panti asuhan terdekat, setelah beberapa menit mencari mereka akhirnya dapat juga alamatnya. Kedua orang itu sudah fiks untuk pergi ke panti asuhan itu, mereka akan meninggalkan bayi itu di sana. Romeo mengajak Zanaya untuk menaiki mobilnya, agar Zanaya dan bayi itu tidak perlu kepanasan. Demi bayi itu, Zanaya akhirnya setuju untuk naik mobil itu. Romeo mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati sampai di depan panti asuhan yang memang tidak terlalu jauh dari kostnya. Zanaya turun dari mobil sambil menggendong bayi itu, sedangkan keranjang bayinya dibawa oleh Romeo. Romeo melihat sekitar, ternyata sangat sepi begitu juga panti asuhannya juga terlihat sepi. Dengan perasaan sedih, Zanaya meletakan bayi cantik itu di keranjang bayi yang sudah ada di depan pintu panti asuhan. Dengan berat hati, Romeo mengajak Zanaya segera pergi panti asuhan sebelum gadis itu berubah pikiran. Saat hendak pergi, tiba-tiba segerombolan warga datang menghampiri mereka. "Dasar ya kalian pasangan muda, seenaknya buang bayi di panti asuhan. Kalian itu maunya enak doang, pas udah jadi bayi malah dibuang," omel salah satu warga yang berjenis kelamin laki-laki itu. "Iya tuh, anak muda sekarang emang gitu nggak mau bertanggung jawab sama kelakuannya sendiri." Romeo dan Zanaya saling tatap, mereka bingung mengapa jadi mereka berdua yang dituduh sebagai pasangan muda pembuang bayi padahal merekalah yang menemukan bayi itu lantas diantarkan ke panti asuhan. "Kita bawa aja ke kantor polisi, biar kapok nggak sembarangan buang bayi lagi," ujarnya dengan tegas. Romeo tentu tidak mau dibawa ke penjara, apalagi ini memang bukan salahnya. "Maaf, Bapak dan Ibu semua. Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman saya dan teman saya bukan pasangan muda pembuang bayi seperti yang kalian tuduhkan. Kami ini justru yang menemukan bayi itu, lalu kami sengaja datang ke sini untuk menitipkan bayi itu." Tidak semudah itu membuat orang-orang percaya dengan penjelasan Romeo, apalagi sekarang memang sedang maraknya pasang muda yang suka membuang bayi. "Bohong aja kamu, kamu kira kami bisa dengan mudah kamu bohongin. Udah bawa aja ke kantor polisi." *** Zanaya menangis, entah mimpi apa semalam sampai ia harus merasakan perasaan teramat takut seperti sekarang. Memang siapa yang mau di penjara, padahal bukan salahnya. "Teman saya tidak berbohong, apa yang diucapkan oleh teman saya itu kebenarannya, Pak, Bu. Saya perempuan baik-baik, saya nggak mungkin punya anak sebelum menikah. Saya sendiri masih kuliah," ujar Zanaya mencoba menjelaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD