Episode. Tersesat di jalan yang di pilih sendiri

1530 Words
BAB 45 – Tersesat di Jalan yang Dipilih Sendiri Hujan turun perlahan di malam itu. Gerimis yang tak cukup deras untuk membuat orang basah kuyup, tapi cukup untuk membuat langkah kaki terasa berat. Di salah satu ruang kelas lantai tiga yang jarang dipakai, Arka duduk sendiri. Cahaya lampu neon bergetar pelan. Di depannya ada papan tulis yang masih menampilkan sisa tulisan kuliah minggu lalu. Tapi pikirannya bukan di sana. Di tangannya, ponsel berisi pesan dari Saka masih terbuka. Ia membacanya berulang kali. Kata demi kata menampar pikirannya: > “Gue cuma ngelanjutin perjuangan yang kalian mulai. Tapi dengan cara gue.” Ia tak tahu lagi, siapa “kalian” yang dimaksud. Siapa sebenarnya yang sedang melanjutkan, dan siapa yang dijadikan pion? --- Pintu berderit. Rio masuk, memakai jaket hujan yang basah di pundak. Rambutnya meneteskan air ke lantai ubin. “Lu di sini ternyata,” katanya. Arka tak menjawab. “Liora masih nyari data tambahan. Tapi... kayaknya ini udah cukup buat kita meledakkan semuanya,” lanjut Rio, sambil duduk di sebelahnya. “Kalau kita ledakkan, Rio,” kata Arka lirih, “kita juga bakal hancur bareng.” “Lu takut?” Arka menggeleng pelan. “Gue bukan takut. Tapi capek. Dari awal kita cuma pengen jujur, ya kan? Tapi sekarang... kita malah jadi bagian dari narasi yang kita benci.” Rio mengangguk, tapi wajahnya menyimpan kekesalan. “Tapi kalau kita diem, kita juga pengkhianat. Sama kayak mereka.” Arka akhirnya menoleh. “Lu sadar gak? Kita udah mulai bohong juga. Kita sembunyi, kita rekam orang, kita pakai cara belakang. Apa bedanya sama yang kita lawan?” Hening. Hanya suara hujan yang terdengar. --- Liora datang membawa map. Wajahnya pucat, dan ada sisa tangis di mata. Ia menatap Arka dan Rio bergantian. “Gue... baru nemu satu file terakhir di flashdisk itu,” ucapnya pelan. Ia duduk, membuka map itu. Di dalamnya ada print-out—bukti rekening dana organisasi tahun lalu. Tapi yang bikin mereka terkejut bukan jumlah uangnya. Melainkan nama pengirimnya: “Yayasan Pelita Abadi” Sebuah nama yang sangat familiar. Yayasan itu dipakai oleh beberapa dosen untuk mendanai proyek-proyek sosial kampus. Tapi... “Cek deh,” kata Liora sambil menyerahkan lembaran lain, “Yayasan itu ternyata... didirikan sama Saka. Dua tahun setelah dia ‘menghilang’ dari kampus.” Rio menyumpah pelan. “Jadi... semua aliran dana ke organisasi itu bukan donasi... tapi kontrol?” “Dan organisasi kita... udah dari dulu dikendalikan dari belakang,” lanjut Arka. Wajah Liora memucat. “Dan Keyla... cuma simbol. Yang diangkat, dipoles, lalu dijatuhkan kalau udah nggak sesuai tujuan.” --- Malam itu mereka bertiga duduk dalam keheningan. Satu per satu mata rantai mulai terlihat. Dosen pembimbing yang selama ini terlalu netral ternyata salah satu dewan pengawas yayasan. Mahasiswa-mahasiswa ambisius yang naik jabatan cepat ternyata direkomendasikan diam-diam lewat jalur yayasan. Dan semua gerakan mereka... selalu diawasi dari balik cermin. Saka bukan cuma kembali. Dia tidak pernah pergi. Dan mereka kini harus memutuskan: membongkar semua dan menghadapi risiko terbesar dalam hidup mereka, atau... bermain lebih dalam, ikut arus, lalu hancurkan sistem dari dalam. --- Pukul dua dini hari. Mereka masih di ruangan itu. Liora berkata, “Gue udah nggak punya keinginan buat jadi ketua BEM. Tapi kalau kita nyerah sekarang, kita kayak ngasih panggung ke orang-orang yang beneran haus kuasa.” Arka menatap dua sahabatnya. “Kita udah terlalu dalam. Kalau mundur sekarang, semua usaha kita sia-sia.” Rio berdiri, menatap papan tulis. Ia menghapus semua tulisan yang ada, lalu mulai menulis ulang. Satu kalimat besar: “Bermain... sampai sistemnya bingung siapa lawannya.” Ia membalik badan. “Gue setuju. Kita lanjut. Tapi bukan buat balas dendam.” Liora tersenyum pahit. “Tapi buat ngasih pilihan baru. Biar mahasiswa lain tahu, mereka bisa mikir sendiri.” Arka menarik napas panjang. “Oke. Mulai malam ini, kita bukan cuma mahasiswa. Kita jadi pemain. Tapi... kita tetap pegang satu hal—integritas.” Ketiganya saling menatap. Tak ada yang bicara. Tapi satu hal sudah jelas. Pertempuran yang sesungguhnya... baru dimulai. Dan nama Saka Fadillah akan terus menghantui langkah mereka. --- Bab 45 ini membangun fondasi masuk ke wilayah perma inan intelektual dan strategi kampus. Mulai bab selanjutnya, konflik lebih tajam, arah cerita makin dalam. BAB 46 – Wajah Ganda di Balik Panggung Pagi itu langit tidak cerah. Seperti biasa, kampus tetap ramai—meski banyak wajah yang tak menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sebuah pertunjukan besar. Arka berdiri di depan gedung rektorat, mengenakan jaket abu-abu dan ransel yang tampak berat. Di dalamnya ada dokumen, rekaman suara, print-out bukti transaksi. Semua hasil penggalian selama beberapa minggu terakhir. Namun pagi ini bukan tentang publikasi. Pagi ini tentang tawaran. --- Seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh—dan di sana berdiri pria yang dulu menghilang begitu saja dari layar mahasiswa. Saka Fadillah. Kemeja biru tua, senyum kalem, rapi, dan… berbahaya. Ada aura tertentu dari cara dia melipat tangan, menatap seolah ia sudah tahu semua langkah Arka sebelum dilakukan. “Kita ngobrol di dalam aja,” kata Saka, seperti teman lama yang mengajak ngopi. Tanpa banyak kata, Arka mengikutinya masuk ke sebuah ruangan yang tak asing—ruang tamu organisasi mahasiswa. Tempat biasa mereka berdiskusi tentang acara, musyawarah, dan mimpi. Kini jadi tempat interogasi halus. “Lu makin mirip gue waktu dulu, Ka,” ujar Saka, duduk santai sambil menuangkan kopi dari termos sendiri. Arka tidak menanggapi. “Gue tahu semua pergerakan lu. Bahkan sebelum lu tahu bahwa lu lagi bergerak,” lanjut Saka. “Gue gak heran,” jawab Arka datar. “Lu punya akses. Punya alat. Punya orang. Bahkan punya reputasi yang masih diagungkan sebagian mahasiswa.” Saka tersenyum. “Tapi lu lupa satu hal penting. Gue juga punya niat. Dan niat itu… gak jauh beda sama lu.” Arka tertawa kecil, sarkastik. “Beda kita satu: lu kompromi terlalu cepat.” Saka mencondongkan tubuh. Suaranya lebih rendah. “Dan lu naif terlalu lama.” --- Di luar ruangan itu, Rio dan Liora menunggu. Mereka tak bisa masuk, dan memang itu sengaja. Ini pertarungan dua pemikiran yang harus diselesaikan tanpa gangguan. Saka menatap Arka, lalu meletakkan selembar berkas di meja. “Gue kasih lu pilihan. Gabung ke dalam sistem. Bukan buat nyembah, tapi buat ngerti cara kerjanya. Habis itu… lu bisa ubah dari dalam.” Arka menatap berkas itu. Isinya tawaran menjadi pengurus baru di Yayasan Pelita Abadi. Sebuah posisi yang akan membuka semua pintu yang selama ini tertutup rapat. Dan sekaligus menutup pintu hati nurani. “Ini bukan sogokan,” kata Saka cepat-cepat. “Ini... proses.” Arka tak menyentuh berkas itu. Ia hanya memandangi jendela. “Lu tahu gak kenapa dulu gue cabut dari kampus?” tanya Saka tiba-tiba. Arka menoleh. “Katanya mau lanjut studi?” Saka menggeleng. “Itu cuma versi yang disebar. Sebenarnya, gue diancam. Sama mereka yang lebih besar dari sekadar dekan atau rektor. Yang punya saham di kampus. Yang anggap mahasiswa itu ladang suara... dan uang.” Arka terdiam. “Gue ditawarin dua pilihan waktu itu,” lanjut Saka, “ikut… atau hilang.” Saka berdiri, berjalan pelan ke arah papan informasi di sisi ruangan. Ia menepuk poster seminar kampus yang terpajang di sana. “Dan gue milih bertahan. Tapi dengan cara mereka. Karena gue yakin, suatu saat... bakal ada anak muda yang lebih keras kepala, yang bisa terusin ini.” Dia menatap Arka dengan dalam. “Dan itu... lu.” --- Seketika, dunia jadi diam. Bukan karena Saka benar. Tapi karena Arka tahu—di balik setiap idealisme, ada harga. Dan pertanyaannya sekarang bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling tahan saat kebenaran itu diuji. Arka berdiri. “Gue gak bakal tolak tawaran lu. Tapi juga gak bakal nerima.” Saka menaikkan alis. “Maksud lu?” “Gue akan tetap main. Tapi bukan di bawah nama siapa-siapa. Bukan di bawah yayasan. Bukan di bawah sistem. Gue main sendiri. Dan kalau gue kalah, ya gue jatuh. Tapi kalau gue menang... semua ini bakal retak.” Saka menatapnya tajam. Lalu tersenyum. “Kita lihat nanti, Ka.” --- Beberapa hari kemudian... Sebuah selebaran digital mulai beredar di grup mahasiswa: undangan terbuka untuk “Debat Terbuka Mahasiswa vs Pengurus Organisasi”. Diselenggarakan oleh—bukan BEM, bukan senat, bukan yayasan. Tapi oleh: “Gerakan Alternatif Mahasiswa Merdeka (GAMMA)” Logo itu tidak resmi. Tapi nama itu mulai menggerakkan. Dalam waktu tiga hari, akun medsos GAMMA meledak. Bukan karena kampanye yang kuat, tapi karena fakta: semua orang mulai tahu bahwa diam bukan lagi pilihan. Rio jadi koordinator lapangan. Liora urus distribusi konten. Arka? Ia tetap duduk di belakang layar, mengatur narasi, menyusun data, dan memastikan bahwa gerakan ini tidak punya satu wajah saja. Karena jika musuh punya wajah ganda, maka gerakan mereka harus jadi suara yang tidak bisa dibungkam. --- Dan di suatu ruangan kampus yang senyap, Saka membuka ponsel. Ia melihat feed media sosial, melihat nama Arka yang tak pernah muncul terang-terangan, tapi mengatur banyak dari balik bayangan. Ia tersenyum kecil. Lalu berkata pada dirinya sendiri: “Lu baru mulai, Ka. Tapi inget... panggung ini penuh perangkap.” --- Bab 46 ini membuka dimensi baru: bahwa konflik bukan l agi soal individu, tapi struktur dan cara kerja. Arka menolak bergabung, tapi menerima bermain—dengan caranya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD