Episode lanjutan 8-10

963 Words
📖 BAB 8: Perang Dingin dan Luka Lama Setelah pesan itu, suasana antara Alesha dan Daven berubah drastis. Mereka mulai jarang bicara, tapi setiap kali bertemu, tatapan mereka seperti medan perang yang siap meledak. --- Suatu hari di kampus, Alesha duduk di taman, sedang asyik baca buku. Tiba-tiba, Daven duduk di bangku sebelah tanpa izin. Daven pelan, “Kita harus bicara, Alesha.” Alesha angkat kepala, tatap dingin, “Apa? Lo mau ngajak perang dingin?” Daven tertawa kecil, “Bukan itu. Gue pengen jujur sama lo.” Alesha ragu, “Jujur apa?” Daven tarik napas panjang, “Gue gak selalu jadi playboy kayak sekarang. Dulu gue pernah terluka banget... Karena seseorang yang gue percaya malah nyakitin gue.” Alesha terdiam. Suasana mendadak sunyi. Daven lanjut, “Mungkin sikap gue selama ini cuma cara gue buat lindungin diri. Gue takut jatuh dan disakiti lagi.” Alesha pelan, “Jadi selama ini... lo berperang dengan bayangan masa lalu?” Daven mengangguk, “Iya. Dan mungkin tanpa sadar gue bikin lo jadi korban.” Alesha tersenyum kecil, “Kalau begitu, kenapa gak bilang dari dulu?” Daven tatap dia dengan serius, “Karena gue gak yakin lo mau denger.” --- Mereka berdua diam, tapi hati mulai merangkak lebih dekat. --- Kutipan Bab Ini: > “Terkadang, orang yang paling ke ras adalah yang paling terluka di dalam.” 📖 BAB 9: Ketika Dendam Bertemu Harapan Pagi itu, udara kampus terasa berbeda. Keramaian biasa berubah menjadi latar yang sunyi untuk dua orang yang sedang berjuang melawan rasa mereka sendiri. Alesha dan Daven berjalan berdampingan menuju kelas, tapi bukan seperti biasanya. Kali ini, mereka membawa beban dan harapan sekaligus. Daven memecah keheningan, suaranya agak berat. “Alesha, gue tau selama ini gue banyak bikin lo sakit. Gue juga tau gue sering ngelakuin hal yang gak lo suka. Tapi gue pengin lo tau, gue bener-bener pengin berubah.” Alesha menatapnya, tatapan itu penuh perasaan campur aduk antara sakit dan ragu. “Lo serius, Dav? Lo pengin berubah? Setelah semua yang lo lakuin, gue masih harus percaya?” Daven mengangguk pelan, “Gue ngerti kalo gue susah dipercaya. Tapi gue gak mau terus-terusan kayak gini. Gue pengin kita bisa mulai dari nol.” Alesha tarik napas dalam, mencoba menenangkan hati yang kacau. “Mulai dari nol... Gue pengin juga, tapi gimana caranya? Lo dan gue udah kayak musuh yang gak pernah bisa akur.” Daven tersenyum kecil, “Mungkin karena kita terlalu sibuk nyalahin masa lalu. Padahal masa depan masih panjang, dan gue pengin kita isi itu bersama.” Alesha tersenyum tipis, “Gue gak yakin bisa gampang buat ngelupain semua luka.” Daven meletakkan tangan di bahu Alesha dengan lembut, “Gue juga gak janji semua bakal langsung baik. Tapi gue janji bakal coba sekuat tenaga.” Alesha menatap mata Daven lebih dalam, mulai merasakan getar yang dulu pernah dia rasakan. “Kalau lo beneran serius, gue kasih lo kesempatan. Tapi lo harus buktiin, bukan cuma omongan doang.” Daven tertawa pelan, “Gue seneng dengar itu. Janji, gue gak bakal nyakitin lo lagi.” Mereka masuk ke kelas, tapi dalam hati keduanya, ada benih harapan yang mulai tumbuh. --- Kutipan Bab Ini: > “Ketika dendam bertemu harapan, sebuah cerita baru pun dimulai.” 📖 BAB 10: Titik Balik dan Keberanian Malam itu, suasana kampus sudah mulai sepi. Lampu jalan memantulkan bayangan panjang di atas trotoar yang sedikit basah karena hujan sore tadi. Alesha berdiri di depan pintu ruang seminar, napasnya berat, dadanya sesak. Hatinya berdebar luar biasa, campuran antara takut, ragu, dan harapan yang tiba-tiba muncul tanpa ia duga. Dia mengangkat tangan, mengetuk pintu perlahan, kemudian membuka pintu itu dan melangkah masuk. Di dalam, Daven sudah menunggu, duduk di kursi dengan tatapan serius dan sedikit gugup. Mata mereka bertemu, dan dunia seperti berhenti berputar selama beberapa detik. Daven bangkit, melangkah pelan mendekat. "Alesha," katanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, "terima kasih sudah datang. Aku tahu ini gak mudah buat kamu." Alesha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku di sini bukan cuma buat kamu, Daven. Aku di sini juga buat aku sendiri. Buat buktiin kalau aku bisa lepas dari semua masa lalu yang nyakitin, dari semua luka yang selama ini aku pendam, dari semua dendam yang bikin aku gak bisa tidur nyenyak." Daven mengangguk, suara dan wajahnya serius, penuh penyesalan yang tulus. "Aku ngerti, Alesha. Aku tau selama ini aku banyak bikin kamu sakit. Aku tau aku banyak ngelakuin hal yang gak seharusnya, dan aku gak punya alasan yang bisa bikin kamu maafin aku begitu saja. Tapi aku pengin kamu tahu, aku gak pernah berhenti mikirin kamu, dan aku pengin berubah. Aku pengin jadi orang yang lebih baik, bukan buat aku aja, tapi buat kamu." Alesha menatap mata Daven lebih dalam, air mata hampir tumpah, tapi dia berusaha keras menahannya. "Aku gak bilang ini gampang, Daven. Aku gak bilang aku bakal langsung percaya. Semua yang terjadi di antara kita terlalu berat, terlalu rumit. Tapi aku gak mau terus-terusan terjebak dalam kebencian dan dendam. Aku juga pengin bebas, pengin bahagia, meskipun itu berarti aku harus nyerahin sebagian dari rasa sakit ini." Daven mengulurkan tangan, "Beri aku kesempatan, Alesha. Biar aku buktiin kalau aku serius, dan kita bisa mulai dari nol, bersama-sama." Alesha menatap tangan itu sejenak, lalu perlahan menggenggamnya. "Kalau kamu beneran mau berubah, aku siap ngasih kesempatan itu. Tapi jangan main-main, Daven. Aku gak mau lagi jadi korban." Mereka berdiri di sana, saling menggenggam tangan, seperti dua orang yang sudah lelah bertarung sendiri-sendiri dan akhirnya memilih untuk bertarung bersama. Daven tersenyum kecil, "Ini awal yang baru, kan?" Alesha mengangguk, "Iya, ini awal yang baru." --- Kutipan Bab Ini: > “Kadang, keberanian terbesar adalah memulai kembali dari titik paling rendah. Tapi memulai itu berarti berani mem buka luka lama untuk sembuh.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD