BAB 39 – Jejak Pengkhianatan
Pagi itu, suasana kampus terasa berbeda. Udara seolah lebih berat, penuh dengan bisik-bisik yang sulit didengar dengan jelas. Arka dan Liora berjalan melewati koridor utama, tapi tatapan dingin dan penuh waspada dari beberapa mahasiswa membuat langkah mereka terasa semakin berat. Mereka tahu, musuh tak hanya dari luar, tapi juga dari dalam — orang-orang yang dulu dipercaya kini mulai berubah menjadi bayangan gelap yang mengintai dari belakang.
Liora menggenggam erat tasnya, mencoba menahan rasa gelisah yang menggerogoti hati. "Arka, aku punya firasat buruk hari ini," ujarnya pelan, suara yang hampir tenggelam oleh hiruk-pikuk mahasiswa di sekeliling mereka. Arka hanya mengangguk, matanya menatap jauh ke depan, seolah mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik keramaian itu.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Arka. Sebuah foto tersembunyi, memperlihatkan pertemuan rahasia antara seseorang yang mereka kenal dengan sosok misterius. Dari ekspresi wajah itu, jelas ada sesuatu yang disembunyikan — pengkhianatan yang mengintai.
“Liora, kita nggak bisa percaya sama semua orang di sini,” kata Arka dengan nada tegas. “Aku rasa salah satu teman dekat kita sudah berbalik dan menjadi kaki tangan mereka.”
Liora menatap Arka dengan mata penuh kekhawatiran, “Tapi siapa? Kita nggak punya bukti kuat selain firasat dan foto itu.”
Perlahan mereka mulai menyusun strategi. Mereka harus menyelidiki lebih dalam, mencari tahu siapa dalang di balik semua kekacauan ini. Di antara tatapan curiga dan bisik-bisik, mereka berdua mulai merajut kembali kepingan-kepingan yang hilang.
Sementara itu, di sebuah ruangan tersembunyi di balik perpustakaan kampus, seorang pria dengan senyum dingin mengawasi perkembangan situasi. Ia menikmati permainan ini—membiarkan Arka dan Liora terus berjuang di medan perang emosional dan psikologis yang sudah ia persiapkan dengan matang.
"Biarkan mereka berlari mengejar bayangan," gumam pria itu, suara penuh kepuasan. "Kita sudah menang sebelum permainan ini benar-benar dimulai."
Ketegangan semakin memuncak ketika Arka dan Liora menemukan surat elektronik berisi ancaman terselubung, yang menegaskan bahwa pengkhianat itu semakin dekat. Mereka harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat.
Bab ini membawa pembaca masuk ke dalam pusaran konflik yang semakin rumit, dengan elemen pengkhianatan dan ketidakpercayaan yang menguji kesetiaan dan cinta mereka. Drama kampus yang tadinya hanya soal asmara dan dendam kini berubah menjadi pertarungan psikologis yang menegangkan, menuntut kecerdikan dan keberanian le
bih dari sebelumnya.
BAB 40 – Pertemuan Rahasia
Malam itu kampus seperti berubah wujud. Bangunan megah yang biasa dipenuhi tawa dan obrolan mahasiswa kini sunyi, hanya diterangi lampu-lampu taman yang temaram. Langit mendung menggantung rendah, seolah ikut menyembunyikan sesuatu. Di antara bayang-bayang itu, Arka berjalan cepat, menyusuri lorong belakang gedung fakultas.
Ia tahu seseorang menunggunya. Seseorang yang katanya tahu “kebenaran sebenarnya”.
Langkahnya berhenti di depan ruang kuliah kosong yang sudah tak dipakai. Pintu kayu tua itu sedikit terbuka, cukup untuk menyiratkan bahwa sang pengirim pesan telah tiba lebih dulu.
Arka menelan ludah. Ia tak membawa siapa-siapa malam ini, bahkan Liora tak ia beri tahu. Ia tak ingin menaruhnya dalam risiko sebelum ia tahu siapa yang sebenarnya mereka hadapi.
Saat ia mendorong pintu perlahan, terdengar suara khas kursi kayu bergeser.
“Sendirian?” tanya sosok di dalam ruangan.
“Ya,” jawab Arka datar. “Kamu yang kirim email itu?”
Sosok itu melangkah ke cahaya. Rambutnya gondrong, wajahnya pucat, tapi matanya tajam — seperti mata orang yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia. Namanya Bram, mahasiswa tingkat akhir yang dulu sempat aktif di organisasi kampus, lalu menghilang begitu saja dua semester lalu.
“Aku tahu apa yang kamu dan Liora cari,” kata Bram pelan. “Dan aku juga tahu siapa yang main belakang selama ini.”
Arka mengernyit. “Siapa?”
Bram mengangkat secarik foto dari map lusuh yang ia bawa. “Dia. Dulu dia teman gue. Sekarang? Boneka dari kelompok bayangan itu.”
Arka menatap lekat foto itu. Napasnya tercekat.
Nama di bawah foto itu membuat seluruh tubuhnya menegang: Keyla Indrawan.
Keyla, teman seangkatan mereka. Ceria, pintar, dan… dulunya dekat dengan Liora. Tapi selama ini Keyla memang sering tiba-tiba menghilang, kadang terlalu tahu banyak hal yang seharusnya rahasia.
“Gue nggak percaya,” ucap Arka.
“Lu boleh nggak percaya,” kata Bram. “Tapi kelompok yang dia kerja untuk mereka itu bukan organisasi main-main. Mereka udah lama bergerak di balik layar kampus. Beasiswa, proyek dosen, bahkan perebutan jabatan organisasi — semua dikendalikan dari balik tirai.”
Arka menarik napas dalam. Ini terlalu besar untuk sekadar drama kampus. Tapi semua mulai masuk akal. Laporan yang mendadak hilang, kamera keamanan yang “rusak” saat kejadian penting, informasi bocor... semua punya pola.
“Lu pikir mereka cuma mainin uang?” lanjut Bram. “Nggak. Mereka juga mainin orang. Perasaan. Cinta.”
Kalimat terakhir itu membuat Arka langsung teringat Liora. Ia menggenggam tangannya.
Bram melanjutkan, “Lu harus hati-hati. Lu udah masuk ke dalam permainan mereka. Dan sekarang, Liora targetnya.”
Seketika darah Arka mendidih. “Apa yang mereka mau dari Liora?”
“Bukan Liora secara langsung,” kata Bram. “Tapi efek yang bisa mereka ciptakan lewat dia. Liora punya koneksi. Ayahnya pejabat. Kakaknya pengusaha besar. Dan kamu... kamu si anak jalanan yang berhasil naik. Kalian pasangan ideal untuk dijatuhkan di depan publik.”
Arka merasakan jantungnya berdetak makin cepat. Ia tahu drama ini sudah berubah menjadi medan pertempuran yang melibatkan kekuasaan dan manipulasi besar-besaran. Bukan lagi tentang cinta. Tapi tentang bagaimana cinta bisa digunakan sebagai s*****a.
“Aku akan jaga Liora,” kata Arka mantap. “Dan aku akan jatuhin kelompok itu. Satu per satu.”
Bram menatap Arka, lalu menyodorkan sebuah USB kecil. “Ini. Bukti awal. Rekaman dari ruang rapat rahasia. Jaga baik-baik. Jangan bawa ke kampus. Jangan buka di jaringan kampus. Mereka bisa melacak semuanya.”
Arka menerima USB itu dan menyimpannya dalam saku dalam jaket.
“Terima kasih,” katanya. “Lu nggak ikut lawan mereka?”
Bram tersenyum tipis. “Gue udah kalah duluan. Tapi lu masih bisa menang.”
Sebelum Arka sempat bertanya lebih jauh, Bram sudah berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Arka sendiri dalam ruangan yang perlahan kembali tenggelam dalam bayangan.
---
Keesokan harinya, Liora merasakan ada yang aneh dari Arka. Tatapannya lebih tajam, sikapnya lebih tenang tapi siaga. Di sela-sela kelas, ia menarik tangan Arka dan membawanya ke balkon kecil di lantai tiga.
“Lu abis ketemu siapa semalam?” tanya Liora cepat. “Gue tahu lu sembunyiin sesuatu.”
Arka menatap mata Liora. “Gue cuma mau jaga lu, Liora.”
Liora menggeleng. “Kalau lu nyembunyiin sesuatu dari gue, itu bukan jaga. Itu ninggalin.”
Arka diam. Tapi akhirnya menyerah. Ia keluarkan USB dari saku, dan menyerahkannya.
“Gue nggak tahu lu siap atau nggak, tapi semuanya ada di sini. Tentang kelompok bayangan itu. Tentang Keyla. Dan tentang kenapa lu sekarang jadi target.”
Liora memandang USB itu, lalu kembali menatap Arka.
“Aku siap,” katanya tegas. “Karena kalau mereka mau jatuhin kita, kita harus lebih dulu berdiri lebih tinggi dari yang mereka kira.”
---
Bab ini menjadi titik balik cerita. Dari drama percintaan penuh konflik dan cemburu, kini berubah menjadi permainan kekuasaan dan skandal besar di balik kampus modern fiksi. Arka dan Liora, yang tadinya hanya dua anak muda
biasa, kini terlibat dalam permainan yang lebih besar dari cinta dan dendam.
---