tiga pria tampan

1104 Words
Pagi hari di rumah sakit X di kota Bandung. "yah, Bagaimana keadaan Adel? apa dia bahagia atau tidak dengan keluarga barunya? Ibu khawatir yah, ibu takut Adel diperlakukan tidak baik oleh keluarga Wijaya." Yadi tersenyum simpul, perkataan istrinya benar. Yadi dan juga Niken tidak mengetahui bagaimana sikap asli keluarga Wijaya, terlintas di hati kecil yadi untuk mengambil Adel kembali namun itu tidak mungkin adalah sudah menikah dengan arsen meskipun itu baru pernikahan agama namun pernikahan bukan sebuah ajang permainan jadi Yadi tidak bisa melakukan apapun. "Bu Percayalah kepada Allah, adel anak yang baik dan dia juga masih sangat polos, keluarga Wijaya pasti akan menyayanginya apalagi keluarga itu tidak memiliki anak perempuan Insya Allah mereka akan menyayangi Adel seperti anaknya sendiri." Niken mengangguk, sebagai seorang ibu wajar kalau niken merasa khawatir. Niken hanya bisa terus berharap kepada Adel akan baik-baik saja dengan keluarga barunya itu. "Ayah, kenapa kita tidak menelpon Denis dan memintanya untuk menjenguk adel sesekali yah." Niken menatap suaminya penuh harap, Bandung Jakarta memang tidak terlalu jauh namun tetap saja tidak mungkin bagi Niken atau pun yadi untuk bisa selama menjenguk adel. "Baiklah Bu, ayah akan menelpon Denis. sekarang ibu makan dulu ya." Niken mengangguk, dia makan dengan sangat lahap agar Yadi bisa segera menghubungi anak pertama mereka yaitu Denis. Adel adalah anak perempuan mereka satu-satunya, jadi Niken selalu merasa khawatir kalau adel jauh dari jangkauannya. Setelah makanan Niken habis, yadi bergegas untuk menelpon Denis. semoga saja anak sulung Mereka tidak sedang pergi bermain, ini akhir pekan Denis adalah anak yang sangat suka outbond akan sangat sulit bagi jadi untuk menghubungi denis di akhir pekan. Yadi menempelkan ponselnya ke telinga, pria paruh baya itu sesekali menoleh seorang istrinya. Yadi tersenyum, "belum di angkat bu." ucap ya di tanpa suara. Niken menggangguk, "Tunggu saja." jawabnya juga tanpa suara. "halo nak, apa kabar?" " Alhamdulillah baik yah, ada apa Ayah tumben menelpon Denis pagi-pagi? ibu dan ayah baik-baik saja bukan?" Suara Denis Terdengar sangat khawatir, Yadi segera menganggukkan kepalanya. padahal Denis sudah pasti tidak akan bisa melihat anggukan yang tadi yadi berikan. "Iya nak, kami semua baik-baik saja Ibu juga sudah mulai membaik. Ayah hanya ingin minta tolong kepada denis, kalau sempat tolong tengok adel ya sesekali, kalau kamu ada waktu. Waktu itu kamu tidak datang ke pernikahan Adel, sekarang boleh ya kalau Ibu dan Ayah minta tolong seperti ini." "Iya Ayah kalau urusan itu tidak usah khawatir, Denis akan menengok Adel Kalau Dennis ada waktu, nanti Denis telepon Adel untuk menanyakan alamat rumahnya. "baiklah nak terima kasih, kalau begitu kamu baik-baiklah di sana Jaga kesehatan jangan terlalu di forsir Kalau bekerja." "Iya Ayah, Denis tutup dulu teleponnya Denis masih ada pekerjaan tambahan dari kantor." Yadi menutup panggilan telepon yang lalu menoleh ke arah Niken sembari tersenyum, "Ibu tidak usah khawatir, Denis sudah berjanji akan menengok adel kalau ada waktu." "Adel sedang apa ya, yah? dia itu belum bisa apa-apa, masak mie saja masih suka kematengan Apalagi kalau yang lain." "Hatchuuuh." Adel menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal. "Nona Adel Nona sedang apa?" tanya Mbok Sumi keheranan melihat Adel yang sedang asyik membuat sesuatu di meja dapur. "Adel sedang masak telur ceplok Mbok, tapi kenapa malah gosong begini." Adel menunjukkan beberapa telur ceplok yang keadaannya terlihat sangat mengenaskan, Mbok Sumi menahan senyum melihat kelakuan adel. bisa-bisanya anak gadis tidak bisa membuat telur ceplok, Kalau di kampung Bu Sumi gadis usia Adel sudah pada menikah bahkan ada yang sudah punya anak Jadi mereka juga sudah Mandiri dan bisa melakukan berbagai hal. "Non Adel kenapa membuat telur ceplok? Bi Sumi kan sudah masak untuk sarapan, di meja makan sudah penuh itu berbagai macam lauk dan juga s**u untuk non." "hehe, Adel tidak bisa kalau tidak makan telur ceplok pas sarapan bi, Adel mah mending Makan sama telur ceplok kecap sama kerupuk, daripada makanan yang mewah, adel tidak biasa." Bi sumi kembali tersenyum, "Ya sudah, Biar mbok Sumi saja yang buatkan telur ceplok untuk non Adel. sekarang non tunggu saja di meja makan, ibu dan bapak sudah menunggu." Adel menggangguk, dia memberikan teflon berisi telur ceplok yang gosong kepada Mbok Sumi. setelah itu adel pergi ke meja makan untuk berkumpul dengan yang lain. "Adel, Kamu sudah bangun toh? Ibu pikir kamu masih di kamar, Bagaimana dengan arsen, apa burungnya jantan?" Adel yang mendengarnya mengerutkan keningnya bingung. burung? Jantan? Burung apa yang jantan? Memangnya arsen punya burung peliharaan ya? tapi adel belum pernah melihatnya. Ayah Wijaya menahan tawa melihat ekspresi kebingungan dari wajah menantunya, Riani Memang agak bar-bar. mulutnya sangat lemes sampai-sampai dia tidak bisa membedakan, mana yang boleh di bicarakan dan mana yang tidak. "Sudahlah Bu ajak Adel duduk, ini sudah waktunya sarapan. ini akhir pekan biarkan Adel makan dulu, siapa tahu Adel mau pergi main dengan arsen." ujar Ayah Wijaya kepada Riani. Riani tersenyum kemudian menuntun Adel untuk duduk, tak lama setelah itu suara derap langkah kaki dari arah tangga terdengar oleh semua orang. tiga pria tampan muncul di depan adel, membuat Gadis itu tidak bisa mengalihkan pandangannya. dua di antara 3 laki-laki itu sudah Adel kenali, namun yang satu adel baru melihatnya. siapa dia, kenapa dia juga sangat tampan, Andai adel bisa poligami Dia pasti sudah akan menikahi tiga pria di depannya. "Kenapa anak Mbok Sumi ada di sini?" Ken bertanya dengan wajah datarnya. arsen menahan senyum mendengar ucapan Ken, adiknya itu selalu out of the box kalau menilai orang. Riani melempar sendok ke kepala ken, ken langsung menghindar ketika sendok itu hampir mengenai kepalanya. "hati-hati kalau berbicara Ken, ini istri Kakak kamu dia kakak ipar kamu namanya Adel." Ken hanya mengangguk tanpa mau melirik ke arah Adel, laki-laki itu ternyata lebih cuek dan lebih dingin dari pada arsen. Adel harus hati-hati jangan sampai di terlibat masalah dengan orang-orang ini. Lain dengan arsen dan ke, lain lagi dengan Reno. dia malah tersenyum sembari memandangi Adel, menurutnya Adel sangat cantik dan sangat manis. Reno jarang menemukan kecantikan seperti ini di Jakarta, Adel terlihat sangat menggemaskan dan Natural. "Hai Kakak ipar, aku Reno." ucap Reno mengeluarkan tangannya. Adel terasenyum bahagia, dia menerima uluran tangan Reno. "aku Adel, Jangan panggil aku kakak aku masih 17 tahun aku bahkan belum lulus SMA." Reno dan Ken membulatkan matanya, mereka pikir adel masih anak SMP. tadinya Reno ingin memarahi Ayah dan juga ibunya karena hal ini, Namun ternyata adel sudah agak dewasa. "Wah Kebetulan sekali, aku juga masih 17 tahun masih belum lulus SMA sama sepertimu." Adel kembali tersenyum sumringah, alangkah senangnya adel menemukan teman untuk mengobrol. dia sudah negatif thinking karena berpikir jika Reno juga akan sama dengan ke dua kakaknya yang lain, namun ternyata dia salah. "Adel akan sekolah denganmu Reno." bicara Riani membuat semua orang menatap ke arahnya kecuali Wijaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD